Skip to main content

    Perawatan kesehatan reproduksi  

    Doctors Without Borders/Médecins Sans Frontières (MSF) sering dikaitkan dengan respons kesehatan dalam keadaan konflik, epidemi, dan bencana, tetapi pekerjaan di lapangan melibatkan lebih banyak lagi. Di lokasi-lokasi seluruh dunia, kami menangani penyakit yang terabaikan, malnutrisi, pengucilan dari layanan kesehatan, dan berbagai masalah kesehatan di lapangan. Di antaranya adalah kesehatan reproduksi. 

    Program kesehatan reproduksi merupakan bagian integral dari perawatan kesehatan yang disediakan pekerja lapangan kepada semua orang, apa pun konteksnya, di banyak negara tempat kami bekerja di seluruh dunia. Layanan kesehatan reproduksi sangat penting di lokasi-lokasi tempat pekerja lapangan kami merespons kedaruratan, epidemi, keadaan konflik, dan bencana. 

    Di setiap wilayah dan misi tempat kami bekerja, misi untuk mendukung kesehatan reproduksi juga mencakup kesehatan ibu, HIV/AIDS, kanker serviks, kesehatan remaja, dan sebagainya. 

    A nurse in northern Colombia talks with a group of Venezuelan women gathered for sexual and reproductive health services.  © MSF

    Seorang perawat di Kolombia utara berbicara dengan sekelompok wanita Venezuela yang berkumpul untuk mendapat layanan kesehatan seksual dan reproduksi.  © MSF 

    Kesehatan Ibu 

    Diperkirakan 99% ibu yang meninggal saat melahirkan atau karena komplikasi kehamilan tinggal di negara berkembang. Banyak dari negara-negara ini terlibat dalam konflik, atau sering dilanda bencana atau epidemi. Beberapa tempat memiliki angka kejadian gizi buruk yang tinggi, sedangkan di tempat lain ibu hamil tidak mendapatkan pelayanan kesehatan. Ada banyak faktor yang mengancam kelangsungan hidup ibu hamil, dan kebutuhannya tak bisa diabaikan. 

    Berdasarkan penilaian kami, lima penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan, sepsis, aborsi yang tidak aman, komplikasi terkait tekanan darah tinggi, dan gangguan persalinan. Inilah mengapa memastikan kelangsungan hidup ibu adalah bagian besar dari pekerjaan kami di lapangan. 

    Kebanyakan kematian ibu terjadi tepat sebelum, ketika, atau setelah melahirkan. Akses tepat waktu ke staf yang memenuhi syarat di lapangan dapat menjadi pertaruhan hidup mati bagi ibu yang mengalami komplikasi saat melahirkan. Program kami bekerja untuk memperbaiki keterlambatan yang dihadapi ibu dalam menerima perawatan saat persalinan. Selain perawatan darurat kebidanan dan bayi baru lahir, pekerjaan kami di lapangan juga mencakup penilaian kebutuhan serta menyediakan perawatan pra dan pasca persalinan serta layanan kontrasepsi, yang semuanya berkontribusi pada kelangsungan hidup ibu. 

    Pada tahun 2022, petugas lapangan memberikan bantuan untuk 320.700 kelahiran, termasuk operasi caesar.

    MSF’s Khost maternity hospital was delivering an average of 2,000 babies per month before the COVID-19 pandemic spread to Afghanistan. In late June 2020, the project had to limit care to women who need lifesaving emergency services due to staffing shortages. © Andrea Bruce/Noor Images

    RS bersalin Doctors Without Borders di Khost membantu kelahiran rata-rata 2.000 bayi per bulan sebelum pandemi COVID-19 menyebar ke Afghanistan. Pada akhir Juni 2020, proyek harus membatasi perawatan hanya untuk wanita yang membutuhkan layanan darurat yang menyelamatkan nyawa karena kekurangan staf. © Andrea Bruce/Noor Images

    Sualeha Mohamed Ayubiu, with her 10-day-old son, at the hospital in Cox’s Bazar, Bangladesh. She used to live in Myanmar. She now lives in a camp for Rohingya refugees in Bangladesh. © Hasnat Sohan/MSF

