Gaza: Setahun Berlalu, Korban Kekerasan di Titik Distribusi Makanan Masih Menanggung Dampaknya
Staf Doctors Without Borders memeriksa pasien di pusat layanan kesehatan primer Al Mawasi, Khan Younis, Gaza. Palestina, 2026 © Nour Alsaqqa/MSF
Yerusalem/Amman, 3 Juni 2026 — Setahun yang lalu, organisasi yang disebut Gaza Humanitarian Foundation (GHF) mulai beroperasi di titik-titik distribusi makanan yang dimiliterisasi di seluruh Jalur Gaza, menggantikan sistem distribusi bantuan yang dikoordinasikan PBB.
GHF, yang dijalankan oleh Israel dengan dukungan keuangan dari Amerika Serikat dan sekutu lainnya, dihentikan dalam waktu enam bulan setelah kekerasan yang berkaitan dengan operasinya menewaskan dan melukai ribuan orang.1 Doctors Without Borders masih merawat puluhan pasien yang terdampak kekerasan ini. Mereka hidup dengan trauma dan cedera yang bahkan dapat berlangsung seumur hidup. Di tengah berbagai rencana yang terus disusun untuk Jalur Gaza, Doctors Without Borders mengingatkan Israel dan AS bahwa militerisasi bantuan kemanusiaan berisiko menimbulkan kekerasan dan penderitaan serius sehingga tidak boleh terjadi lagi.
“Sebagaimana telah didokumentasikan Doctors Without Borders2 melalui bukti medis, masyarakat yang mencari makanan karena putus asa akibat pengepungan mengalami tingkat kekerasan yang mengerikan, baik secara terarah maupun tidak pandang bulu,” kata Joan Tubau, Kepala Misi Doctors Without Borders untuk Wilayah Palestina yang Diduduki.
“Anak-anak ditembak di dada saat mencoba mengambil makanan. Banyak orang tewas karena terinjak-injak atau kehabisan napas dalam kerumunan yang panik, sementara kerumunan ditembaki di tempat-tempat distribusi. Saat ini, banyak pasien korban kekerasan terkait GHF sepenuhnya bergantung pada bantuan sosial dan dapur umum akibat keterbatasan mobilitas serta ketidakmampuan mereka untuk bekerja dan menafkahi keluarga.”
GHF didirikan untuk menyalurkan bantuan pangan kepada masyarakat di Gaza setelah Israel memberlakukan blokade total selama berbulan-bulan. Organisasi ini menggantikan sekitar 400 lokasi bantuan yang telah ada sebelumnya. Keempat lokasi GHF mulai beroperasi pada akhir Mei 2025 dan diawasi oleh kontraktor bersenjata swasta Amerika, sementara pasukan Israel tetap mengendalikan wilayah di sekelilingnya.
Antara Juni dan Oktober 2025, tim Doctors Without Borders mencatat sedikitnya 32 kematian dan merawat 1.885 pasien yang mengalami cedera di pusat layanan kesehatan primer Doctors Without Borders di Al Attar dan Al Mawasi, Khan Younis.
Meskipun bersifat sementara, skema bantuan yang membawa malapetaka ini menimbulkan konsekuensi sosial yang lebih luas. Skema tersebut memicu ketakutan ekstrem, kelangkaan, dan persaingan di kalangan masyarakat, yang berujung pada trauma dan perubahan dinamika komunitas.Nicholas Papachrysostomou, Koordinator Darurat Doctors Without Borders untuk Gaza.
Seorang staf Doctors Without Borders memeriksa cedera Saad Hussein, yang terpaksa hidup dengan alat fiksasi eksternal setelah ia terluka pada tahun 2025 saat distribusi makanan oleh Gaza Humanitarian Foundation. Pusat layanan kesehatan primer Al Mawasi, Khan Younis, Gaza. Palestina, 2026 © Nour Alsaqqa/MSF
“Teman saya ditembak mati di depan mata saya. Ingatan itu masih menghantui saya,” kata Karim, yang sebelumnya bekerja sebagai tukang cukur. Ia menderita cedera yang mengubah hidupnya dan merusak saraf di kakinya secara permanen. “Kami berdua ditangkap dan diborgol dengan tangan di belakang punggung oleh tentara Israel. Sebuah drone diterbangkan di atas saya, dan empat orang diminta untuk membawa saya pergi.”
Seorang pasien lain, Muhammad, terkena sembilan tembakan. Ia berharap bisa berjalan lagi, tetapi kini menderita nyeri kronis dan membutuhkan fisioterapi.
