Darurat Iklim: Apa yang kami lihat?
Asia Pasifik memang merupakan kawasan yang rawan bencana alam. Dalam satu dekade terakhir, badai tropis di kawasan ini semakin sering terjadi, dengan dampak yang semakin parah. Namun, ini hanya satu bagian dari krisis yang lebih luas. Perubahan iklim, kerusakan lingkungan, urbanisasi, meningkatnya kelembapan dan curah hujan ekstrem, serta suhu panas yang semakin intens, semuanya saling memperburuk kondisi yang ada. Di saat yang sama, risiko penyebaran penyakit menular pun semakin meningkat.
Di banyak wilayah tempat kami bekerja, kondisi ini memperburuk situasi masyarakat yang sudah rentan. Kami melihat semakin banyak wilayah yang terdampak krisis iklim sekaligus menghadapi krisis kemanusiaan.
Dampak darurat iklim terhadap kesehatan
Perubahan suhu, banjir, dan kekeringan dapat mengganggu produksi pangan dan membuat masyarakat semakin rentan mengalami kerawanan pangan. Dampaknya, risiko malnutrisi pun meningkat—mulai dari gizi kurang hingga kelebihan berat badan dan obesitas.
Sekitar 2,3 miliar orang mengalami kerawanan pangan tingkat sedang atau berat pada tahun 2024.

Di barat laut Nigeria, krisis malnutrisi telah berlangsung sejak tahun 2022. Dari Januari hingga Juli 2022, tim Doctors Without Borders, yang bekerja sama dengan otoritas kesehatan Nigeria di lima negara bagian barat laut, merawat lebih dari 50.000 anak dengan malnutrisi akut, termasuk 7.000 di antaranya membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Foto di atas, seorang staf Doctors Without Borders sedang memeriksa seorang anak di Kofar Marusa ATFC. Nigeria, June 2022. © George Osodi
Malaria dan demam berdarah termasuk penyakit tular vektor, yaitu penyakit yang ditularkan ke manusia melalui perantara seperti nyamuk. Perubahan ekosistem, bersama berbagai faktor lainnya, membuat serangga dan mikroorganisme pembawa penyakit dapat menyebar ke wilayah yang lebih luas dan berkembang biak dalam waktu yang lebih panjang.
Seiring memburuknya krisis iklim, penyakit yang ditularkan nyamuk menyebar ke wilayah yang semakin luas. Dalam beberapa dekade mendatang, diperkirakan satu miliar orang tambahan akan berisiko terkena demam berdarah. Untuk merespons hal ini, Doctors Without Borders bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Honduras, World Mosquito Program, National Autonomous University of Honduras, dan masyarakat setempat untuk menerapkan Wolbachia, strategi kesehatan masyarakat inovatif yang bertujuan mengurangi penyebaran penyakit yang ditularkan serangga pembawa virus, seperti demam berdarah, zika, dan chikungunya.
Sepanjang 2023 hingga 2024, tim Doctors Without Borders bekerja sama dengan warga setempat untuk melepaskan lebih dari delapan juta nyamuk pembawa Wolbachia di wilayah berisiko tinggi, termasuk El Manchén. Hasilnya, bakteri Wolbachia menyebar ke hampir 98 persen populasi nyamuk lokal, sementara kasus demam berdarah turun secara signifikan dibandingkan dengan tren pada tahun-tahun sebelumnya.

Tempat yang direkomendasikan untuk meletakkan botol pembasmi nyamuk dengan Wolbachia adalah tempat yang tidak terkena sinar matahari dan jauh dari jangkauan anak-anak atau hewan peliharaan. Meksiko, 2023 © Martín Cálix
Ketika krisis iklim memicu cuaca ekstrem, penyakit mematikan seperti kolera dapat menyebar lebih luas, terutama melalui makanan dan air yang terkontaminasi.
Kolera adalah penyakit yang sangat menular dan mudah menyebar di lingkungan padat, tidak higienis, dan sulit mengakses air bersih—terutama di desa-desa miskin dan terpencil maupun di kamp pengungsian. Jika tidak segera ditangani, kolera dapat dengan cepat menyebabkan kematian akibat dehidrasi berat karena diare dan muntah parah.
Kolera adalah penyakit yang sangat menular dan mudah menyebar di lingkungan padat, tidak higienis, dan sulit mengakses air bersih—terutama di desa-desa miskin dan terpencil maupun di kamp pengungsian. Jika tidak segera ditangani, kolera dapat dengan cepat menyebabkan kematian akibat dehidrasi berat karena diare dan muntah parah.

Kampanye vaksinasi melawan kolera di pusat kesehatan Première Urgence di Koufroun, Chad timur, tempat Doctors Without Borders menyediakan vaksin.
