Lebanon: Sistem Layanan Kesehatan Kewalahan setelah 46 Hari Pemboman
Unit keliling Doctors Without Borders memberikan dukungan kepada keluarga pengungsi di tempat penampungan di Beirut. Maret 2026, Lebanon © Maryam Srour/MSF
Perang di Lebanon—yang kini berada di bawah gencatan senjata rapuh selama 10 hari—berdampak fatal pada sistem kesehatan dan tenaga medis di negara tersebut. Serangan udara oleh pasukan Israel tidak hanya menewaskan dan melukai banyak orang, tetapi juga menyasar petugas tanggap darurat, lingkungan sekitar, dan rumah sakit, sehingga membahayakan tenaga kesehatan; banyak di antara mereka yang terluka dan tewas. Meskipun demikian, tenaga kesehatan Lebanon tetap berupaya memberikan perawatan penyelamat nyawa di bawah tekanan yang luar biasa.
Di Lebanon selatan, staf layanan kesehatan bekerja tanpa henti menangani arus masuk korban luka dan tewas yang hampir setiap hari dibawa ke rumah sakit. Pasien, termasuk anak-anak, datang dengan luka parah seperti pendarahan hebat, amputasi akibat trauma, dan luka kompleks. Tenaga kesehatan kerap diliputi kecemasan karena di antara korban mungkin terdapat anggota keluarga atau orang yang mereka kenal.
“Tenaga kesehatan di Rumah Sakit Nabatiyeh tidur di dalam rumah sakit selama total 46 hari,” kata Tania Hachem, penanggung jawab program medis Doctors Without Borders/Médecins Sans Frontières (MSF). “Sebagian dari mereka tidak dapat menemui keluarga, sementara yang lain membawa kerabat mereka untuk tinggal bersama di rumah sakit.”
Di Nabatiyeh, Lebanon selatan, ribuan orang terpaksa mengungsi akibat serangan udara besar-besaran pasukan Israel dan perintah evakuasi massal. Namun, banyak keluarga memilih tetap tinggal, dan tenaga medis tetap berada di pos mereka, bekerja tanpa henti demi menjaga layanan penyelamatan nyawa tetap berjalan. Di Rumah Sakit Pemerintah Nabatiyeh, sekitar 42 keluarga, tenaga medis, serta anak-anak mereka berlindung di dalam rumah sakit. Hanya beberapa kilometer dari sana, staf di Rumah Sakit Najdeh Chaabiye juga menangani insiden korban massal sekaligus berlindung di dalam rumah sakit. Aktivitas di dalam kota sangat berbahaya akibat serangan yang terus-menerus oleh pasukan Israel, bahkan untuk memperoleh pasokan dasar pun ambulans harus pergi ke kota lain.
“Sebagian dari rencana siaga darurat kami adalah memastikan semua orang tetap berada di dalam rumah sakit, sehingga tidak perlu bolak-balik,” ujar Dr. Mona Abu Zeid, direktur Rumah Sakit Najdeh Chaabiye di Nabatiyeh, yang juga menetap di rumah sakit selama eskalasi. “Para dokter tidur di sini, dan anak-anak mereka tinggal bersama mereka.” Pasien yang terluka akibat serangan Israel dibawa dengan kondisi parah, pendarahan hebat, dan luka yang mengancam nyawa.
“Terkadang anak-anak datang ke rumah sakit bersama kedua orang tua mereka yang telah meninggal.”
Unit medis keliling Doctors Without Borders memberikan respons di Homentment, Beirut. Maret 2026, Lebanon © Maryam Srour/MSF
Menyediakan layanan kesehatan di tengah serangan
Sejak 2 Maret, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan hampir setiap hari terjadi serangan terhadap fasilitas kesehatan—total 147 serangan—hingga gencatan senjata 10 hari yang baru-baru ini diberlakukan. Serangan tersebut merusak rumah sakit, menewaskan lebih dari 100 orang, dan melukai 233 tenaga kesehatan, termasuk insiden ketika tim medis diserang saat menangani pasien terluka di lokasi yang sama berulang kali. Setidaknya enam rumah sakit terpaksa ditutup, sementara banyak lainnya mengalami kerusakan.
At Di Rumah Sakit Pemerintah Nabatiyeh, hanya beberapa jam setelah berbincang dengan seorang paramedis, Dr. Ahmad menerima jenazah rekannya yang tewas. Governmental Hospital, just hours after speaking with a paramedic, Dr Ahmad received the body of his colleague - killed.
“Pagi itu kami sempat bersama di luar, hanya mengobrol,” kata Dr. Ahmad Zreik, dokter umum di Rumah Sakit Pemerintah Nabatiyeh. “Lalu dia pergi untuk menangani keadaan darurat. Dia mengalami luka parah dan akhirnya meninggal. Kami baru saja bertemu pagi itu—semuanya terasa biasa saja, sampai tiba-tiba berubah. Dia seorang paramedis. Dia pergi dan tidak pernah kembali. Yang kembali hanyalah jasadnya, tanpa jiwanya.”
Rumah sakit yang didukung Doctors Without Borders di Sour dan Nabatiyeh juga terdampak serangan di sekitarnya. Di Sour, staf medis di Rumah Sakit Hiram terluka akibat pecahan kaca. Di Rumah Sakit Lebanon-Italia, ledakan bom di sekitar area merusak peralatan medis, termasuk mesin dialisis ginjal. Sementara itu, di Rumah Sakit Jabal Amel, tenaga medis harus membersihkan pecahan kaca dan memperbaiki jendela yang hancur akibat ledakan di dekat fasilitas tersebut.
Gencatan senjata sementara selama 10 hari ini masih sangat rapuh. Para tenaga kesehatan di rumah sakit berusaha beristirahat, sambil tetap bersiap menghadapi kemungkinan kembalinya konflik. Doctors Without Borders terus mendukung sejumlah rumah sakit—termasuk Rumah Sakit Jabal Amel, Rumah Sakit Lebanon-Italia di Sour/Tyre, Rumah Sakit Pemerintah Nabatiyeh, Rumah Sakit Najdeh al-Shaabiyeh di Nabatiyeh, serta Rumah Sakit Rafik Hariri dan Rumah Sakit Pemerintah Baalbek—melalui donasi, serta dukungan layanan trauma dan gawat darurat.
Dukung pekerjaan kemanusiaan kami
Bantu kami menyediakan perawatan medis penyelamat nyawa selama keadaan darurat dengan berdonasi hari ini.