RD Kongo: Doctors Without Borders Perkuat Respons untuk Tangani Wabah Penyakit Ebola yang Terus Menyebar
Staf Doctors Without Borders sedang dilatih di markas besar Brussels sebelum penugasan mereka dalam penanganan penyakit Ebola. Belgia, 2026. © Pierre Fromentin/MSF
Di wilayah timur Republik Demokratik Kongo (RD Kongo), masyarakat telah bertahun-tahun hidup di tengah situasi keamanan yang tidak stabil dan menghadapi sistem kesehatan yang serba terbatas. Kini, wabah penyakit Ebola yang disebabkan oleh virus Bundibugyo — yang belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus yang disetujui — menjadi tantangan besar tambahan bagi mereka.
Tim Doctors Without Borders bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk membantu mengendalikan penyebaran penyakit dan meningkatkan perawatan bagi pasien.
Per 28 Mei, secara resmi telah dilaporkan 125 kasus terkonfirmasi, 906 kasus dugaan, dan 223 kematian di provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan. Namun, seberapa luas sebenarnya penyebaran wabah ini masih sulit dipastikan. Kapasitas pengujian yang sangat terbatas dan sulitnya akses ke sejumlah wilayah membuat angka-angka tersebut perlu dibaca dengan hati-hati.
Ituri, yang menjadi pusat wabah ini, mencatat lebih dari 90 persen kasus dugaan yang telah dilaporkan. Jumlah kasus terus meningkat di zona kesehatan Mongbwalu dan Rwampara.
“Kami bekerja dalam kondisi yang sangat sulit,” kata Dr. Alan Gonzalez, Wakil Direktur Operasi Doctors Without Borders. “Selama dua minggu terakhir, kemampuan kami untuk mengirim pasokan dan tim ke wilayah terdampak terhambat oleh pembatasan perjalanan udara dan darat."
Kapasitas pengujian masih jauh dari memadai, dan ratusan sampel masih menunggu diproses di laboratorium. Kapasitas isolasi dan perawatan juga belum mencukupi. Semua ini menghambat peningkatan respons cepat serta menimbulkan kecemasan dan ketakutan di tengah masyarakat.Dr Alan Gonzalez, Wakil Direktur Operasi Doctors Without Borders
"Kapasitas pengujian masih jauh dari memadai, dan ratusan sampel masih menunggu diproses di laboratorium. Kapasitas isolasi dan perawatan juga belum mencukupi. Semua ini menghambat peningkatan respons cepat serta menimbulkan kecemasan dan ketakutan di tengah masyarakat," lanjutnya.
Saat ini, hanya sedikit organisasi khusus — termasuk Doctors Without Borders — yang terlibat dalam respons wabah ini di Ituri, sementara kebutuhan masyarakat jauh melampaui kapasitas yang tersedia.
Di Ituri, tim Doctors Without Borders mulai membangun pusat perawatan Ebola (Ebola Treatment Centre/ETC) dengan kapasitas 65 tempat tidur untuk merawat kasus terkonfirmasi maupun kasus dugaan. Kami juga bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dalam perawatan dan isolasi kasus-kasus dugaan di Rumah Sakit Rujukan Umum Mongbwalu serta Rumah Sakit Rujukan Umum Fataki.
Di Bunia, ibu kota Ituri, Doctors Without Borders telah menyiapkan sistem isolasi bagi pasien di Rumah Sakit Salama. Kami juga mendukung beberapa fasilitas kesehatan di dalam dan sekitar kota tersebut untuk memperkuat penanganan yang aman terhadap kasus dugaan maupun terkonfirmasi. Tim-tim kami turut memperkuat langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi. Langkah ini sangat penting untuk mencegah infeksi nosokomial, terutama ketika layanan kesehatan sedang berada di bawah tekanan berat.
Pada saat yang sama, tim medis, logistik, dan promosi kesehatan mendukung kegiatan surveilans epidemiologi serta peningkatan kesadaran masyarakat. Kerja sama yang erat dengan masyarakat sangat penting karena, di banyak daerah, kekhawatiran, ketakutan, dan penyebaran rumor mempersulit upaya penanggulangan serta dapat membuat masyarakat menunda mencari perawatan tepat waktu.