Dokter Tanpa Batas terlibat dalam upaya melawan kolera di Adré, Aboutenge, Metché, Irdimi, Tulum, Tiné, Hadjer Hadid, Allacha, Goz Beida, dan Abdi melalui vaksinasi, manajemen rantai dingin, penemuan kasus aktif, promosi kesehatan, distribusi sabun, penyediaan air dan rehabilitasi jaringan air, serta pendirian beberapa unit dan pusat pengobatan kolera. Chad, September 2025 © Léa Gillabert/MSF
Bencana alam sering kali merusak infrastruktur air dan sanitasi, sehingga masyarakat kehilangan akses ke air bersih dan fasilitas sanitasi. Di banyak wilayah dunia, terutama di daerah berpenghasilan rendah dan wilayah yang terdampak konflik, kondisi ini menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya penyebaran penyakit menular. Tanpa air minum yang aman dan sanitasi yang memadai, masyarakat sering kali tidak punya pilihan selain menggunakan sumber air yang belum diolah dan rentan terkontaminasi. Hal ini dapat memicu penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air, seperti kolera dan hepatitis A.
Jika limbah tidak dikelola dengan baik, kontaminasi dapat terjadi dan penyakit diare bisa menyebar dengan cepat. Penyakit seperti ini masih menjadi salah satu penyebab utama kematian pada anak-anak di bawah usia lima tahun.
Doctors Without Borders berkomitmen memperkuat infrastruktur sanitasi yang masih kurang memadai, terutama dalam situasi krisis, untuk mencegah penyebaran penyakit menular.

Staf dan sukarelawan memindahkan jerigen dan perlengkapan kebersihan dari truk kontainer ke truk pengiriman yang lebih kecil. Donasi ini akan dikirim ke Barangay Malbago, Daanbantayan. Filipina, 2025 © Regina Layug Rosero/MSF
- Kiribati
Kiribati adalah salah satu negara yang paling terdampak oleh perubahan iklim.
Kiribati terdiri dari 32 atol dan satu pulau karang terangkat yang berada di antara Australia dan Hawaii. Dengan luas daratan hanya 811 kilometer persegi di tengah wilayah laut seluas sekitar 3,5 juta kilometer persegi, sebagian besar wilayah Kiribati hanya sedikit berada di atas permukaan laut. Kondisi ini membuatnya sangat rentan terhadap gelombang pasang besar, kenaikan permukaan laut, dan hujan lebat.
Dengan daratan yang begitu kecil, Kiribati sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut. Di Tarawa, titik tertingginya hanya sekitar tiga meter di atas permukaan laut. Jejak erosi terlihat di mana-mana: pohon-pohon tumbang berserakan di area yang dulu menjadi tempat piknik dan pantai, rumah-rumah mulai ditinggalkan karena air laut semakin mendekat, dan karung-karung pasir berjajar di tepi pantai sebagai benteng sederhana. Saat pasang besar bulan purnama, gelombang menerjang jembatan penghubung utama dan menggenangi rumah-rumah warga.
Sekitar separuh penduduk Kiribati, dari total populasi yang diperkirakan mencapai 120.000 orang, tinggal di ibu kota, Tarawa Selatan. Pulau utama ini sudah sangat padat dan hampir tidak memiliki ruang yang cukup untuk menampung penduduknya. Tingginya angka kelahiran, yaitu 26 kelahiran per 1.000 orang, serta perpindahan penduduk dari pulau-pulau terluar ke Tarawa Selatan, membuat kepadatan penduduk semakin memperburuk masalah kesehatan, sosial, dan lingkungan.
Krisis air menjadi salah satu persoalan utama. Kenaikan permukaan laut dan kekeringan membuat air tanah semakin asin dan tidak layak minum, sehingga mengurangi ketersediaan air untuk minum, memasak, dan menjaga kebersihan.
Akses layanan kesehatan di Kiribati juga masih menjadi tantangan besar, terutama bagi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau terpencil. Kasus hipertensi dan diabetes pada perempuan hamil terus meningkat, dan jika tidak terdeteksi sejak dini, kondisi ini dapat berdampak serius bagi kesehatan ibu dan bayi.

Apoteker Doctors Without Borders, Jasmine Vicentillo, bekerja melatih staf perawat di Abaiang untuk mengoptimalkan praktik manajemen inventaris termasuk pembuangan limbah medis. Logistik farmasi merupakan tantangan di pulau-pulau terpencil Kiribati, dengan jarak tempuh yang jauh, panas tropis, listrik terbatas, dan kurangnya fasilitas pengelolaan limbah. Kiribati, 2024. © Victor Caringal/MSF
- Madagaskar
Madagaskar merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Setiap tahun, dari November hingga April, negara ini menghadapi musim siklon yang semakin memperparah kondisi masyarakat yang sudah rentan. Karena terletak di Samudra Hindia, Madagaskar kerap dilanda cuaca ekstrem dan sulit pulih sepenuhnya sebelum bencana berikutnya datang. Sejak 2022, sebanyak 12 badai tropis dan siklon telah menerjang pulau ini selama musim siklon, berdampak pada lebih dari dua juta orang dan menyebabkan kerusakan besar.
