Skip to main content
Darurat RD Kongo: Doctors Without Borders bersiap melakukan respons skala besar terhadap wabah Ebola Selengkapnya

    Lebanon: Kebutuhan yang semakin meningkat di tengah ketidakpastian satu tahun pasca eskalasi

    MSF nurse taking vital signs

    Perawat di klinik keliling Doctors Without Borders di Nabatieh memeriksa tanda-tanda vital seorang anggota masyarakat. Lebanon 2025 © Maryam Srour/MSF

    “Saya pulang untuk memperbaiki kerusakan di rumah,” kata Abdel Karim, suaranya hampir tenggelam oleh dengungan drone Israel di atas kepala. “Namun, tanpa rasa aman dan kemampuan membeli kebutuhan dasar seperti obat-obatan, bagaimana mungkin kami bisa hidup seperti dulu lagi?” 

    Satu tahun telah berlalu sejak Israel melancarkan serangan militer ke Lebanon, namun krisis kemanusiaan masih jauh dari selesai. Meskipun kesepakatan gencatan senjata tercapai pada November 2024, serangan Israel masih terjadi hampir setiap hari, menghambat upaya pemulihan warga sekaligus membatasi akses terhadap layanan kesehatan. Pasukan Israel masih menduduki sejumlah titik di sepanjang perbatasan selatan, mencegah kepulangan warga dan membuat lebih dari 82.000 orang mengungsi (sumber: IOM).

    Di sini, tidak ada satu hari pun berlalu tanpa orang-orang yang kembali mengalami kehancuran. Suara drone, penjajahan yang terus-menerus, dan serangan udara tanpa henti semakin memperparah penderitaan masyarakat.
    Tharwat Saraeb, Psikolog

    Membersihkan puing-puing

    Abdel Karim kembali ke kotanya di Distrik Bint Jbeil, Provinsi Nabatiyeh—salah satu wilayah yang terdampak paling parah. Kini ia bisa memperoleh obat-obatan untuk penyakit kronisnya melalui klinik keliling Doctors Without Borders/Médecins Sans Frontières (MSF). Ribuan keluarga di seluruh Lebanon menghadapi kesulitan serupa untuk mengakses layanan kesehatan, sambil berusaha membangun kembali kehidupan mereka setelah melalui masa pengungsian, kehilangan, dan ketidakpastian. 

    Di Lebanon selatan, perang telah menghancurkan infrastruktur, termasuk fasilitas kesehatan. Pada puncak eskalasi, delapan rumah sakit—sebagian besar di wilayah selatan—dievakuasi. Sebanyak 21 rumah sakit, atau sekitar 13 persen dari total rumah sakit di Lebanon, rusak berat sehingga kapasitas layanan menurun drastis atau terpaksa ditutup. Sebanyak 133 fasilitas kesehatan primer juga berhenti beroperasi, sementara Nabatieh kehilangan hingga 40 persen kapasitas rumah sakitnya. Hingga kini, banyak fasilitas tetap tutup dan sebagian besar membutuhkan rehabilitasi.

    Sebagai respons, Doctors Without Borders memulai operasi baru di provinsi-provinsi yang paling parah terdampak, yakni Nabatieh, Lebanon Selatan, dan Baalbek-Hermel, sembari tetap mempertahankan layanan di Beirut, Bekaa, dan Wilayah Utara. Di wilayah selatan, di mana layanan kesehatan yang tersedia sulit dijangkau karena keterbatasan finansial, Doctors Without Borders mendirikan klinik keliling untuk memastikan akses masyarakat terhadap layanan medis serta kesehatan mental yang sangat dibutuhkan. Selain itu, Doctors Without Borders merehabilitasi dan mendukung tiga pusat kesehatan primer guna memulihkan penyediaan layanan di daerah yang menjadi tujuan pengungsi.

    Rubble in Lebanon

    Banyak bangunan masih hancur di Lebanon selatan satu tahun setelah eskalasi perang Israel di Lebanon, Aita ash-Shaab, Agustus 2025. Lebanon 2025 © Maryam Srour/MSF

    Beban berat

    “Perang meninggalkan dampak yang sangat besar bagi masyarakat yang terdampak langsung,” ujar Tharwat Saraeb, psikolog dari klinik keliling Doctors Without Borders di Provinsi Nabatieh. “Di sini, tidak ada satu hari pun berlalu tanpa orang-orang yang kembali mengalami kehancuran. Suara drone, penjajahan yang terus-menerus, dan serangan udara tanpa henti semakin memperparah penderitaan masyarakat.” 

