Skip to main content

    Pada 25 Agustus 2017, lebih dari 700.000 warga Rohingya melarikan diri dari penganiayaan sistematis di Myanmar ke distrik Cox's Bazar di Bangladesh tenggara. Para pengungsi Rohingya tiba di kamp pengungsian dalam kondisi kelaparan, terluka dan trauma. 

    Doctors Without Borders mendapati kisah-kisah mengerikan tentang rumah dan desa yang diratakan dengan tanah, beberapa dengan keluarga yang tak berdaya di rumah mereka. Wanita dan anak perempuan diperkosa, anak-anak dipukuli sampai mati. Pria dan anak lelaki ditangkap lalu dieksekusi di depan anggota keluarga. 

    Animation about the enduring plight of the Rohingya

    Seniman Inggris Richard Swarbrick (@rikkileaks) ditugaskan oleh Doctors Without Borders untuk membuat animasi rotoskop tentang penderitaan abadi Rohingya.

    Militer datang ke bagian kota kami sekitar jam 6 sore dan berkata: 'Tinggalkan desa sebelum jam 8 pagi besok. Siapapun yang tinggal akan dibunuh.
    Pasien Rohingya MSF berusia 61 tahun

    Sekarang, hampir satu juta pengungsi Rohingya tinggal di Cox's Bazar. Mereka berdesakan di lahan sepanjang 26 kilometer, di tempat yang kini menjadi kamp pengungsian terbesar di dunia, menggenggam harapan samar untuk masa depan yang lebih baik. 

    Para pengungsi Rohingya di Bangladesh hidup dalam ketidakpastian, tanpa pendidikan formal, kesempatan kerja dan jalan pulang ke negara asal mereka. Fasilitas penting seperti toilet dan distribusi makanan semuanya bersifat komunal, dengan antrean dalam kelompok besar untuk mengakses layanan dasar ini, termasuk air dan sanitasi.

    Ketidakpastian hidup mereka makin memburuk saja dengan adanya pandemi COVID-19, membatasi kebebasan mereka yang sudah terkekang dan akses ke perawatan kesehatan yang menyelamatkan jiwa. 

    An injured Rohingya boy sits on his bed at MSF's medical facility in Kutupalon

    Seorang bocah Rohingya yang terluka duduk di tempat tidurnya di fasilitas medis Doctors Without Borders di Kutupalong. © Antonio Faccilongo / MSF

    @rikkileaks OCA commissioned British artist Richard Swarbrick to create a rotoscope animation about the enduring plight of the Rohingya

    Seniman Inggris Richard Swarbrick (@rikkileaks) ditugaskan oleh Doctors Without Borders untuk membuat animasi rotoskop tentang penderitaan abadi Rohingya.

    Rohingya refugee camp

    "Jalan besar" membentang di sepanjang kamp besar di Distrik Cox's Bazar, tempat tinggal lebih dari 600.000 orang. © Vincenzo Livieri / MSF

    Kami hidup di penjara terbuka. Kehidupan seorang pengungsi itu seperti neraka, dan setiap hari sama saja. Terkadang saya menggigit diri sendiri untuk melihat apakah saya bisa merasakan sesuatu dan saya telah mencoba bunuh diri.
    Faruk, pengungsi Rohingya

    Pada Mei 2020, pemerintah Bangladesh mulai menempatkan pengungsi Rohingya yang diselamatkan dari laut ke Bhasan Char, sekitar 30 kilometer dari daratan. Hingga saat ini, lebih dari 3.000 orang dari Cox's Bazar telah dipindahkan ke pulau kontroversial tersebut, sebuah jalur berlumpur yang tidak ada dua dekade lalu dan terletak di wilayah tempat sekitar 700.000 orang tewas akibat badai dalam 50 tahun terakhir. Kemungkinan akan lebih banyak warga Rohingya yang akan segera direlokasi setelah pihak berwenang mengklaim pulau itu diperkirakan memiliki kapasitas untuk menampung 100.000 orang. Organisasi kemanusiaan independen belum mendapatkan akses ke lokasi tersebut, menambah alasan kekhawatiran tentang kondisi kehidupan mereka. 

    Happiness for the opening of water faucet.

    Kebahagiaan membuka keran air. © Vincenzo Livieri / MSF

    A registered refugee from Nayapara camp, Cox’s Bazar

    Faruk (bukan nama sebenarnya) adalah pengungsi terdaftar dari kamp Nayapara, Cox’s Bazar. © Farah Tanjee

    Rohingya refugees in Kutupalong megacamp

    "Sulit merencanakan masa depan anak-anak kami," pengungsi Rohingya Bibi Jan duduk di warung teh bersama putranya yang berusia lima tahun, Fayezorahman, di kamp raksasa Kutupalong. @ Dalila Mahdawi

    Bagi ratusan ribu pengungsi Rohingya di Bangladesh, situasinya terasa tak ada harapan, karena mereka terus hidup dalam kesesakan, kondisi seadanya, menghadapi wabah penyakit, dan berjuang dengan trauma atas semua yang mereka alami. 

