Krisis di Sudan: Rumah Sakit Hadapi Gelombang Korban Saat ‘Perang terhadap Rakyat’ Berlanjut
Informasi terbaru
Laporan bertajuk Besieged, Attacked, Starved menggambarkan situasi putus asa yang dialami warga di dalam dan sekitar El Fasher, yang membutuhkan perhatian serta respons segera dari komunitas internasional.
Apa dampak dari perang di Sudan?
Sebelum kekerasan meningkat pada bulan April 2023, sistem kesehatan sangat tidak stabil, dengan indeks kesehatan yang terus-menerus rendah dan kesenjangan yang besar antara daerah perkotaan dan pedesaan, serta antara orang kaya dan orang miskin.
Kebutuhan di seluruh negeri sangat besar dan sebagian besar belum terpenuhi. Sejak April 2023, lebih dari 1,7 juta orang telah mencari konsultasi medis di rumah sakit, fasilitas kesehatan, dan klinik keliling yang kami dukung.
Di titik-titik rawan kekerasan, kekejaman telah dilakukan, warga sipil telah menjadi sasaran dan dibunuh secara etnis.
- Pada bulan Juni, lebih dari 1.500 warga Sudan yang terluka akibat perang dirawat di rumah sakit yang didukung oleh Doctors Without Borders di Adré (Chad) dalam waktu satu minggu.
- Kami merawat korban kekerasan seksual. Antara Juli dan Desember 2023, 135 pasien yang datang ke fasilitas medis Doctors Without Borders di Chad timur mengungkapkan bahwa mereka adalah korban pemerkosaan. Semuanya adalah perempuan atau anak perempuan, berusia antara 14 dan 40 tahun, dan sebagian besar diserang sebelum mereka tiba di Chad. Dalam 90 persen kasus diketahui bahwa para penyerang bersenjata, dan 40% korban diperkosa oleh banyak penyerang.
Dampak kesehatan tak langsung dari perang juga sama dahsyatnya. Antara 70 dan 80% rumah sakit di daerah yang terkena dampak konflik tidak lagi berfungsi. Banyak orang harus menempuh perjalanan jauh, sering kali di tengah ketidakamanan yang ekstrem, untuk mencari perawatan medis. Pasien sering kali datang terlambat ke fasilitas kesehatan.
Kondisi kehidupan yang buruk, kurangnya akses ke air bersih, kurangnya vaksinasi, dan kurangnya akses ke layanan kesehatan berpadu menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya wabah, seperti yang terjadi selama tahun lalu, dan memperburuk prevalensi penyakit secara signifikan. Tim Doctors Without Borders telah menangani lebih dari 174.000 kasus malaria, merawat lebih dari 89.100 pasien menderita diare, dan menangani ribuan kasus campak.
Ibu hamil khususnya terdampak oleh kurangnya akses ke layanan kesehatan. Selama dua tahun terakhir, Doctors Without Borders telah membantu lebih dari 35.300 persalinan dan melakukan 6.400 operasi caesar.
Masalah lain yang berkembang adalah malnutrisi. Doctors Without Borders telah mendukung perawatan untuk lebih dari 67.000 anak yang mengalami malnutrisi dalam dua tahun.
Doctors Without Borders juga memberikan bantuan di Chad dan Sudan Selatan, tempat di mana lebih dari 3,8 orang mengungsi sejak dimulainya perang di Sudan.
Kekerasan terus menghancurkan kehidupan, mempersulit akses masyarakat terhadap layanan kesehatan, dan membahayakan para pekerja layanan kesehatan. Kami mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk melindungi warga sipil dan menyelamatkan mereka dari perang terhadap rakyat ini.Ozan Agbas, Manajer Darurat
Apa yang dilakukan Doctors Without Borders di Sudan?
Doctors Without Borders saat ini bekerja dan mendukung lebih dari 30 fasilitas kesehatan di 10 negara bagian dari total 18 negara bagian yang ada di Sudan. Tim kami menyediakan perawatan medis penting di seluruh Sudan, dengan fokus pada:
- Perawatan darurat dan bedah: Mengobati cedera akibat perang dan nonperang, termasuk perawatan trauma dan operasi caesar.
- Perawatan kesehatan ibu dan anak: Memastikan perawatan kritis bagi ibu dan anak.
- Perawatan malnutrisi: Melakukan skrining dan menyediakan perawatan di rumah sakit dan di rumah bagi anak-anak yang mengalami malnutrisi akut dan juga untuk ibu hamil.
- Klinik rawat jalan dan keliling: Memberikan layanan perawatan kesehatan, termasuk bagi pengungsi.
- Kampanye vaksinasi: Melakukan imunisasi rutin dan imunisasi susulan.
- Respons wabah penyakit: Menangani kolera, campak, dan krisis kesehatan lainnya.