    Tim Doctors Without Borders di lapangan terus menyaksikan jatuhnya korban jiwa akibat eskalasi konflik dan dampak jangka panjang yang tak kunjung mereda. Banyak pasien hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian, sehingga tidak mampu memulai proses pemulihan. Kebutuhan layanan kesehatan mental pun sangat mendesak, karena anak-anak maupun orang dewasa sama-sama mengalami stres, kecemasan, dan rasa takut yang berkepanjangan.

    “Anak perempuanku pingsan setiap kali mendengar suara serangan, meskipun serangan itu jauh,” kata Samira, seorang pasien klinik keliling Doctors Without Borders. “Dia memiliki anak kecil, dan kami semua gemetar ketakutan—hal ini memengaruhi kami sepenuhnya.”

    MSF staff with patient

    Samira Hamze, 69, mengunjungi klinik keliling Doctors Without Borders di Nabatieh untuk mendapatkan pengobatan kronis. "Saya tinggal di Zawtar hingga eskalasi dimulai," kata Samira, "Kami melarikan diri di bawah bombardir hebat, dan serangan udara terus mengikuti kami. Hari itu, kami menghabiskan hampir 12 jam di jalan. Kami pergi tanpa apa-apa—hanya anak dan cucu kami—yang berlari menyelamatkan diri." Lebanon 2025 © Maryam Srour/MSF

    Penderitaan yang sama

    Perang menghancurkan kehidupan keluarga Lebanon, pengungsi, dan migran. Lebanon kini menjadi rumah bagi lebih dari satu juta pengungsi Suriah, ratusan ribu warga Palestina, serta banyak migran yang sudah lama hidup dalam kondisi rentan. Komunitas ini kerap terabaikan dalam upaya bantuan selama eskalasi, padahal mereka menghadapi kebutuhan mendesak yang sama: makanan, tempat tinggal, dan layanan kesehatan. Setahun berlalu, kebutuhan pengungsi dan migran tetap terpinggirkan, sementara akses mereka ke layanan kesehatan sekunder melalui organisasi kemanusiaan semakin terancam. 

    Pada akhir 2025, UNHCR dan Organisasi Internasional untuk Migrasi akan menghentikan pembiayaan layanan kesehatan sekunder. Sementara itu, UNRWA dan UNICEF menghadapi pemangkasan dana yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pemotongan dana global berskala besar terhadap program kemanusiaan membuat banyak kebutuhan tidak terpenuhi, menciptakan kerentanan baru, sekaligus memperparah situasi yang sudah ada.

    Bagi orang-orang seperti Abdel Karim dan Samira, membangun kembali kehidupan tetap menjadi perjuangan berat. Tim Doctors Without Borders berkomitmen untuk terus menyediakan layanan kesehatan di mana pun dibutuhkan, memastikan masyarakat tidak ditinggalkan tanpa akses. Namun, pemulihan sejati hanya mungkin tercapai jika mereka dapat hidup tanpa rasa takut serta memperoleh layanan medis, kesehatan mental, dan kebutuhan dasar lainnya untuk membangun kembali kehidupan mereka

    MSF in Lebanon

    Aktivitas Doctors Without Borders di Lebanon sebelum, selama, dan setelah eskalasi perang Israel pada bulan September 2024. © MSF

    Doctors Without Borders di Lebanon

    Doctors Without Borders saat ini beroperasi di tujuh provinsi di Lebanon. Di Beirut, Doctors Without Borders menjalankan dua klinik tetap di Bourj Hammoud dan Bourj El-Barajneh. Di Baalbek-Hermel, terdapat dua klinik tetap di Hermel dan Arsal, serta tiga klinik keliling. Di Lebanon Selatan, Doctors Without Borders mengoperasikan tiga klinik keliling di Nabatieh dan mendukung tiga pusat layanan kesehatan primer. Di Lebanon Utara, Doctors Without Borders membantu lima pusat kesehatan primer di Tripoli. Sementara di Bekaa dan Akkar, masing-masing tersedia satu klinik keliling.

    Antara 23 September 2024 hingga 1 September 2025, Doctors Without Borders telah menyediakan atau mendukung:

    • 175.338 konsultasi medis
    • 14.179 konsultasi kesehatan mental individu
    • 12.433 konsultasi kesehatan mental kelompok
    Categories