Skip to main content

    Eskalasi wilayah perbatasan antara Bangladesh dan Myanmar

    A Doctors Without Borders team in Kutupalong Hospital prepares to provide treatment to patients who were injured during renewed outbreaks of violence in the border areas between Myanmar and Bangladesh. Bangladesh, February 2024. © Jan Bohm/MSF

    Tim Doctors Without Borders di Rumah Sakit Kutupalong bersiap memberikan perawatan kepada pasien yang terluka akibat pecahnya kembali kekerasan di wilayah perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh. Bangladesh, Februari 2024. © Jan Bohm/MSF

    Seluruh cedera yang dialami 27 pasien tersebut terkait dengan pecahnya kembali kekerasan di wilayah perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh. Kamp-kamp pengungsi di Cox’s Bazar, rumah bagi hampir satu juta orang yang berasal dari kelompok etnis Rohingya, terletak dekat dengan zona konflik dan terdengar suara tembakan dari kejauhan.

    Degradasi konteks keamanan di perbatasan sangatlah memprihatinkan, karena hal ini tidak hanya berdampak langsung terhadap masyarakat di perbatasan, namun juga memperburuk kesehatan mental para penghuni kamp di Bangladesh yang melarikan diri dari kekerasan dan menghadapi peningkatan kekerasan di dalam kamp dalam beberapa tahun terakhir. 

    Doctors Without Borders tetap berkomitmen untuk memberikan perawatan kepada siapa pun yang membutuhkannya, berdasarkan kebutuhan medis mereka. Dalam beberapa hari terakhir, hal ini berarti merawat lebih banyak orang yang mengalami cedera akibat kekerasan, selain masalah kesehatan yang biasa kita lihat terkait dengan kondisi kehidupan dan kekerasan di kamp pengungsi Rohingya. Doctors Without Borders tetap siap untuk memperluas cakupannya jika diperlukan lebih lanjut.


    Di 10 fasilitas kesehatan di Cox’s Bazar, tim kami menjalankan berbagai layanan untuk mengatasi sebagian besar kebutuhan kesehatan para pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp-kamp, serta semakin banyaknya pasien dari komunitas tuan rumah. Kegiatannya meliputi layanan kesehatan umum, pengobatan penyakit kronis, dukungan psikososial, dan layanan kesehatan perempuan.

    Doctors Without Borders tetap menjadi salah satu penyedia utama bantuan kemanusiaan medis bagi warga Rohingya yang tidak mempunyai kewarganegaraan, sekitar satu juta di antaranya tinggal di kamp pengungsi terbesar di dunia, di Cox’s Bazar. Bertahun-tahun setelah keadaan darurat awal, masyarakat masih tinggal di tempat penampungan bambu yang padat dan sederhana, hampir seluruhnya bergantung pada bantuan dan dengan sedikit harapan untuk masa depan.