    Sualeha Mohamed Ayubiu, bersama putranya yang berusia 10 hari, di RS Cox’s Bazar, Bangladesh. Dia dulu tinggal di Myanmar. Sekarang tinggal di kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh. © Hasnat Sohan/MSF 

    Komplikasi persalinan 

    Bahkan dengan perawatan kesehatan yang memadai, sekalipun tak ada bencana, bukan dalam keadaan konflik, tanpa masalah kekurangan gizi atau pengucilan dari perawatan kesehatan, ada banyak komplikasi yang dapat dialami ibu selama kehamilan dan persalinan, dan kami berupaya untuk mencegah atau mengobati komplikasi ini.  

    Persalinan terhambat dan berkepanjangan dapat menyebabkan fistula: lubang antara vagina dan kandung kemih, vagina dan rektum, atau keduanya. Mengakibatkan inkontinensia urin dan/atau feses. Ibu yang mengalami fistula mengalami rasa malu dan sering kali ditolak oleh keluarga dan komunitasnya. Para wanita ini membutuhkan operasi untuk menutup fistula, dan ini membutuhkan keterampilan bedah khusus. Berdasarkan penilaian kebutuhan, pekerja lapangan memiliki program yang disebut 'kamp fistula' yang melayani operasi. Fistula dapat dengan mudah dicegah dengan akses ke bidan terlatih dan penatalaksanaan gangguan persalinan yang memadai, yaitu operasi caesar. 

    Romy was the first baby born in the MSF inflatable hospital in Tacloban, the epicenter of Typhoon Haiyan. © Yann Libessart

    Romy adalah bayi pertama yang lahir di RS tiup Doctors Without Borders di Tacloban, episentrum Topan Haiyan. © Yann Libessart 

    Cerita dari lapangan: Melindungi kesehatan ibu pasca bencana

    Pada 2013, salah satu topan terkuat yang pernah tercatat, Topan Haiyan, menerjang Filipina. Di tengah berbagai kebutuhan kesehatan pada saat bencana, apapun penilaiannya, adalah bagian dari misi kami untuk memastikan tersedianya bantuan kesehatan ibu di lapangan. 

    Dalam pekerjaannya saat respons Haiyan di Filipina, koordinator kedaruratan Caroline Seguin memastikan ibu hamil tidak tersisih dari layanan kesehatan. Dia mengatakan, "Di sebagian besar lokasi di negara tempat kami bekerja, layanan kesehatan rusak parah. Kami berfokus pada pemulihan kualitas perawatan kesehatan utama dan RS. Saat ini, mereka dengan persalinan yang rumit tak memiliki tempat persalinan yang aman atau menjalani operasi caesar, sehingga petugas lapangan kami akan segera mendirikan unit persalinan, obstetri dan ginekologi." 

    Respons Wabah  

    Di wilayah mana pun di seluruh dunia, kehamilan dapat berdampak parah pada kesehatan wanita. Penyakit dapat memperumit masalah, terutama pada tahap akhir kehamilan. Ibu hamil lebih rentan terhadap efek infeksi malaria, yang dapat mengakibatkan kematian ibu, keguguran atau lahir meninggal. Dalam beberapa proyek, hingga 50% dari mereka yang menjalani perawatan antenatal bisa teruji positif malaria. 

    Hepatitis E memiliki angka kematian yang jauh lebih tinggi di antara ibu hamil, mencapai 25% pada mereka yang sedang hamil pada trimester ketiga. Di beberapa kasus, kolera dapat menyebabkan persalinan prematur atau komplikasi obstetrik. Dari situasi konflik hingga bencana, krisis dan keadaan lapangan lainnya, kami bekerja untuk memvaksinasi dan mengobati penyakit ini.   

    RH - FOTO 6: Pada 2013, epidemi hepatitis E menyebar di kamp-kamp pengungsian di Wilayah Maban, Sudan Selatan. Doctors Without Borders merawat sedikitnya 3.991 pasien di fasilitas kesehatannya di kamp, dan mencatat 88 kematian, termasuk 15 ibu hamil.  