    Doctors Without Borders Merespons Krisis Rohingya 

    Bangladesh

    Sejak 1985, Doctors Without Borders telah hadir di ibu kota Dhaka dan Cox's Bazar di Bangladesh. 

    Doctors Without Borders secara besar-besaran menambah kapasitasnya untuk merespons krisis pengungsi Rohingya menyusul masuknya Rohingya di Bangladesh dan melancarkan tanggap darurat besar di daerah Cox's Bazar. 

    Dalam enam bulan pertama krisis Rohingya saja, Doctors Without Borders merawat lebih dari 350.000 pasien, termasuk korban pemerkosaan, orang dengan luka tembak, serta kekurangan gizi akut yang parah. Ada wabah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin dan penyakit-penyakit terlupakan di kamp-kamp pengungsian. 

    Doctors Without Borders juga menyediakan perawatan kebidanan dan perawatan mental, termasuk konsultasi kesehatan mental individu bagi para penyintas kekerasan seksual dan berbasis gender. 

    Map detailing the MSF response in Bangladesh, with specific COVID–19 treatment centres.

    Peta yang merinci respons Doctors Without Borders di Bangladesh, dengan pusat perawatan khusus COVID-19. © Daniella Ritzau-Reid

    Saat COVID-19 melanda seluruh dunia, Doctors Without Borders dengan cepat meningkatkan fasilitas di seluruh distrik, sementara kami telah meluncurkan pelatihan khusus bagi semua staf untuk membantu mencegah penyebaran COVID-19 dan mengelola perawatan pasien yang terinfeksi. 

    Anjuran kesehatan dunia untuk COVID-19 praktis mustahil diterapkan di dalam kamp. 

    Tindakan pembatasan sosial tidak realistis ketika orang tinggal di tempat penampungan yang penuh sesak dan rapuh. 

    Malaysia 

    Untuk menjawab kesenjangan layanan bagi kelompok rentan ini, Doctors Without Borders telah menyediakan perawatan kesehatan, edukasi kesehatan, dukungan psikososial, dan konseling kesehatan mental melalui klinik keliling berbasis komunitas serta klinik permanen di Penang. Doctors Without Borders mengadvokasi peningkatan perlindungan bagi pengungsi dan merujuk kasus-kasus rentan ke UNHCR untuk menilai situasi mereka. 

    Klinik Doctors Without Borders di Butterworth merawat hingga 1.000 pasien setiap bulan. Rohingya dan pengungsi lainnya dihadapkan pada berbagai hambatan untuk mengakses layanan kesehatan umum dan seringkali bergantung pada penyediaan layanan kesehatan oleh Doctors Without Borders dan LSM lainnya. Pengungsi membayar harga yang jauh lebih tinggi daripada penduduk lokal dalam sistem publik, meskipun ada diskon sesuai tarif orang asing bagi mereka yang memiliki kartu UNHCR. Mereka yang tidak memiliki dokumen berisiko ditangkap dan ditahan sesuai Surat Edaran 10/2001, yang mewajibkan penyedia layanan kesehatan untuk melaporkan orang-orang tanpa dokumen, memaksa mereka menunda mencari perawatan kesehatan dari RS. 

    Pasien yang mencari perawatan di klinik Doctors Without Borders termasuk wanita hamil yang membutuhkan perawatan ante-natal (ante-natal care/ANC), atau pasien dengan penyakit tak menular seperti diabetes, yang bergantung pada persediaan obat rutin yang tak dapat mereka akses melalui sistem publik. Doctors Without Borders juga melihat banyak korban kecelakaan kerja, karena warga Rohingya sering bekerja di perekonomian pasar gelap, membuat mereka terpapar eksploitasi, jeratan hutang, dan kecelakaan kerja. 

    Doctors Without Borders menjalin hubungan erat dengan RS umum dan klinik lokal di Penang. Selain rujukan kesehatan, Doctors Without Borders menyelenggarakan lokakarya untuk membahas konteks pengungsi di Malaysia. Petugas kesehatan setempat disadarkan tentang penderitaan pengungsi Rohingya setelah mengalami kekerasan di Myanmar, dan bagaimana ini dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental mereka. 