Seorang pasien lain, Muhammad, terkena sembilan tembakan. Ia berharap bisa berjalan lagi, tetapi kini menderita nyeri kronis dan membutuhkan fisioterapi. “Tidak pernah ada cukup makanan untuk semua orang. Banyak orang terlindas karena gerbang besi yang sempit itu tidak cukup lebar. Saya melihat banyak orang tewas, termasuk perempuan. Satu orang ditembak di dada dan satu lainnya di punggung. Mereka menembak dari banyak titik berbeda. Tentara Israel yang menembak saya berada di sebuah bukit,” katanya. “Saat terbaring di tanah, saya melambaikan tangan sambil berkata, ‘Tolong hentikan, sudah cukup.’ Namun, dia begitu saja menembak tangan saya seolah-olah untuk hiburan.”
Mustafa, seorang sopir taksi dari Rafah, menderita infeksi pada tumit yang menyebabkan pembusukan setelah luka tembak mematahkan dua tulangnya.
“GHF sangat merendahkan. Ribuan orang berlari ke arahnya, lalu IDF menembaki kami dari titik-titik tetap. Dua pertiga korban luka di Gaza yang saya kenal merupakan korban kekerasan terkait GHF,” kata Mustafa. Keponakannya yang berusia 17 tahun ditembak di kepala dan tewas oleh penembak jitu.
Para pasien menunggu di pusat layanan kesehatan primer Doctors Without Borders Al Mawasi, di Jalur Gaza. Palestina, 2026 © Nour Alsaqqa/MSF
Kesaksian-kesaksian ini mencerminkan pengalaman banyak orang yang terpaksa hidup dengan alat bantu gerak atau masih membutuhkan pemantauan medis secara ketat dan terus-menerus.
“Meskipun bersifat sementara, skema bantuan yang membawa malapetaka ini menimbulkan konsekuensi sosial yang lebih luas. Skema tersebut memicu ketakutan ekstrem, kelangkaan, dan persaingan di kalangan masyarakat, yang berujung pada trauma dan perubahan dinamika komunitas,” kata Nicholas Papachrysostomou, Koordinator Darurat Doctors Without Borders untuk Gaza.
GHF juga memainkan peran kunci dalam krisis gizi buruk yang diciptakan oleh Israel. Pengurangan drastis jumlah titik distribusi makanan dan bantuan, ditambah dengan blokade total, peningkatan kekerasan, pengungsian massal, dan penghancuran fasilitas kesehatan, berperan langsung dalam bencana kelaparan yang diumumkan pada pertengahan 2025. Bencana ini berdampak sangat buruk terhadap kelompok rentan seperti wanita hamil, bayi baru lahir, dan anak-anak.
“GHF sama sekali bukan solusi kemanusiaan. Setahun berlalu, besarnya penderitaan yang dialami masyarakat di titik-titik distribusi GHF, tanpa adanya pertanggungjawaban apa pun, menuntut dilakukannya penyelidikan independen. Putusan Mahkamah Internasional pada 22 Oktober 2025 memperkuat kewajiban Israel untuk memastikan akses kemanusiaan tanpa hambatan dan mengecam model bantuan, termasuk GHF, yang gagal meringankan penderitaan,” kata Joan Tubau.
Doctors Without Borders mendesak Israel, AS, dan semua pihak yang berpengaruh untuk memastikan bahwa bantuan tidak dimiliterisasi, mudah diakses, dan didasarkan pada prinsip kemandirian, imparsialitas, netralitas, dan kemanusiaan. Bantuan kemanusiaan harus dapat menjangkau semua warga sipil dengan aman, berdasarkan kerentanan dan kebutuhan mereka, di mana pun mereka memilih untuk tinggal, serta diberikan dalam skala yang memadai.
*Nama telah diubah untuk melindungi identitas pasien.
1 Tidak ada catatan resmi kumulatif mengenai jumlah korban yang terkait dengan GHF. OHCHR menyatakan bahwa GHF menyebabkan lebih dari 2.140 kematian hingga September 2025 dan lebih dari 4.000 orang terluka hingga August 2025, Namun, angka-angka ini diperkirakan jauh di bawah jumlah sebenarnya. Korban juga mencakup mereka yang tewas di rute pasokan saat orang-orang yang putus asa berusaha mendapatkan makanan.
2 Laporan Doctors Without Borders, Agustus 2025
Dukung pekerjaan kemanusiaan kami
Bantu kami menyediakan perawatan medis penyelamat nyawa selama keadaan darurat dengan berdonasi hari ini.