    Bahkan jika ibu hamil dapat terlindung dari penyakit itu sendiri, penghentian program kesehatan dan ketakutan  infeksi dapat berdampak negatif pada kehamilan, seperti yang ditunjukkan oleh wabah Ebola di Afrika Barat. Sekalipun jika mereka membutuhkan pemeriksaan, tes atau konsultasi, ibu hamil takut pergi ke fasilitas kesehatan di mana mereka dapat terinfeksi. Ribuan lebih nyawa melayang ketika layanan persalinan yang aman, neonatal, dan keluarga berencana tidak dapat diakses karena wabah dan epidemi. Karena itulah kebutuhan kesehatan ibu dan reproduksi selalu menjadi bagian dari misi kami. 

    Kekerasan Seksual  

    Pada tahun 2022, organisasi tersebut merawat lebih dari 39.900 korban kekerasan seksual. Sebagian besar pasien adalah wanita dan anak perempuan, namun ada peningkatan kesadaran dari pria dan anak lelaki yang mengalami kekerasan seksual, di dalam dan di luar situasi konflik. 

    Pemerkosaan dan bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya sering tersebar luas di lingkungan konflik, karena dapat digunakan untuk mempermalukan, menghukum, mengontrol, melukai, menimbulkan rasa takut, dan menghancurkan komunitas di lapangan, terutama ketika ada perubahan dalam konteks politik. Ini juga dapat digunakan untuk memberi penghargaan kepada kombatan dan pasukan di lapangan. Kekerasan seksual juga dapat terjadi setelah bencana, dengan para pengungsi yang berkerumun di kamp pengungsian dan pusat evakuasi, mencari pekerjaan atau mencari bantuan makanan, air dan kebutuhan pokok lainnya. Akan tetapi jutaan orang yang hidup dalam konteks stabil, tanpa konflik atau bencana, juga bisa mengalami kekerasan seksual. Dalam kasus ini, pelaku seringkali adalah orang dekat atau anggota keluarga korban. 

    Kekerasan seksual mempengaruhi jutaan orang, secara brutal menghancurkan kehidupan perempuan, pria dan anak-anak. Ini adalah keadaan darurat kesehatan, namun seringkali layanan kesehatan bagi para korban sangat kurang. Di proyek kami di seluruh dunia, para penyintas diberi antibiotik untuk mencegah infeksi menular seksual seperti sifilis dan kencing nanah, serta vaksinasi untuk tetanus dan hepatitis B. Para penyintas membutuhkan bantuan kesehatan tepat waktu, karena pencegahan HIV harus dimulai dalam 72 jam setelah serangan. Pemeriksaan dan penanganan cedera fisik, serta dukungan psikologis juga merupakan bagian dari paket perawatan di lapangan. 

    Kekerasan seksual terhadap pria dan anak lelaki termasuk pemerkosaan, penyiksaan seksual dan perbudakan seksual. Pria dan anak lelaki bahkan lebih kecil kemungkinannya untuk melaporkan kekerasan seksual dibandingkan perempuan karena kekhawatiran stigmatisasi. Akibatnya, pengalaman kekerasan seksual antar pria tetap tak terlihat dan kurang dilaporkan, dan bagaimana memberikan bantuan memadai kepada korban pria menjadi tantangan tersendiri. 

    An MSF social worker talks with survivor Rosina Seela Moole at the Boitekong Kgomotso Care Centre (BKCC) MSF clinic in Rustenburg, South Africa. © Melanie Wenger

    Seorang pekerja sosial Doctors Without Borders berbicara dengan penyintas Rosina Seela Moole di klinik MSF Boitekong Kgomotso Care Center (BKCC) di Rustenburg, Afrika Selatan. © Melanie Wenger 

    HIV/AIDS  

    Sejak penemuan penyakit autoimun ini, Doctors Without Borders telah menyaksikan korban jiwa rentan yang ditimbulkan oleh epidemi human immunodeficiency virus/ Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS). Pada tahun 1995 para pekerja lapangan memulai proyek perawatan bagi orang yang hidup dengan HIV di Surin, Thailand. Penelitian yang dilakukan di negara-negara seperti Thailand telah memainkan peran historis dalam menunjukkan kelayakan dan efektivitas pengobatan HIV di kondisi dengan sumber daya yang terbatas. 