    Bekerja sama dengan MERCY Malaysia dan Perhimpunan SUKA, Doctors Without Borders menyediakan perawatan kesehatan di pusat pehanan imigrasi masing-masing di Belantik dan Juru. Doctors Without Borders menjalankan klinik keliling bulanan serta memperbaiki sistem air dan sanitasi di pusat-pusat ini, di mana banyak pencari suaka dan imigran tanpa dokumen ditahan. 

    Pandemi COVID-19 semakin memperumit akses ke perawatan kesehatan dan perlindungan bagi pengungsi serta pencari suaka. Sentimen anti-pengungsi serta penggerebekan imigrasi telah meningkatkan ketakutan di komunitas ini dan mendorong mereka untuk bersembunyi lebih jauh. Di tengah pandemi COVID-19, Doctors Without Borders menambah dukungannya dengan mendistribusikan makanan dan perlengkapan kebersihan, serta edukasi kesehatan COVID-19 dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Rohingya dan Burma. Bekerja sama dengan R-vision, jaringan berita daring Rohingya dengan cakupan global, misi tersebut membuat kampanye promosi kesehatan COVID-19 yang diterima dengan baik oleh puluhan ribu warga Rohingya di seluruh dunia. 

    Di Negara Bagian Rakhine, Myanmar 

    Doctors Without Borders saat ini memberikan perawatan kesehatan untuk kelompok minoritas Muslim Rohingya dan Kaman di empat kamp pengungsian di Rakhine tengah, dan juga di Sittwe. Ini dilakukan melalui pekerjaan penjangkauan kesehatan dan klinik keliling. 

    Pelajari lebih lanjut

    Siapakah warga Rohingya?

    Warga Rohingya adalah orang-orang dari negara bagian Rakhine, Myanmar, yang berbatasan dengan Bangladesh di utara. Mereka sebagian besar adalah Muslim, yang telah tinggal di negara berpenduduk mayoritas Buddha selama berabad-abad. Pihak berwenang Myanmar membantah hal ini dan menyatakan mereka sebagai imigran gelap dari Bangladesh. 

    Sebelum tindakan keras militer pada Agustus 2017, sekitar 1,1 juta warga Rohingya tinggal di negara itu. 

    Sasaran Kekerasan 

    Ratusan ribu warga Rohingya melarikan diri setelah pemerintah Myanmar meningkatkan tindakan militer terhadap mereka, sebagai pembalasan atas serangan yang diklaim oleh Pasukan Pembebasan Arakan Rohingya pada 2017. 

    Warga Rohingya melakukan perjalanan ke Cox's Bazar dengan berjalan kaki, menggunakan perahu, dan terkadang mengarungi sungai yang memisahkan perbatasan Bangladesh-Myanmar. 

    Hal ini menyebabkan warga Rohingya disebut sebagai salah satu minoritas paling teraniaya di dunia oleh PBB pada tahun 2013. 

    Setidaknya 9.000 warga Rohingya meninggal antara 25 Agustus dan 24 September 2017 menurut survei yang dilakukan oleh Doctors Without Borders. Dengan perkiraan kasar, sedikitnya 6.500 orang tewas, termasuk 730 anak di bawah usia lima tahun. 

    Ini mengkonfirmasi laporan organisasi berita internasional tentang sasaran kekerasan yang terus dibantah oleh pemerintah Myanmar. 

    Mengapa warga Rohingya tak berkewarganegaraan?

    Warga Rohingya dianggap sebagai orang asing menyusul diberlakukannya Undang-undang Kewarganegaraan pada tahun 1982. UU tidak mengakui mereka sebagai salah satu 'ras nasional'. 

    Sementara pemerintah Myanmar menawarkan kewarganegaraan melalui pelaksanaan 'verifikasi', warga Rohingya enggan menerima Kartu Verifikasi Nasional (National Verification Card/NVC1) karena meskipun memilikinya, mereka masih tak dapat bergerak bebas di dalam negara bagian Rakhine atau di dalam negeri serta diberi akses layanan yang diperlukan melalui pos pemeriksaan, hambatan birokrasi, dan praktik diskriminatif lainnya. 

    “Kami bukan tanpa kewarganegaraan. Kami dari Myanmar. Leluhur kami berasal dari Myanmar."   – Abu Ahmad, 52 tahun, mengungsi ke Bangladesh mencari pengobatan untuk kelumpuhan putrinya.

    Apa itu krisis pengungsi Rohingya?

    Sebanyak 745.000 pengungsi Rohingya mengungsi ke Bangladesh pada 25 Agustus 2017. Kedatangannya menambah ribuan warga mereka yang bermigrasi ke kamp-kamp pengungsi pada tahun-tahun sebelumnya dan masih hidup dalam kondisi yang sulit. 

    Saat ini, distrik Cox's Bazar adalah rumah bagi hampir satu juta pengungsi, menjadikannya kamp pengungsi terbesar di dunia. 

