Kesehatan global dalam bahaya: Pemotongan pendanaan ancam perjuangan melawan AIDS, TB, dan malaria
Staf medis memberikan pengobatan malaria kepada pasien yang tidak parah. Sudan Selatan, 2024 © Paula Casado Aguirregabiria/MSF
Pada bulan Januari, Amerika Serikat—yang sebelumnya merupakan penyandang dana terbesar program kesehatan global—mengumumkan penangguhan dan peninjauan semua bantuan internasional. Sejak saat itu, hampir 3 miliar dollar AS dari total 6 miliar dollar AS yang mereka janjikan kepada Dana Global untuk Memerangi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (Global Fund) untuk periode 2023 hingga 2025 masih belum terpenuhi. Donor-donor utama, termasuk AS, juga belum mengumumkan janji pendanaan mereka untuk siklus pendanaan tiga tahunan Global Fund berikutnya yang jatuh tempo pada bulan November.
Global Fund telah lama memainkan peran fundamental dalam mendukung sistem kesehatan yang rapuh di Afrika, Asia, Amerika Latin, dan kawasan lainnya. Hibah dari lembaga ini membantu pembelian obat-obatan dan tes diagnostik, membayar petugas kesehatan, dan mempertahankan upaya pencegahan penyakit. Tanpa janji pendanaan yang substansial dalam beberapa minggu dan bulan mendatang, kemajuan yang telah dicapai selama puluhan tahun dalam mengurangi penyakit dan kematian dapat berbalik arah.
Doctors Without Borders, yang setiap tahun memberikan perawatan medis kepada puluhan ribu pasien HIV atau TB dan lebih dari 3 juta orang dengan malaria, sangat prihatin terhadap dampak melemahnya dukungan untuk Global Fund. Meskipun pekerjaan Doctors Without Borders tidak didanai oleh Global Fund, ratusan organisasi kesehatan berbasis komunitas yang sangat bergantung pada dukungan lembaga ini kini mengurangi rencana kerja mereka di tengah ketidakpastian keuangan dan ancaman pemotongan.
“Konsekuensinya sudah terlihat,” kata Antonio Flores, Penasihat Senior HIV/TB, Doctors Without Borders. “Di Honduras, pemotongan mendadak oleh PEPFAR menghentikan program pencegahan dan perawatan HIV. Pasien kehilangan akses ke profilaksis pra-pajanan (pre-exposure prophylaxis/PrEP) dalam semalam, dan petugas kesehatan kehilangan pekerjaan. Kami sekarang melihat pasien kembali dengan infeksi oportunistik tingkat lanjut.”
Di Kinshasa, Doctors Without Borders telah mengembangkan model perawatan yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak tahun 2020, yang mengakhiri fragmentasi layanan: "Layanan Terpadu untuk PMTCT." Di enam fasilitas kesehatan, tim Doctors Without Borders telah menyiapkan model terpadu di bangsal bersalin tempat ibu hamil atau menyusui yang dites positif HIV, serta bayi yang terpapar, menerima perawatan komprehensif. Republik Demokratik Kongo, 2024 © Franck Ngonga/MSF
Kenyataan penyakit menular adalah ketika dibiarkan tanpa kendali, penyakit-penyakit tersebut akan memburuk dan menyebar. Memotong pendanaan merusak kemajuan bertahun-tahun yang telah susah payah dicapai, sementara mempertahankan pendekatan yang berhasil dan mendukung inovasi yang menjanjikan dapat menyelamatkan nyawa.
Meskipun ada kemajuan medis, HIV masih menyebabkan sekitar 1,3 juta infeksi baru dan lebih dari 600.000 kematian setiap tahun. Organisasi berbasis komunitas yang didukung oleh Global Fund telah terbukti sangat efektif dalam meningkatkan hasil pencegahan dan pengobatan. Kemajuan mereka tidak boleh dihentikan.
PrEP suntik yang baru menawarkan perlindungan yang menjanjikan bagi orang-orang dengan risiko tinggi HIV, namun upaya peningkatan skala nasional di Malawi terhenti karena berkurangnya pendanaan AS. Pekerja seks di negara tersebut menghadapi tingkat prevalensi HIV mendekati 60 persen.
Tuberkulosis menyebabkan sekitar 1,5 juta kematian per tahun. Berkat upaya Global Fund dan Pertemuan Tingkat Tinggi PBB tentang TB, semakin sedikit kasus yang tidak terdeteksi. Namun di Sudan, Doctors Without Borders telah menyaksikan peralatan tes TB yang tidak terpakai karena kekurangan staf yang terlatih. Di Belarus, penelitian tentang TB yang resistan terhadap obat yang didukung oleh Doctors Without Borders dan Global Fund baru-baru ini dihentikan karena pendanaan yang tidak terpenuhi.
Malaria tetap menjadi penyebab utama kematian pada anak-anak di bawah lima tahun di negara-negara endemik. Tim Doctors Without Borders di Republik Afrika Tengah, Sudan Selatan, dan Republik Demokratik Kongo melaporkan seringnya kekurangan tes diagnostik dan obat-obatan, serta fasilitas yang kekurangan staf dengan konsekuensi mematikan bagi pasien muda.
Seorang staf Doctors Without Borders memeriksa persediaan obat-obatan. Tim Doctors Without Borders mendukung kegiatan di sebuah klinik di San Pedro Sula untuk meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan medis dan psikologis. Honduras, 2023 © MSF
“Bayangkan mendengar suara anak Anda untuk terakhir kalinya karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Jika Pengisian Dana ke-8 (8th replenishment) tidak dilanjutkan, hal itu akan membahayakan kemajuan selama puluhan tahun, menyebabkan kebangkitan kembali kasus malaria dan hilangnya nyawa yang tidak perlu,” ujar Joseph Wato, Presiden COFIS-CSU Kamerun (Koalisi CSO untuk Pendanaan Kesehatan dan Jaminan Kesehatan Universal di Kamerun).
Gagasan bahwa mobilisasi sumber daya domestik dapat menggantikan pendanaan kesehatan global tidaklah realistis di banyak tempat di mana Doctors Without Borders bekerja. Seperti yang disoroti dalam laporan Doctors Without Borders baru-baru ini, Deadly Gaps (Kesenjangan yang Mematikan), beban biaya semakin ditanggung oleh pasien yang tidak mampu membayar perawatan.
“Seluruh program telah ditutup: Akibatnya, pasien putus tindak lanjut, kepatuhan terhadap pengobatan melemah, dan bukti anekdotal menunjukkan peningkatan kematian yang tidak dapat dijelaskan, kemungkinan terkait dengan gangguan psikososial, kambuh, atau kerawanan pangan,” tambah Direktur Negara Youth Alive Liberia, yang memperkuat kebutuhan mendesak akan dukungan internasional yang berkelanjutan.
Doctors Without Borders mendesak negara-negara Asia Tenggara untuk mempertahankan dukungan penting mereka kepada Global Fund demi komunitas yang sangat terdampak di seluruh dunia. Perjuangan melawan HIV, tuberkulosis, dan malaria adalah tantangan global dan lintas generasi—dan perjuangan ini masih jauh dari selesai.
Dukung pekerjaan kami
Dapatkan kabar cerita dan berita terbaru kami, atau baca tentang staf dan pasien kami.