    Meskipun kami memiliki banyak proyek dan kegiatan HIV di Afrika, ada juga proyek HIV di Asia dan Pasifik. Pada tahun 1994, Doctors Without Borders mulai memberikan bantuan bagi orang yang hidup dengan HIV/AIDS, dan informasi kesehatan di Yangon, Myanmar, serta pemeriksaan dan penatalaksanaan infeksi menular seksual. Pada tahun 2002, kami menjadi penyedia pengobatan antiretroviral (ARV) pertama di negara tersebut dan pada satu masa menjalankan program pengobatan HIV terbesar di Myanmar. 

    Bersama-sama, klinik Insein dan Thaketa merawat lebih dari 17.000 pasien, banyak di antaranya datang dari tempat lain di negara ini untuk mengakses perawatan. Di Dawei, wilayah Tanintharyi, kami juga bekerja memberikan pendampingan bagi remaja HIV-positif. Pada pertengahan 2022, kami melanjutkan serah terima beberapa pasien HIV kami ke Program AIDS Nasional; penyerahan telah dimulai pada tahun 2015 tetapi ditunda ketika militer merebut kekuasaan pada tahun 2021.

    Pada tahun 2021, kami mendiagnosis dan memulai pengobatan HIV untuk pasien baru dalam jumlah besar untuk pertama kalinya sejak 2019 di klinik kami, serta melanjutkan perawatan bagi pasien yang tidak dapat lagi mengakses konsultasi dan isi ulang obat. Pada tahun 2022, kami memulai pengobatan ARV lini pertama kepada 7.760 orang di bawah perawatan langsung kami.

    Pada 2019, ada lebih dari 70.000 orang yang hidup dengan HIV menerima pengobatan di bawah pengawasan langsung kami di Myanmar; 74.000 orang lainnya menerima perawatan dalam program yang didukung oleh organisasi. 

    Cerita dari lapangan: Perawatan yang berpusat pada pasien di Myanmar

    “Sebelum Doctors Without Borders tiba dan mulai memberikan pengobatan untuk pasien HIV-positif, hidup rasanya berat,” kata Zarni Aung, yang bekerja sebagai petugas kelompok teman sebaya di klinik Thaketa. “Di Myanmar, orang-orang yang hidup dengan HIV tidak diperlakukan sebagai anggota masyarakat. Keluarga menolak mereka. Di klinik, dengan pekerja lapangan, kami tidak hanya menerima obat-obatan, tapi juga martabat sebagai manusia.” 

    Bagi dr. Soe Yadanar, manajer klinik yang telah bekerja dengan proyek HIV kami selama 20 tahun, pendekatan Doctors Without Borders yang berpusat pada orang adalah hal yang membuat klinik tersebut begitu istimewa. “Pasien yang terlalu sakit untuk mengambil obat diikutsertakan dalam percontohan berbasis rumah dan akan menerima obat serta barang penunjang lainnya, seperti peralatan kebersihan dan persediaan makanan, di rumah,” katanya. 

    Sementara klinik di Myanmar sekarang telah ditutup, kelompok teman sebaya telah cukup berhasil sehingga pasien telah memulai kelompok independen mereka sendiri. “Pengalaman kegiatan dan sesi psikososial mereka telah membantu banyak pasien mendapatkan kembali kekuatan mental dan kepercayan diri mereka, untuk saling mendukung serta menjadi anggota aktif dan membanggakan di masyarakat mereka masing-masing,” kata Zarni Aung. 

    Kanker serviks 

    Data menunjukkan bahwa tingkat kanker serviks telah meningkat di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Pada tahun 2018 saja, lebih dari 310.000 wanita meninggal karena kanker serviks. Penilaian menunjukkan bahwa lebih dari 85% di antaranya berada di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Pada tahun yang sama, 570.000 kasus baru didiagnosis.