Di Madagaskar bagian selatan, masyarakat yang sudah berulang kali menghadapi kekeringan dan masih terbatas aksesnya terhadap infrastruktur dasar kini semakin tertekan oleh siklon. Sebagian besar penduduk di wilayah pedesaan ini bekerja sebagai petani, sehingga hidup mereka sangat bergantung pada kondisi iklim. Ketika bencana alam dan cuaca ekstrem terjadi, mereka pun menjadi sangat rentan terdampak.
Pada awal 2025, pulau ini diterjang dua badai, yaitu Siklon Honde dan Siklon Jude, yang menyebabkan kerusakan parah dan berdampak pada ribuan orang. Banjir dan angin kencang merusak infrastruktur penting, sekaligus merendam ribuan hektare lahan pertanian.

Tanah masih tergenang air setelah berlalunya Topan Honde. Madagascar, Maret 2025. © Nomena Tavina Rajerison/MSF
Negara-negara yang Mengalami Krisis Iklim
Dampak terhadap lingkungan
Kekerasan dan konflik
Di seberang Sahel, di sub-Sahara Afrika, perubahan iklim telah berkontribusi pada ketidakseimbangan lahan yang tersedia bagi para penggembala dan petani. Persaingan memperebutkan sumber daya dan ketidakmampuan pihak berwenang untuk menegosiasikan akses terhadap tanah telah mengakibatkan konflik antara kedua kelompok, memperparah tindak kekerasan dan ketidakamanan di seluruh wilayah tersebut, yang kami sikapi dengan menyediakan layanan medis. Pada akhirnya, konflik sering menyebabkan orang-orang kehilangan tempat tinggal.
Edward Nyam dan keluarganya telah tinggal di pengungsian Mbawa di Benue, Nigeria, sejak Januari 2018, sejak kekerasan mengharuskan mereka meninggalkan rumahnya di Guma. Sebelum mereka meninggalkan tempat itu, salah satu putra Edward terbunuh dalam kekerasan tersebut.
Negara-negara bagian 'sabuk tengah' Nigeria menjadi tempat tinggal bagi para pengungsi domestik dalam jumlah terbesar di negara ini, di luar wilayah timur laut. Sebagian besar berasal dari korban konflik 'petani-penggembala'. Di negara bagian Benue, di mana diperkirakan ada sekitar 160.000 pengungsi (IOM 2019), yang tersebar, para pengungsi tinggal di salah satu dari delapan pengungsian resmi; di pengungsian sementara atau pemukiman informal, - seperti pasar atau sekolah - atau di pemukiman warga.
Benue, Nigeria, 2020 © MSF/Scott Hamilton
Seidi Bore, 45 tahun, Mariam Hamadou, 35 tahun, Harouna, 1 tahun, dan Younoussa, 13 tahun, sedang duduk di dekat rumah mereka di lokasi pengungsian Élevage, di pinggiran kota Bambari, Ouaka, di Republik Afrika Tengah. Lebih dari 15.000 orang tinggal di pengungsian di pinggiran Bambari ini.
Semua anggota keluarga ini, kecuali si bungsu, menderita sakit sejak mereka meninggalkan desa Boyo yang berjarak 120 km, di tengah-tengah konflik.
Kondisi kesehatan Mariam memburuk ketika ia melahirkan Harouna. Dia dirujuk dari pusat kesehatan Doctors Without Borders di Élevage ke rumah sakit Bambari, tempat kami beroperasi.
Kebutuhan medis dan kesulitan sehari-hari masyarakat Ouaka hampir tidak terlihat oleh masyarakat internasional dan Republik Afrika Tengah tetap menjadi krisis 'terlupakan' yang berkepanjangan. Situasi di Ouaka mencerminkan situasi serupa di wilayah lain di seluruh negara ini. Masyarakat di Republik Afrika Tengah menghadapi banyak hambatan yang menghalangi mereka untuk mendapatkan perawatan medis secara tepat waktu. Hambatan yang paling serius adalah pengusiran yang disebabkan oleh siklus kekerasan yang berulang-ulang, dan fakta bahwa, bagi sebagian besar orang, perawatan kesehatan yang berkualitas tetap tidak terjangkau dan tidak tersedia. Beberapa fasilitas kesehatan yang berfungsi tidak dilengkapi dengan peralatan yang memadai, kekurangan tenaga medis yang terampil dan obat-obatan, serta letaknya yang jauh dari jangkauan masyarakat.
