Skip to main content
Darurat RD Kongo: Doctors Without Borders bersiap melakukan respons skala besar terhadap wabah Ebola Selengkapnya

    Tepi Barat: Pemerintah Israel semakin perketat kendali di tengah eskalasi konflik dengan Iran

    Cars stuck at Israeli gate

    Mobil-mobil penduduk Palestina masih tertahan di gerbang Israel yang menghalangi pintu masuk utama Hebron. Mereka menunggu gerbang dibuka kembali. Palestina, 2025. © MSF

    Di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran, perhatian internasional mulai beralih, sementara pasukan Israel memperkuat aktivitas militer mereka di Tepi Barat. Operasi militer yang meningkat di wilayah Jenin, Nablus, dan Tulkarem, disertai penambahan pasukan, telah menyebabkan pembatasan yang semakin ketat bagi warga Palestina. Doctors Without Borders/Médecins Sans Frontières (MSF) memperingatkan bahwa langkah-langkah ini semakin memperburuk kondisi yang telah lama parah bagi warga Palestina di Tepi Barat, yang sejak Oktober 2023 menghadapi hambatan serius dalam mengakses layanan kesehatan dan layanan dasar lainnya. Doctors Without Borders menyerukan penghentian segera terhadap tindakan-tindakan yang mendorong pengusiran paksa dan memperkuat sistem aneksasi. Tindakan-tindakan tersebut termasuk kehadiran militer yang berkepanjangan, pembatasan pergerakan, penghancuran bangunan, penggunaan kekuatan berlebihan, serta penolakan akses terhadap layanan dasar. 

    “Pada 13 Juni, pasukan Israel menyerbu desa saya di Tulkarem. Mereka mengambil alih dua bangunan perumahan dan mengubahnya menjadi barak militer, memaksa penduduk yang tinggal di sana untuk mengungsi. Sejak saat itu, mereka rutin melakukan patroli, penyelidikan, interogasi, penangkapan, penggeledahan, dan penahanan,” ujar *Karim, anggota staf Doctors Without Borders.  

    Selama seminggu terakhir, masyarakat di Tepi Barat semakin terkekang oleh kekuatan pendudukan, sementara dunia memalingkan muka. Ini harus dihentikan.
    Simona Onidi, Koordinator Proyek

    “Selama seminggu terakhir, masyarakat di Tepi Barat semakin terkekang oleh kekuatan pendudukan, sementara dunia memalingkan muka. Ini harus dihentikan,” tegas Simona Onidi, Koordinator Proyek Doctors Without Borders di Jenin dan Tulkarem.  

    Pada 13 Juni, saat eskalasi dimulai, otoritas Israel menutup semua pos pemeriksaan dan gerbang utama menuju Hebron selama empat hari. Penutupan ini memaksa warga yang membutuhkan perawatan medis untuk berjalan kaki melintasi wilayah, termasuk pasien dengan kondisi serius, yang harus menempuh jarak jauh sambil menghadapi risiko tertembak atau bahkan dilarang melintas sama sekali.  

    “Pada 14 Juni, saya mencoba membawa saudara saya dari Bethlehem untuk pemeriksaan medis ke Hebron—perjalanan yang biasanya memakan waktu 25 menit. Namun, karena pembatasan baru dari otoritas Israel, semua pintu masuk dan keluar ditutup. Perjalanan itu memakan waktu tiga jam. Pada akhirnya, meskipun sangat sakit, saudara saya harus berjalan kaki melalui pos pemeriksaan yang ditutup, seperti banyak orang lainnya. Ini sangat berbahaya,” kata Oday Al-Shobaki, petugas komunikasi. 

    Doctors Without Borders telah menghentikan layanan klinik keliling di Hebron dan Nablus yang sebelumnya menyediakan layanan kesehatan mental, kesehatan reproduksi, dan perawatan dasar, akibat penutupan pos pemeriksaan dan meningkatnya risiko keamanan. Di Jenin dan Tulkarem, kegiatan klinik keliling harus disesuaikan dengan kondisi lapangan, hanya beroperasi pada hari-hari tertentu tergantung pada keberadaan militer Israel di desa-desa terdekat. Dalam banyak kasus, pasien hanya bisa mengakses layanan melalui konsultasi telepon. 

    People walking on road

    Pada tanggal 14 Juni, orang-orang menunggu di gerbang Israel yang ditutup yang menghalangi jalan masuk utama ke Hebron. Banyak yang akhirnya menyeberang dengan berjalan kaki, meskipun berisiko. Mereka yang membutuhkan perawatan medis atau tidak dapat berjalan terpaksa terjebak, tidak dapat menyeberang sama sekali. Palestina, 2025. © MSF

    Operasi militer dan kekerasan dari pasukan Israel telah berlangsung selama bertahun-tahun di Tepi Barat. Tahun 2022 mencatat jumlah tertinggi kematian warga Palestina akibat kekerasan yang dilakukan oleh pasukan Israel dan pemukim. Sejak Oktober 2023, tindakan kekerasan dan pembatasan oleh pasukan Israel meningkat secara drastis, termasuk pengetatan pergerakan, serangan militer, serta hambatan sistemik terhadap layanan dasar.  

    Pada Januari 2025, militer Israel meluncurkan operasi ‘Iron Wall’ di bagian utara Tepi Barat, yang masih berlangsung hingga saat ini. Operasi tersebut mencakup pengosongan paksa kamp-kamp pengungsi lama dan mencegah kembalinya penduduk. Akibatnya, lebih dari 42.000 orang terpaksa mengungsi, kehilangan tempat tinggal yang layak, serta mengalami keterbatasan akses terhadap makanan, air, dan perawatan medis. 

    “This latest wave of restrictions and violence over the last week, seems to be an opportunity for Israeli forces to entrench control, deepen the fragmentation of Palestinian communities and further the system that the International Court of Justice has described as amounting to racial segregation and apartheid. We urge third states to move beyond words of condemnation and put real pressure on Israeli authorities to end excessive force and lift movement restrictions blocking access to essential services and humanitarian aid, scaling up support for displaced and isolated communities across the West Bank.” Simona Onidi, project coordinator, Jenin and Tulkarem.

    “Gelombang terbaru pembatasan dan kekerasan dalam sepekan terakhir tampaknya menjadi kesempatan bagi pasukan Israel untuk memperkuat kendali, memecah belah komunitas Palestina, dan melanggengkan sistem yang telah digambarkan Mahkamah Internasional sebagai bentuk segregasi rasial dan apartheid. Kami mendesak negara-negara ketiga untuk tidak hanya mengutuk tindakan ini, tetapi juga memberikan tekanan nyata kepada otoritas Israel untuk menghentikan penggunaan kekuatan berlebihan, mencabut pembatasan pergerakan, serta memastikan akses terhadap layanan dasar dan bantuan kemanusiaan. Dukungan juga harus ditingkatkan bagi masyarakat yang terpaksa mengungsi dan terisolasi di seluruh Tepi Barat,” ujar Simona Onidi.  


    * Name changed
     



    Will you support our emergency response work?

    Help us provide lifesaving medical care during emergencies by making a donation today.


    Categories