    Di 42 negara, penyakit ini membunuh lebih banyak perempuan daripada kanker lainnya. Di Malawi, tempat kami menyediakan perawatan HIV/AIDS selama bertahun-tahun, kami menemukan bahwa banyak pasien juga menderita kanker serviks. Pada tahun 2020, terdeteksi 4.145 kasus baru kanker serviks dan 2.905 perempuan meninggal dunia.

    education sessions on cervical cancer in a Tondo's barangays (neighbourhood). © Hannah Reyes Morales

    Penggerak masyarakat Lina Bacalando memimpin sesi edukasi tentang kanker serviks di barangay (lingkungan) Tondo. © Rocel Ann Junio/MSF

    Pemeriksaan tetap menjadi kunci pencegahan kanker serviks meskipun vaksinasi human papillomavirus (HPV) telah efektif. Banyak wanita tumbuh besar sebelum vaksin diperkenalkan, dan banyak gadis muda masih belum menerimanya. Di lingkungan dengan sumber daya rendah, "pemeriksaan dan pengobatan" telah dirancang untuk mencapai sebanyak mungkin pasien dalam satu kunjungan di klinik setempat. 

    Di beberapa negara, Doctors Without Borders bekerja untuk melakukan sesi pemeriksaan kanker serviks dan merawat pasien dengan penyakit stadium awal. Ini sangat penting dalam konteks prevalensi HIV yang tinggi. Dalam konteks seperti itu, kami memberikan vaksinasi terhadap HPV. 

    Kesehatan Reproduksi dan COVID-19 

    Data menunjukkan pandemi COVID-19 terbukti menjadi salah satu bencana terbesar yang mengancam kesehatan wanita dan anak perempuan di seluruh dunia. Perempuan semakin terputus dari layanan kesehatan seksual dan reproduksi, meningkatkan angka ancaman kematian ibu dan bayi. Perempuan dewasa dan anak perempuan sering kali tidak mendapatkan atau menghadapi penundaan yang membahayakan untuk layanan yang sangat mereka butuhkan. Dampaknya parah terutama di tempat-tempat dengan sistem kesehatan yang lemah atau terlalu terbebani — termasuk di banyak tempat di mana staf Doctors Without Borders bekerja. 

    COVID-19 menimbulkan tantangan tambahan. Meskipun akses ke perawatan persalinan yang aman telah lama diakui sebagai layanan kesehatan utama, pandemi ini membuat banyak ibu hamil semakin memiliki sedikit pilihan untuk layanan kesehatan. Beberapa layanan kesehatan seksual dan reproduksi, seperti kontrasepsi dan perawatan aborsi yang aman, sering dianggap tidak penting, dan oleh karena itu tidak dipertimbangkan sebagai prioritas selama keadaan darurat. 

    Christine Akoth is a Kenyan midwife. She led maternity services in MSF primary health centres in Jamtoli and Hakimpara, Cox’s Bazar, Bangladesh. © Anthony Kwan/MSF

    Christine Akoth adalah bidan dari Kenya. Dia mengepalai layanan kebidanan di pusat kesehatan utama Doctors Without Borders di Jamtoli dan Hakimpara, Cox's Bazar, Bangladesh. © Anthony Kwan/MSF 

    MSF health workers speak with a group of sex workers in Nsanje, Malawi, during a ‘one-stop’ outreach clinic in 2019. These clinics take place in different parts of the community on different days and provide a comprehensive package of sexual and reproductive health services and referrals. © Isabel Corthier/MSF

    Petugas kesehatan Doctors Without Borders berbicara dengan sekelompok pekerja seks di Nsanje, Malawi, selama klinik penjangkauan 'serba ada' pada tahun 2019. Klinik-klinik ini bergerak ke berbagai lapisan masyarakat pada hari yang berbeda serta menyediakan paket lengkap layanan dan rujukan kesehatan seksual dan reproduksi. © Isabel Corthier/MSF

    Larangan perjalanan dan pembatasan pergerakan telah memengaruhi semua aspek perawatan kesehatan seksual dan reproduksi. Perempuan di tempat-tempat yang terkena bencana atau konflik seringkali kesulitan mendapatkan transportasi. Banyak yang melahirkan di rumah dengan dukun bayi tradisional yang tidak pernah mengikuti pelatihan formal, dalam lingkungan yang mungkin tidak aman. Banyak kematian ibu dan bayi di seluruh dunia yang kemungkinan besar tidak akan pernah terhitung justru karena perempuan tidak pernah sampai ke fasilitas kesehatan.  

