Skip to main content
Darurat RD Kongo: Doctors Without Borders Perkuat Respons untuk Tangani Wabah Penyakit Ebola yang Terus Menyebar Selengkapnya

    Gaza: Pemerintah Israel membatasi pasokan air bagi warga Palestina

    People queuing for water with jerrycans

    Warga Palestina yang terpaksa mengungsi di Gaza tengah menjajarkan jeriken kosong mereka untuk mendapatkan air. Butuh perjalanan panjang di bawah terik matahari untuk mencapai titik-titik ini, dan jumlah air yang diterima pun sangat sedikit. Palestina, 2025 © MSF

    Israel harus segera mengizinkan impor peralatan darurat untuk pasokan dan distribusi air dalam skala besar. Militer Israel juga harus menghentikan penghancuran infrastruktur air dan mengizinkan perbaikan segera pada sistem yang rusak untuk menjamin akses air yang berkelanjutan bagi penduduk.  Air dan kebutuhan hidup lainnya tidak boleh dijadikan senjata perang. 

    Tidak hanya pasokan air secara keseluruhan tidak memadai bagi penduduk Gaza, tetapi ketergantungan pada distribusi air menggunakan truk juga membuat mereka tidak dapat memprediksi cara memperoleh air. Delapan puluh enam persen wilayah Gaza berada di bawah perintah pengungsian paksa oleh militer Israel, sehingga truk air tidak dapat menjangkau penduduk di daerah tersebut dengan aman. Ketiadaan metode penyimpanan yang memadai di rumah tangga semakin memperparah masalah yang dihadapi warga. 

    Penurunan pasokan air bersih di Gaza telah menyebabkan peningkatan kasus penyakit. Tim medis Doctors Without Borders melakukan lebih dari 1.000 konsultasi untuk diare akut setiap minggu selama sebulan terakhir. Kekurangan air untuk menjaga kebersihan juga membuat masyarakat mengalami berbagai masalah kulit, termasuk kudis

    Air bersih sangat penting bagi rumah sakit, baik untuk mencegah penyebaran infeksi maupun menjaga pasien tetap terhidrasi agar tubuh mereka dapat pulih dari luka dan penyakit. 

    A boy carrying jerrycan of water

    Seorang anak laki-laki berjuang membawa jeriken berisi air kembali ke tenda pengungsian keluarganya. Beban harian yang dipikul anak-anak ini merupakan akibat langsung dari krisis air yang disebabkan oleh manusia. Palestina, 2025 © MSF

    “Air yang tersedia terlalu sedikit untuk jumlah orang yang terlalu banyak,” kata Mohammed Nsier, petugas air dan sanitasi Doctors Without Borders di Gaza. “Jumlah yang dapat kami sediakan sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan, dan kondisinya sangat sulit."

    Israel terus menciptakan kondisi sulit dalam penyediaan air bersih bagi penduduk Gaza. Selama ini, Israel mengontrol sebagian besar aliran air ke wilayah tersebut. Tidak ada sumber air minum alami di Gaza karena pencemaran garam dan limbah kimia, sehingga penduduk sepenuhnya bergantung pada pasokan pipa air dari Israel serta pabrik desalinasi lokal. Namun, infrastruktur penting ini kerap menjadi sasaran serangan militer Israel. 

    Sejak Oktober 2023, Israel telah berulang kali merusak dua dari tiga pipa utama penyuplai air ke Gaza. Diperkirakan, 70 persen air yang mengalir melalui jaringan pipa hilang akibat kebocoran besar yang ditimbulkan oleh bombardemen. Akibat kerusakan tersebut, distribusi air kini bergantung pada truk tangki yang mengambil pasokan dari pabrik desalinasi. Dari total 196 pabrik desalinasi yang dikelola pemerintah maupun lembaga nonpemerintah, lebih dari 60 persen tidak berfungsi karena kerusakan atau lokasi yang tidak lagi dapat diakses.

    Air yang tersedia terlalu sedikit untuk jumlah orang yang terlalu banyak. Jumlah yang dapat kami sediakan sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan, dan kondisinya sangat sulit.
    Petugas Air dan Sanitasi

    Organisasi kemanusiaan menyatakan siap memperbaiki pipa dan instalasi air yang rusak sejak sebelum Oktober 2023, namun Israel terus menghalangi dengan menolak akses ke lokasi perbaikan. Pada lokasi yang masih dapat dijangkau, perbaikan terpaksa dilakukan dengan teknik “Frankenstein” – memanfaatkan bagian dari satu generator atau instalasi rusak untuk memperbaiki yang lain – serta upaya putus asa mencari suku cadang lokal. Hambatan ini terjadi karena Israel menahan masuknya pasokan yang sangat dibutuhkan untuk perbaikan infrastruktur. Ketika barang akhirnya masuk, kedatangannya kerap tertunda berbulan-bulan akibat blokade yang disengaja.