    Warga Rohingya juga mempertaruhkan nyawa mereka di atas perahu-perahu yang melintasi laut Andaman untuk mengungsi ke negara lain seperti Malaysia, Thailand, Indonesia, Kamboja dan Laos. 

    Perpindahan massal manusia semacam ini dan dalam waktu sesingkat ini, adalah yang terbesar dalam sejarah dunia baru-baru ini. 

    Bagaimana situasi warga Rohingya saat ini?

    Di Myanmar 

    Sementara ratusan ribu warga Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh, lebih dari 600.000 tetap tinggal di negara itu dan tanpa kewarganegaraan. 

    Mereka yang tersisa tak dapat pergi tanpa izin pemerintah dan tinggal di kamp-kamp seperti ghetto di sekitar Sittwe. Kamp-kamp tersebut dibangun pada tahun 2012 tapi tidak terawat dengan baik. Tak ada layanan penting dan kesempatan bagi masyarakat, termasuk kebebasan bergerak, perawatan kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan. 

    Di Bangladesh 

    Masa depan pengungsi Rohingya di Bangladesh masih tidak jelas. Mereka dilarang menempuh pendidikan formal, tidak diperbolehkan bekerja dan tidak punya cara untuk kembali ke negara asalnya. 

    "Menghabiskan hidup kami di kamp itu sulit; areanya kecil, dan tidak ada tempat bagi anak-anak untuk bermain.”  – tinggal di kamp pengungsian Cox's Bazar di Bangladesh.

    Mereka tinggal di kamp yang penuh sesak, di mana mereka harus menunggu berjam-jam untuk menerima air, makanan, dan bahan bakar melalui distribusi komunal. Airnya hampir tidak cukup untuk minum atau dimasak, apalagi untuk mencuci tangan. 

    Kondisi kehidupan yang tidak memadai dan tidak higienis menyebabkan banyak kondisi kesehatan terjadi di pengungsian, seperti diare cair akut, infeksi saluran pernafasan, penyakit kulit dan demam yang tidak diketahui asalnya. 

    Wabah pandemi COVID-19 hanya memperburuk situasi mereka. Angin dan hujan ekstrim dari bulan Juni hingga September membuat kamp-kamp pengungsi lebih rentan, satu-satunya bangunan tahan topan di kamp raksasa itu adalah RS Doctors Without Borders di atas Bukit.

    Saat ini ada laporan tentang pengungsi Rohingya yang dipindahkan secara paksa ke Bhasan Char. 

    Di Malaysia

    Pengungsi Rohingya telah datang ke Malaysia selama beberapa dekade, terkadang melalui darat atau dengan melakukan perjalanan melintasi Laut Andaman menggunakan perahu kecil dan penuh sesak. Sementara lingkungan perkotaan di Malaysia menawarkan pengungsi dan pencari suaka beberapa anonimitas, perlindungan dan jaring pengaman terbatas. Malaysia belum menandatangani Konvensi Pengungsi PBB 1951, yang berarti bahwa pengungsi dan pencari suaka secara efektif terkriminalisasi oleh hukum domestik. 

    Warga Rohingya yang memiliki kartu dari badan pengungsi PBB UNHCR - setelah penilaian klaim suaka mereka - memiliki kebebasan bergerak, tetapi tidak memiliki akses ke pekerjaan legal, pendidikan atau akses yang sama ke perawatan kesehatan. Mereka yang tanpa dokumen berisiko ditangkap dan ditahan. Akses UNHCR ke Pusat Penahanan Imigrasi (Immigration Detention Centres/IDC) di negara itu ditangguhkan sejak 2019, sehingga beberapa telah ditahan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. 

    Masa Depan Warga Rohingya? 

    Solusi jangka panjang dibutuhkan untuk menyelesaikan krisis pengungsi Rohingya yang sudah berlangsung lama ini. Masalah utamanya adalah tidak adanya hak kewarganegaraan di Myanmar serta pengakuan status pengungsi di Bangladesh dan Malaysia. 

    Untuk pengungsi Rohingya yang terabaikan di Rakhine, Doctors Without Borders sangat prihatin dengan hambatan untuk mengakses layanan kesehatan karena pembatasan kebebasan bergerak mereka. Para pelaku kemanusiaan memerlukan akses independen untuk menilai dan mereson kebutuhan kesehatan secara adil. 

    Doctors Without Borders percaya bahwa sangat penting jika pengembalian atau pemulangan ke Myanmar dilakukan secara sukarela; jika kesejahteraan pengungsi Rohingya terjamin; dan akar penyebab kekerasan telah ditangani. Ini berarti mengatasi diskriminasi dan penolakan hak asasi manusia yang sedang terjadi.