Skip to main content

    Bincang dengan Penanggung Jawab Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) Puskesmas Labuan, Banten

    Tim promosi kesehatan MSF melakukan sesi berbagi bersama kader di SMAN 3 Carita sebagai bagian dari Pelayanan Kesehatan Ramah Remaja.

    Tim promosi kesehatan MSF melakukan sesi berbagi bersama kader di SMAN 3 Carita sebagai bagian dari Pelayanan Kesehatan Ramah Remaja. Indonesia, 2021. © MSF

    Sebagai penanggung jawab, beliau sangat peduli dengan program kesehatan remaja untuk di wilayah Kecamatan Labuan. Bekerja sama dengan para pihak seperti pemerintahan kecamatan, komunitas sekolah, hingga para pihak lainnya.

    Yuk kita ikuti bagaimana perjalanan program PKPR mulai aktif kembali di Puskesmas Labuan berkolaborasi dan didukung oleh tim MSF di Labuan.

     

    Bagaimana program PKPR di puskesmas ini berjalan?

    Program PKPR sempat terhenti karena COVID-19 (ketika kasus meningkat), dan nakes juga bertugas bergilir, 2 hari masuk, 2 hari libur. Sekaran (akhir tahun 2021) PKPR sudah mulai jalan lagi, tapi memang kunjungannya tidak seperti di 2019, hingga awal 2020. Sekolah juga online, dan dampaknya berasa karena yang meramaikan PKPR itu sekolah. Jadi ketika mulai pandemi, jadi berkurang pasiennya.

    Maksudnya sekolah yang meramaikan PKPR, Bu? Boleh dibantu jelaskan?

    Tim Puskesmas juga ke sekolah untuk penyuluhan. Biasanya sekalian diinfokan tentang layanan PKPR. Biasanya nanti anak-anak ke Puskesmas untuk akses layanan PKPR. Di wilayah Labuan sendiri, ada sebanyak 37 Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) serta sebanyak lebih dari 13 dengan swasta serta SMA 11an.

    Apakah tantangan lainnya dalam menjalankan program ini?

    Anak-anak juga tiap tahun berganti, sehingga Puskesmas harus mengenalkan tentang PKPR kembali ke anak-anak yang sudah naik tingkat. Selain itu, skrining kesehatan di sekolah juga vakum di tahun lalu. Baru mulai lagi tahun ini, tetapi belum banyak. Sementara terkait pendanaan, ini juga menjadi tantangan. Pendanaan untuk menjalankan program ini belum memadai dari Puskesmas. Jadi memang harus desa atau dana desa.     

    Apakah ada perubahan selama program PKPR ini berjalan?

    Kami melakukan pelatihan bersama-sama MSF di sekolah-sekolah, terkait dengan PKPR dan pengaktifan kembali Unit Kesehatan Sekolah (UKS) di sekolah-sekolah. Yang terbaru kami melakukan pelatihan kader di SMA 3. Para kader SMA 3 dilatih untuk membantu proses skrining. Dan mereka bisa melakukan skrining dengan baik.

     

    Ibu Endang Yuningsih yang merupakan salah satu bidan yang bertugas di Puskesmas Labuan.

    Ibu Endang Yuningsih yang merupakan salah satu bidan yang bertugas di Puskesmas Labuan berdiri di pintu masuk puskesmas. Indonesia, 2021. © MSF

    Dan bagaimana dengan program yang mendukung program PRPR yang di desa, Bu? Seperti Posyandu remaja di Desa Teluk?

    Saat ini, Posrem baru ada satu lokasi di Teluk. Sebaiknya di tiap desa ada 1. Setelah melihat Teluk, mudahan bisa menjadi tolak ukur bagi desa-desa lain. Untuk pembetukan posrem ini diperlukan dukungan yang kuat dari desa itu sendiri.

    Apa saja perubahan yang Bu Endang lihat?

    Perubahan yang terjadi seperti anak-anak di posrem, ada juga yang dewasa. Jadi yang dewasa, mereka terus meneruskan ke anak-anak yang lebih muda. Mereka ini aktif dan memang dari anak-anak Karang Taruna. Selain itu ada keterlibatan anak muda yang sekarang sudah menjadi perangkat desa, sehingga terus memberikan pesan-pesan tentang kesehatan remaja ke remaja di lingkungan mereka.

    Sebelumnya remaja hanya ada di UKS, meskipun UKS juga tidak aktif. Dan sekarang, dengan PKPR dan Posrem sudah ada, anak-anak remaja sudah memiliki tempat yang tepat untuk mencari informasi terkait kesehatan. Sudah semakin senang, meskpiun urusan remaja bukan hal yang mudah, dan kompleks.

    Selain itu remaja yang hamil sudah mau berobat di Puskesmas. Sebelumnya biasanya ke paraji (dukun desa) karena sudah ada MSF sehingga mereka mau ke Puskesmas.

    Bagaimana sih kondisi kesehatan remaja menurut pantauan Bu Endang selama ini?

    Kesehatannya kompleks dan kesehatan mentalnya juga kompleks. Para remaja ini ketika memeriksakan kesehatan ke Puskesmas, pihak Puskesmas didukung oleh MSF untuk mendorong pasien membuat BPJS agar nanti ketika MSF sudah selesai, para pasien muda ini tetap terus bisa akses kef askes dengan BPJS.

    Terkait dengan kehamilan remaja, memang tidak ada data, tapi saya merasa jumlah remaja hamil sudah jauh menurun.

    Siswa kader menarima pendidikan kesehatan dari promotor kesehatan komunitas MSF sehingga mereka dapat menyampaikan pesan kesehatan kepada teman-teman sebaya mereka.

    Mahesa S.P. sedang mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya setelah mereka menonton film pendek tentang pernikahan usia dini. Mahesa dan 10 temannya yang lain adalah anggota tim pelaksana kesehatan sekolah SMP 1 di Labuan. Mereka menerima pendidikan kesehatan dari promotor kesehatan komunitas MSF sehingga mereka dapat menyampaikan pesan kesehatan kepada teman-teman sebaya mereka. Indonesia, 2019. © Eka Nickmatulhuda

    Apa saja sih manfaat dukungan MSF di Kecamatan Labuan ini?

    Saat ini saya bersyukur ada MSF, jadi ada yang mendukung. Rasanya masih banyak dukungan dari MSF. Di Puskesmas tidak ada dana untuk Posrem. Dananya di dana desa. Tapi tidak semua desa ada karena mungkin tidak semua desa memprioritaskan. Padahal di musrembang, remaja juga sudah dilibatkan. Tapi sayangnya masih belum dimasukkan. Saat ini masih ada MSF, tapi kalau nanti sudah tidak ada, mungkin akan lebih berat meneruskannya.

    Apa harapannya jika dampingan MSF sudah selesai di wilayah ini?

    Harapannya posrem berkembang, tidak satu saja. Dan mencoba berkolaborasi dengan divisi gizi untuk melakukan replikasi di desa percontohan lainnya lagi. Mengundang perwakilan remaja-remaja dan orang tua perwakilan dari kampung-kampung agar bisa membuat posrem di kampong/desa masing-masing.

    Categories