    Putusnya rantai pasokan berdampak lebih dari APD. Banyak negara menghadapi kegentingan kekurangan produk. Kenaikan harga akibat kelangkaan dan kenaikan biaya pengiriman, membuat produk serta layanan kesehatan seksual dan reproduksi semakin sulit diakses oleh perempuan dan ibu miskin, yang dapat mengakibatkan lebih banyak kematian ibu di lapangan. 

    Cerita dari lapangan: Melindungi kesehatan reproduksi dalam pandemi

    Pada awal pandemi, dokter dari Doctors Without Borders Andrew Dimitri terbang ke Asia Tenggara. “Kami harus memastikan bagaimana pekerja lapangan dapat melindungi orang yang kami rawat dan staf kami.” 

    Orang-orang yang tinggal di tempat-tempat seperti permukiman kumuh Tondo di Manila menghadapi risiko tertentu. “Ada kepadatan penduduk tinggi dan kondisi buruk, dengan sedikit air bersih atau toilet,” kata dr. Dimitri. Malnutrisi juga bisa menjadi masalah. “Banyak hal terkait kebersihan yang kita anggap biasa, jadi mustahil. Dan peluang untuk menjaga jarak sosial sangat kecil, terkadang seluruh keluarga tinggal di satu ruangan sempit." 

    Melalui sesi informasi, dr. Dimitri membantu melatih staf tentang cara melihat dan mendiagnosis orang yang diduga tertular COVID-19, dengan aman memindahkan mereka yang dinyatakan positif ke otoritas kesehatan setempat, serta melindungi diri mereka dengan alat pelindung diri dan prosedur kebersihan. 

    Kesehatan reproduksi di Asia Tenggara dan Pasifik 

    Di negara-negara seperti Thailand, Malaysia, Filipina, Indonesia, Bangladesh, Hong Kong, Myanmar dan banyak lainnya, menyediakan perawatan dan layanan reproduksi dapat menjadi pekerjaan yang sangat penting dan menyelamatkan jiwa, bukan hanya bagi para ibu, tetapi juga untuk anak-anak dan remaja. 

    Pemeriksaan untuk kanker serviks di Filipina 

    Kanker adalah epidemi dalam kategorinya sendiri. Data menunjukkan bahwa 12 wanita meninggal akibat kanker serviks setiap hari di Filipina. Pada 2015, Departemen Kesehatan meningkatkan upayanya untuk memerangi kanker serviks, dengan memprioritaskan pasien di wilayah termiskin negara itu. Meskipun kebijakan kesehatan mengintegrasikan vaksinasi HPV ke dalam program nasional, perempuan lebih tua masih berisiko, karena vaksin tersebut belum ada ketika mereka remaja dan mereka jauh lebih mungkin mengidap penyakit tersebut. 

    22-year-old Rosalita, who has two children, receives family planning advice with an MSF health information officer in the Tondo neighbourhood of Manila, Philippines. © Melanie Wenger

    Rosalita, 22 tahun, yang memiliki dua anak, menerima anjuran KB dari petugas informasi kesehatan Doctors Without Borders di lingkungan Tondo, Manila, Filipina. © Melanie Wenger 

    Penilaian oleh Doctors Without Borders menegaskan perlunya layanan kesehatan seksual dan reproduksi di Tondo, salah satu lokasi terpadat dan termiskin di Manila, ibu kota Filipina. 