Central African Republic, December 2020 © Adrienne Surprenant/Collectif ITEM
Seorang staf Doctors Without Borders memeriksa kesehatan seorang anak di pintu masuk rumah sakit Doctors Without Borders di Ulang, di timur laut Sudan Selatan.
Ulang adalah daerah terpencil di dekat perbatasan Etiopia, di mana penduduknya telah hidup selama bertahun-tahun dalam peperangan dan sering menjadi sasaran pertempuran antar-komunal. Sudan Selatan, 2019 © Igor Barbero
Cuaca ekstrem
Ketika cuaca ekstrem terjadi semakin sering dan semakin parah, risiko cedera, penyakit menular, dan malnutrisi ikut meningkat. Dampak lainnya yang sangat serius adalah pengungsian: banjir, badai, dan siklon dapat membuat orang kehilangan rumah atau terpaksa meninggalkannya demi keselamatan. Jutaan orang telah mengungsi akibat kondisi yang diperburuk oleh perubahan iklim. Sepanjang tahun 2024, tim kami merespons banjir berkepanjangan di sekitar Old Fangak, Sudan Selatan, yang telah merendam desa-desa sekitar dan memaksa ribuan orang mengungsi.
“Oya”: Peringatan Dampak Krisis Iklim terhadap Kesehatan
Doctors Without Borders menggunakan seni sebagai cara yang kuat untuk membangun kesadaran dan mengajak orang bertindak. Oya (“Ayo” dalam beberapa bahasa di Nigeria) menyatukan para musisi dan penari Afrika Barat untuk menyampaikan satu pesan yang jelas: saatnya bertindak sekarang.
Inisiatif ini dikemas dalam sebuah video musik yang memadukan karya orisinal seniman Mao Sidibé dengan koreografi dari École des Sables—sekolah tari ternama asal Senegal yang didirikan oleh Germaine Acogny.
Lirik Oya terinspirasi dari kesaksian pasien dan staf Doctors Without Borders di Niger, Kamerun, dan Madagaskar, serta mengangkat pengalaman komunitas yang terdampak langsung oleh krisis iklim. Proyek ini menyampaikan pesan yang jelas: perubahan iklim mengancam kesehatan manusia melalui penyebaran penyakit menular, cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, dan suhu bumi yang terus meningkat.
- Topan di Filipina
Pada tahun 2013, Topan Haiyan—salah satu topan super terkuat yang pernah tercatat—menewaskan lebih dari 6.300 orang dan memaksa empat juta orang di Filipina mengungsi. Infrastruktur penting rusak atau hancur, sementara pasokan bantuan darurat hanyut terbawa arus.
Filipina kini menjadi salah satu negara yang berada di garis depan krisis iklim. Siklon tropis datang semakin sering, dengan dampak yang semakin parah dan merusak. Ini terlihat dari berbagai bencana yang terjadi, seperti Topan Kalmaegi, yang menyebabkan 400.000 orang mengungsi dan membuat rumah sakit terpaksa tetap beroperasi di tengah banjir, serta gelombang pasang dahsyat yang terjadi baru-baru ini pada tahun 2024. Hanya dalam hitungan minggu, negara ini juga dilanda Badai Tropis Trami dan Topan Super Man-yi, rangkaian bencana beruntun yang menghancurkan infrastruktur lokal hingga nyaris lumpuh.
Beberapa warga mengungsi ke Sekolah Dasar Dinadiawan selama badai, namun mendapati atap bangunan terlepas dan pohon-pohon merobohkan dinding semen. Delia Macalipay, 63 tahun, mengungsi ke sana bersama keluarganya. Karena angin kencang, kaca jendela pecah, melukai kakinya. Filipina, 2024 © Regina Layug Rosero/MSF
- Banjir dahsyat di Indonesia
Pada akhir 2025, Siklon Tropis Senyar membawa hujan lebat yang memicu banjir bandang di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, meninggalkan lapisan lumpur tebal yang bahkan mencapai atap rumah. Per 14 Januari 2026, data resmi mencatat lebih dari 1.000 korban jiwa dan lebih dari 130.000 orang mengungsi di ketiga provinsi tersebut.
Di Kabupaten Aceh Tamiang, rusaknya infrastruktur penting serta terputusnya listrik dan komunikasi membuat situasi semakin genting. Kota gelap gulita, hampir seluruh fasilitas kesehatan lumpuh, dan masyarakat tidak dapat mengakses layanan medis yang sangat mereka butuhkan.
Pemandangan Puskesmas Manyak Payed setelah banjir di Aceh. Indonesia, 2025. © MSF
Meskipun Asia sudah terbiasa menghadapi topan kuat, beberapa negara tempat kami bekerja mengalami cuaca ekstrem yang menyebabkan cedera, memaksa warga mengungsi, dan membutuhkan bantuan kemanusiaan darurat.