- Water and sanitation (WATSAN) initiatives: Improving hygiene through latrine setup, water point restoration, and sanitation services.
- Inisiatif air dan sanitasi (WATSAN): Meningkatkan kebersihan melalui pemasangan jamban, pemulihan titik air, dan layanan sanitasi.
- Sumbangan pasokan medis: Mendukung fasilitas perawatan kesehatan dengan obat-obatan dan peralatan penting.
- Peningkatan kapasitas: Memberikan pelatihan, insentif, dan dukungan logistik kepada staf Kementerian Kesehatan.
- Penyerangan terhadap layanan kesehatan
- Sejak Doctors Without Borders mulai memberikan dukungan bagi rumah sakit Al Nao di Omdurman, beberapa rudal mendarat pada jarak yang cukup dekat, sekitar 500 meter dari rumah sakit. Pada tanggal 9 Oktober, penembakan menyasar unit gawat darurat, menewaskan dua penjaga pasien, dan melukai lima orang. Empat peluru lainnya meledak di luar rumah sakit, menewaskan dua orang dan melukai beberapa orang lainnya.
- Awal Agustus lalu, RSF mengklaim bahwa SAF telah mengevakuasi paksa warga sipil dan menjadikan Al Nao sebagai rumah sakit militer. Pada saat itulah, staf Doctors Without Borders merawat warga sipil yang terluka akibat perang di rumah sakit tersebut, yang merupakan satu-satunya fasilitas medis yang masih berfungsi di Omdurman.
- Memastikan fasilitas medis bebas dari senjata menjadi tantangan sehari-hari di Rumah Sakit Al Nao di Omdurman, Rumah Sakit Kas di Darfur, dan fasilitas lainnya di berbagai penjuru negara.
- Penyerangan terhadap staf dan tenaga medis Doctors Without Borders
- Pihak-pihak yang bertikai telah melakukan kekerasan langsung baik terhadap staf Doctors Without Borders maupun staf rumah sakit yang didukung oleh Doctors Without Borders di Khartoum dan Darfur. Anggota tim dan tenaga medis pendukung mengalami serangan fisik langsung yang disengaja, pelecehan, ancaman, dan penahanan, serta menjadi sasaran berbagai tindak kekerasan lainnya.
- Beberapa tenaga kesehatan bekerja dalam dua shift ketika kondisi tidak memungkinkan bagi sejawat mereka untuk bepergian. Pada tanggal 5 Oktober, seorang perawat yang bekerja di Al Nao dihadang oleh seorang pria bersenjata di sebuah pos pemeriksaan ketika ia sedang dalam perjalanan untuk shift malam. Mereka menganiaya dan meninggalkannya di jalanan. Dia tidak sadarkan diri saat dibawa ke rumah sakit.
- Pada tanggal 4 Juli 2023, sebuah peluru nyasar mendarat di halaman rumah sakit Al Saudi (Omdurman) - menewaskan seorang anggota staf Kementerian Kesehatan ketika sedang berjalan di dalam kompleks - sehingga mengharuskan rumah sakit tersebut pindah ke lokasi yang lebih aman di kompleks rumah sakit Al Nao.
Tenaga kesehatan dan fasilitas medis harus dilindungi
Sejak pecahnya konflik, tenaga kesehatan dan fasilitas medis mengalami penyerangan dan penjarahan yang mengakibatkan sebagian besar sistem kesehatan rusak dan/atau tidak berfungsi. Seiring meluasnya gelombang pengungsian dan keruntuhan ekonomi, sistem layanan kesehatan kini kewalahan dan hampir lumpuh total karena sebagian besar rumah sakit tidak lagi beroperasi di negara ini. Doctors Without Borders telah melakukan peningkatan dalam upaya pemulihan fasilitas rumah sakit di berbagai lokasi di Sudan, yang rusak atau dijarah sehingga tidak lagi beroperasi (terutama: Rumah Sakit Turki di Khartoum, Rumah Sakit Selatan dan Rumah Sakit Anak di El Fasher, serta Rumah Sakit Pendidikan Nyala).
Fasilitas-fasilitas penting Doctors Without Borders di Khartoum, Darfur Selatan dan Barat dibobol pada awal konflik ini, pasokan dan peralatan medis vital telah dicuri, mengakibatkan kegiatan Doctors Without Borders di Sudan terancam.
Meskipun kasus-kasus di atas merupakan contoh, namun bukan merupakan kasus yang berdiri sendiri. Dalam situasi saat ini, staf Doctors Without Borders, pekerja kesehatan dan kemanusiaan terpaksa bekerja dalam suasana yang tidak aman, berisiko terhadap nyawa dan kesejahteraan fisik, yang semakin diperburuk oleh tindakan pelecehan, kecurigaan, dan kriminalisasi yang ditargetkan oleh pihak berwenang Sudan dan RSF (misalnya penahanan staf dan pekerja kemanusiaan).