    Dari tahun 2016 hingga 2020, Doctors Without Borders bermitra dengan organisasi non-pemerintah lokal Likhaan, untuk mendukung klinik yang menyediakan pemeriksaan kanker serviks dan krioterapi bersama dengan layanan kesehatan seksual dan reproduksi lainnya. Pekerja lapangan Doctors Without Borders bekerja dengan Likhaan untuk memberikan informasi mengenai kanker serviks, dan memberikan konsultasi serta pengobatan gratis. Pemeriksaan rutin hanya membutuhkan waktu tiga menit. Pasien dengan sel prakanker segera diobati dengan krioterapi. Mereka yang terduga berada di tahap lebih lanjut dirujuk ke RS untuk diagnosis. Petugas lapangan memberikan informasi dan bantuan kepada setiap pasien di setiap tahap proses.

    Sejak 2016, pekerja di klinik tersebut menyaring lebih dari 9.300 perempuan, termasuk 6.400 yang menjalani pemeriksaan untuk pertama kali. Putaran pertama vaksinasi diluncurkan pada Februari 2017. Lebih dari 25.000 anak perempuan berusia 9 hingga 13 tahun menerima vaksin. Pada Desember 2020, kegiatan di Klinik Lila diserahkan ke Likhaan.

    Kisah pasien: Menyelamatkan gadis dari kanker

    "Kami melihatnya di TV, mereka yang mati muda karena kanker di rahim," jelas Mary Jane, putri dan keponakannya berada di sampingnya. Bersama dengan 325.000 orang lainnya, dia tinggal di daerah kumuh Tondo, di Manila. 

    Vaksinasi menawarkan banyak keuntungan. Dengan memberi anak perempuan berusia antara 9 dan 13 tahun satu set dua suntikan, kemungkinan mereka mengidap kanker serviks akan jauh berkurang. 

    Mary Jane mengirim putrinya untuk divaksinasi. Keponakannya juga ikut. Karena mereka mengetahui informasi tentang penyakit mematikan ini, imunisasi yang kedua mestinya tidak terlalu menakutkan lagi. 

    Menyediakan layanan kesehatan reproduksi bagi pengungsi dan imigran gelap di Malaysia 

    Di Malaysia, Doctors Without Borders memulai proyeknya pada tahun 2016, dengan klinik keliling bekerja sama dengan organisasi lokal. Menjelang akhir 2018, petugas lapangan membuka klinik rawat jalan di Butterworth, Penang. 

    Pada tahun 2020, pekerja lapangan Doctors Without Borders melihat adanya kebutuhan mendesak untuk perawatan antenatal dan postnatal bagi para pengungsi perempuan dan imigran gelap di Penang, Malaysia. Sementara klinik rawat jalan pengungsi melayani sekitar 40 hingga 50 pasien setiap hari, sejak September telah terjadi peningkatan konsultasi antenatal. 

    Kami bekerja sama dengan kementerian kesehatan regional di Penang, Malaysia, untuk memberikan perawatan antenatal dan postnatal tanpa gangguan bagi pengungsi perempuan dan migran gelap. Seorang bidan datang seminggu sekali untuk memberikan kelas antenatal bagi para ibu dan ibu hamil, petugas lapangan juga memberikan konseling dan bantuan keluarga berencana. Klinik kami di Penang, Malaysia, telah mengintegrasikan perawatan kekerasan seksual dan berbasis gender (sexual and gender-based violence/SGVB) serta layanan konseling kesehatan mental, berkoordinasi dengan kementerian kesehatan sebagai rujukan. Setiap kasus SGVB memiliki petugas Doctors Without Borders khusus, yang akan mendukung dan memberi mereka bantuan selama janji temu. 

    Pada tahun 2022, petugas kesehatan di klinik di Malaysia menemui sekitar 3.900 perempuan untuk konsultasi antenatal.

    Mendukung kesehatan remaja dan ibu di Indonesia  

    Di Indonesia, Doctors Without Borders/Médecins Sans Frontières (MSF) dikenal sebagai Dokter Lintas Batas. 