    Tujuh unit pengolahan air milik Doctors Without Borders hanya mampu menyediakan cukup air untuk 65.000 orang dengan jatah 7,5 liter per hari*, jumlah yang jauh di bawah kebutuhan minimum. Selama berbulan-bulan, Doctors Without Borders berupaya memasukkan sembilan unit pengolahan air tambahan ke Gaza untuk meningkatkan kapasitas produksi, namun hingga kini Israel belum memberikan persetujuan atau izin masuk. 

    Hambatan juga terjadi dalam tahap distribusi air. Meskipun truk air berhasil mencapai pabrik desalinasi, mendistribusikan air ke masyarakat tetap sulit karena aktivitas militer dan bombardemen yang terus meluas, bahkan di area yang disebut “zona aman”. Kondisi ini memaksa titik distribusi air berpindah-pindah demi keselamatan. Sepanjang 2025, Doctors Without Borders terpaksa menghentikan penyediaan air di sedikitnya 137 titik distribusi akibat eskalasi kekerasan. Untuk memperoleh air, masyarakat harus berjalan jauh sambil membawa jerigen berat.

    People collecting water from water truck

    Truk air milik Doctors Without Borders menyediakan sumber air minum bersih yang penting. Meskipun memproduksi sekitar 500.000 liter setiap hari, jumlah tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan minimum 80.000 orang. Palestina, 2025 © MSF

    “Anda lihat bagaimana orang-orang sedang berjuang, semua orang sangat membutuhkan air,” kata seorang perempuan yang sedang menunggu distribusi Doctors Without Borders di Kota Gaza. “Jujur saja, sangat, sangat sulit mendapatkan air, bahkan berjalan sedikit saja sudah sangat sulit. Saya tidak tahu harus berkata apa—ini seperti siksaan.”

    Bahaya saat mengumpulkan air diperparah oleh keterbatasannya, dengan kelangkaan air yang memicu ketegangan di lokasi distribusi. Warga menyampaikan kepada staf Doctors Without Borders bahwa mereka takut untuk mengambil air.  Tim kami menyaksikan anak-anak tersesat setelah lokasi distribusi dipaksa pindah akibat perintah pengungsian, serangan udara, atau kerusakan parah yang membuat lingkungan sekitar sulit dikenali.

    “Seperti halnya makanan, pasokan, dan layanan kesehatan, militer Israel membatasi akses air hingga ke tingkat dasar,” kata Ozan Agbas, Manajer Darurat Doctors Without Borders. “Dengan tidak memutus pasokan air sepenuhnya, mereka menciptakan penyangkalan yang masuk akal sekaligus menghalangi warga Palestina dari sarana untuk bertahan hidup."

    * 7,5 liter adalah jumlah minimum air yang dibutuhkan seseorang per hari selama keadaan darurat kemanusiaan, menurut WHO: Water Sanitation and Health


    Catatan tentang produksi air di Gaza

    Organisasi kemanusiaan menghadapi kesulitan besar dalam meningkatkan aktivitas produksi air akibat  pembatasan otoritas Israel (data sejak Juni 2024).

    • Israel kerap menolak izin masuk unit desalinasi baru, serta melarang masuknya komponen penting untuk produksi dan distribusi air, seperti generator, suku cadang, klorin, dan bahan kimia lain yang digunakan untuk pengolahan air. 
    • Dari seluruh permohonan MSF terkait persetujuan masuk barang-barang pokok untuk pengolahan air, hanya 51 persen yang disetujui. Untuk barang yang diperlukan dalam desalinasi air, hanya 11 persen yang disetujui (sisanya ditolak atau masih tertunda). Barang yang sama kadang disetujui sekali, lalu ditolak pada kesempatan berikutnya, misalnya membran dan bagian filter yang digunakan dalam proses desalinasi. 
    • Banyak barang terkait air dan sanitasi masih menunggu persetujuan selama berbulan-bulan. Beberapa permohonan untuk pompa air, suku cadang, dan tangki air telah tertunda hingga ratusan hari. 
    • MSF terpaksa menggunakan teknik “Frankenstein”: untuk mengoperasikan fasilitas, suku cadang diambil dari satu generator untuk memperbaiki generator lain; sementara unit desalinasi dibangun dari suku cadang lokal atau sistem yang sudah rusak. 
    • Pasokan bahan bakar, yang diperlukan untuk mengoperasikan generator dan truk distribusi air, tidak masuk dalam jumlah memadai.  Saat ini Israel hanya mengizinkan masuk sedikit bahan bakar setiap pekan, cukup untuk layanan esensial dengan kapasitas kecil dalam waktu terbatas, tanpa kepastian apakah layanan bisa berlanjut di pekan berikutnya.

    Menurut kelompok kerja WASH yang beroperasi di Gaza, sebanyak 125 dari 196 unit desalinasi yang dikelola pemerintah atau lembaga non-pemerintah mengalami kerusakan. 

    Categories