Tim Doctors Without Borders, dengan dukungan Kementerian Kesehatan, melaksanakan kegiatan pencegahan dan pengendalian infeksi di Klinik Salama di Bunia sebagai bagian dari respons terhadap penyakit Ebola. Kegiatan tersebut meliputi disinfeksi fasilitas, pemasangan tenda isolasi, penguatan kapasitas triase dan isolasi, serta pelatihan petugas kesehatan tentang penggunaan alat pelindung diri (APD) yang aman dan prosedur kebersihan. Doctors Without Borders juga mendukung keberlanjutan layanan kesehatan non-Ebola di klinik tersebut. DRC, 2026. © Anna SCHÖNHOFER/MSF
Di luar wabah penyakit Ebola itu sendiri, tim Doctors Without Borders melihat bagaimana wabah ini semakin mempersulit akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Di beberapa wilayah, pasien dengan kondisi medis lain tidak lagi mencari perawatan di fasilitas kesehatan karena takut tertular Ebola atau harus menjalani isolasi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kasus-kasus darurat kesehatan lainnya dapat meningkat tanpa terdeteksi.
Di Kivu Utara, respons terhadap wabah ini dilakukan dengan memanfaatkan sistem yang sudah ada sebelumnya, yang dibentuk untuk merespons berbagai wabah yang melanda provinsi ini dalam beberapa tahun terakhir, termasuk Ebola, Mpox, dan kolera. Di Goma, sebuah pusat perawatan Ebola berkapasitas 80 tempat tidur telah didirikan, dan pasien pertama telah dirawat di sana. Unit isolasi juga telah disiapkan bagi mereka yang diduga mengidap penyakit ini di sejumlah fasilitas kesehatan yang didukung Doctors Without Borders, termasuk di Walikale, Mweso, Rutshuru, serta Rumah Sakit Kyeshero. Di Butembo, Doctors Without Borders telah mengirimkan tim medis-logistik untuk menilai kebutuhan masyarakat dan mengidentifikasi area respons, bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan.
Di Kivu Selatan, di mana beberapa kasus telah dikonfirmasi, tim Doctors Without Borders mulai mendirikan dua pusat perawatan Ebola di Bukavu dan Lwiro. Pada saat yang sama, kami melatih tenaga kesehatan dalam pencegahan dan pengendalian infeksi di kedua kota tersebut.
Kargo peralatan medis dan obat-obatan siap diterbangkan ke RD Kongo. Tim logistik Doctors Without Borders telah mengirimkan lebih dari satu ton pasokan medis ke RD Kongo bagian timur sebagai bagian dari respons terhadap wabah penyakit Ebola. Prancis, 26 Mei 2026. © Delphine Lapeyre/MSF
Tanggap darurat medis sedang berlangsung
“Wabah ini berdampak pada wilayah-wilayah yang sudah sangat rapuh akibat konflik berkepanjangan dan pengungsian massal selama bertahun-tahun,” jelas Ewald Stals, Perwakilan Doctors Without Borders di RD Kongo.
“Di Ituri, serta di Kivu Utara dan Kivu Selatan, situasi keamanan yang tidak stabil telah memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat berlindung. Perpindahan penduduk yang terus terjadi ini diperparah oleh sistem kesehatan yang rapuh dan kekurangan dana,” kata Stals. “Di beberapa fasilitas kesehatan, kapasitas rawat inap dan isolasi sudah mencapai batasnya. Dalam kondisi seperti ini, identifikasi kasus secara cepat, pelacakan kontak, dan isolasi pasien menjadi sangat sulit, sehingga risiko penyebaran penyakit semakin meningkat.”
Doctors Without Borders melakukan segala upaya untuk mendukung respons ini. Meski menghadapi kendala keamanan dan akses — termasuk penutupan perbatasan dan pembatalan penerbangan — tim Doctors Without Borders terus bekerja untuk memastikan pasokan penting tetap sampai ke daerah-daerah terdampak. Ratusan ton pasokan medis dan logistik telah dikirimkan ke Ituri dan Kivu Utara.
Seiring dengan terus bertambahnya kasus dan upaya tanggap darurat yang masih terus dikembangkan, beberapa minggu ke depan akan menjadi masa yang sangat penting untuk memperkuat kapasitas perawatan, mempercepat pengujian, dan menjaga akses masyarakat terhadap layanan kesehatan esensial di wilayah-wilayah terdampak.
Dukung pekerjaan kemanusiaan kami
Bantu kami menyediakan perawatan medis penyelamat nyawa selama keadaan darurat dengan berdonasi hari ini.