    Sejak Februari 2018, petugas lapangan telah berada di Kabupaten Pandeglang untuk Proyek Kesehatan Remaja, dan kami bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Program kesehatan remaja di Provinsi Jakarta dan Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Indonesia, berfokus pada kegiatan yang secara terus menerus meningkatkan kualitas dan ketersediaan pelayanan kesehatan bagi remaja, membantu mereka memahami perubahan pada tubuh, pikiran dan perasaannya. Pekerja lapangan juga bekerja untuk memberikan informasi dan perawatan ante dan postnatal untuk perempuan hamil dan ibu muda, dengan membangun hubungan antara masyarakat lokal, sekolah serta penyedia layanan kesehatan. 

    Proyek tersebut diserahkan kepada mitra lokal pada Desember 2022.

    Kegiatan Doctors Without Borders di Indonesia antara lain membantu petugas puskesmas untuk melakukan intervensi kesehatan remaja dan memperkuat kapasitas melalui pendampingan dan sesi pelatihan. Petugas lapangan juga dikerahkan untuk menjalankan kegiatan penyuluhan kesehatan serta edukasi bagi remaja dan orang tua di desanya atau di pusat pendidikan bernama Pojok Remaja Saung Rhino di Banten, Indonesia.

    Ketika berbagai bencana melanda Indonesia pada tahun 2018, termasuk tsunami Selat Sunda, konsultasi dan layanan kesehatan ibu termasuk di antara yang kami kerjakan di lapangan, bagi orang-orang yang meninggalkan rumah mereka atau terjebak di desa-desa yang sangat jauh. 

    Di tahun 2021, selain sesi konseling dan konsultasi kesehatan untuk remaja, kegiatan kami mencakup 98 konsultasi sebelum dan sesudah melahirkan.

    Elis was seven months pregnant when the Sunda Strait tsunami hit Indonesia.  MSF staff at the Labuan health centre provided medical care for her and her baby. © Cici Riesmasari/MSF

    Elis sedang hamil tujuh bulan saat tsunami Selat Sunda melanda Indonesia.  Staf Doctors Without Borders di Puskesmas Labuan memberikan perawatan kesehatan untuk dia dan bayinya. © Cici Riesmasari/MSF 

    This MSF midwife is dressing the wounds of a 2018 tsunami survivor in the shelter. © Cici Riesmasari/MSF

    Bidan Doctors Without Borders ini sedang membalut luka penyintas tsunami 2018 di penampungan. © Cici Riesmasari/MSF 

    Kisah pasien: Melindungi yang hamil

    “Saya sedang mandi saat tsunami melanda,” kata Elis, bercerita saat tsunami menerjang pantai Selat Sunda pada Desember 2018 lalu. Dia sedang hamil tujuh bulan. 

    Saat gelombang pertama datang, suami Elis, Purwanto berteriak: “Tsunami! Tsunami!” Dia meneriakkan peringatan kepada Elis lalu bergegas ke putri mereka dan mertuanya, yang ada di sebelah rumah. 

    “Saat suami saya teriak, saya memakai baju secepat mungkin. Ketika dia akan kembali ke dalam rumah untuk membantu saya, gelombang kedua dan yang lebih besar menghantam rumah kami,” jelasnya. “Saya berusaha keras melindungi perut hamil saya. Saya tidak bisa melihat putri saya. Saya tidak bisa melihat ibu dan ayah saya. Yang saya dengar adalah suara suami saya memanggil saya." 

    Elis dan Purwanto berjalan kaki sejauh dua kilometer ke Puskesmas Labuan. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan seorang pria dengan sepeda motor yang menawarkan tumpangan ke puskesmas tersebut. Di sana, mereka melihat banyak orang yang terluka seperti mereka dan menunggu perawatan. 

    Pekerja lapangan MSF yang merawat Elis memastikan pengobatannya. “Saya bertemu dengan Ibu Dina, bidan Doctors Without Borders, dan Dokter Santi di Puskesmas Labuan pada hari Minggu,” kenang Elis. “Mereka memeriksa kondisi saya dan bayi. Saya mengalami memar dan bengkak hampir di seluruh tubuh saya. Tapi syukurlah, bayi saya baik-baik saja,” ucapnya sambil tersenyum.