Skip to main content
Darurat RD Kongo: Doctors Without Borders Perkuat Respons untuk Tangani Wabah Penyakit Ebola yang Terus Menyebar Selengkapnya
    MSB247747

    Kolera

    Wabah kolera yang semakin parah di RDK termasuk yang terburuk dalam sepuluh tahun terakhir, menandakan krisis kesehatan yang melanda negara tersebut.

    Wabah kolera di RD Kongo

    Doctors Without Borders/Médecins Sans Frontières (MSF) menyatakan keprihatinan atas semakin parahnya wabah kolera di Republik Demokratik Kongo (RDK). Dalam sembilan bulan terakhir, lebih dari 58.000 kasus dugaan telah tercatat, menurut data dari Kementerian Kesehatan. Sebanyak 20 dari 26 provinsi di negara ini kini terdampak. Dari Januari hingga pertengahan Oktober, lebih dari 1.700 kematian telah tercatat, dengan tingkat kematian melebihi 3 persen. Situasi terus memburuk dan menyebar ke zona kesehatan baru, termasuk provinsi yang sebelumnya bukan daerah endemik kolera. Banjir, konflik, pengungsian, serta sistem sanitasi dan pasokan air yang tidak memadai turut memperparah meluasnya epidemi kolera. Seiring datangnya musim hujan, situasi diperkirakan akan semakin parah, meningkatkan risiko penularan dan kontaminasi penyakit.

    Wabah ini termasuk yang terburuk dalam sepuluh tahun terakhir, menandakan krisis kesehatan yang melanda negara tersebut. Untuk menghadapi penyebaran yang cepat ini, mobilisasi segera dengan dukungan otoritas nasional, lembaga kemanusiaan, dan mitra internasional sangat penting untuk menghentikan penyebaran penyakit.

    Respons Doctors Without Borders terhadap wabah kolera

    Tahun lalu, Doctors Without Borders dikerahkan di beberapa wilayah untuk menanggapi wabah kolera, termasuk di Sudan, RDK, Yaman, Mayotte, Zambia, Nigeria, dan Sudan Selatan. Dalam upaya tanggap darurat ini, lebih dari 16.000 konsultasi dan 9.000 perawatan inap dilakukan di fasilitas perawatan khusus.

    Berdasarkan laporan WHO tahun 2024 dan catatan kegiatan Doctors Without Borders, pada tahun 2024 terdapat 60 negara yang melaporkan kasus kolera, meningkat dibandingkan 45 negara pada tahun 2023. Secara global, tercatat 560.823 kasus dan 6.028 kematian, yang mewakili peningkatan 5% dalam jumlah kasus dan peningkatan 50% dalam jumlah kematian dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagian besar kasus (98%) dilaporkan di Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Wilayah Afrika sendiri menyumbang 46% dari total kasus global (258.442 kasus) dan 83% dari total kematian (4.976 jiwa).

    Sejak awal tahun 2025, telah dilaporkan 458.000 kasus, termasuk 169.000 di wilayah Afrika. Jumlah kematian yang dilaporkan secara global mencapai 5.234 jiwa, dengan 3.629 di antaranya terjadi di Afrika. Hingga saat ini, 32 negara telah melaporkan kasus kolera. Angka-angka ini menunjukkan krisis kolera yang semakin memburuk di tengah kondisi yang sudah rapuh, sering kali disertai konflik, pengungsian penduduk, buruknya kondisi air, sanitasi, dan higienitas, serta dampak perubahan iklim.

    Info terbaru

    RD Kongo: Wabah kolera kian mengkhawatirkan di seluruh negeri
    RD Kongo: Wabah kolera kian mengkhawatirkan di seluruh negeri
    Kolera adalah infeksi bakteri yang sangat menular. Meskipun dapat diobati dan dicegah, tanpa perawatan yang tepat, penyakit ini dapat dengan cepat ber...
    Chad: Doctors Without Borders berkomitmen mengatasi kolera melalui pencegahan dan pengobatan
    Chad: Doctors Without Borders berkomitmen mengatasi kolera melalui pencegahan dan pengobatan
    Doctors Without Borders/Médecins Sans Frontières (MSF)mendukung respons kolera di Chad bersama Kementerian Kesehatan dan mitranya untuk menyediakan pe...
    Yaman: Mengatasi diare cair akut
    Yaman: Mengatasi diare cair akut
    Setelah satu dekade konflik di Yaman, infrastruktur terkena dampak yang parah, dan sebagai dampaknya, munculnya penyakit yang ditularkan melalui ai...
    Malawi: Wabah kolera terparah dalam sejarahnya
    Malawi: Wabah kolera terparah dalam sejarahnya
    Sejak 3 Maret 2022, lebih dari 33.600 orang yang dikonfirmasi telah dilaporkan menderita kolera di negara tersebut dan lebih dari 1.093 orang meningga...
    Mozambik: Terjadi kasus kolera setelah pergolakan di utara negara itu
    Mozambik: Terjadi kasus kolera setelah pergolakan di utara negara itu
    Sejak September 2022, Mozambik mencatat peningkatan yang mengkhawatirkan dalam jumlah kasus kolera, terutama di provinsi utara Niassa. Sebagai respons...
    Kolera di Suriah utara: tantangan lain dalam situasi genting kemanusiaan
    Kolera di Suriah utara: tantangan lain dalam situasi genting kemanusiaan
    Saat itu pukul 9 pagi di kota Raqqa yang dilanda perang tetapi masih ramai di timur laut Suriah. Fatina, yang berasal dari Aleppo, sedang berbaring di...
    Lebanon: Kurangnya air bersih dan sanitasi mengancam kemampuan menahan penyebaran kolera
    Lebanon: Kurangnya air bersih dan sanitasi mengancam kemampuan menahan penyebaran kolera
    Wabah kolera pertama setelah hampir tiga dekade di Lebanon, berlangsung di atas krisis ekonomi dan bahan bakar yang sedang berlangsung yang semakin me...
    Haiti: Doctors Without Borders menyerukan intensifikasi mendesak upaya untuk melawan wabah kolera
    Haiti: Doctors Without Borders menyerukan intensifikasi mendesak upaya untuk melawan wabah kolera
    Jumlah kasus kolera meningkat pada tingkat yang mengkhawatirkan di ibu kota Haiti, Port-au-Prince, dan di beberapa departemen (wilayah administratif) ...

    Di tingkat global, Doctors Without Borders terus berkolaborasi dengan International Coordinating Group (ICG) untuk meningkatkan akses awal terhadap vaksin kolera oral (Oral Cholera Vaccine/OCV) dan mendukung upaya peningkatan produksinya. Selama lima tahun terakhir, permintaan global jauh melebihi pasokan, sehingga penggunaan dilakukan dengan satu dosis, bukan dua dosis sebagaimana direkomendasikan. Pada tahun 2025, permintaan vaksin mencapai rekor tertinggi, yaitu 46 juta dosis. Dalam kondisi kekurangan yang masih terjadi, langkah antisipatif menjadi semakin penting. Akses yang lebih cepat terhadap vaksin akan membantu mengendalikan wabah secara lebih efektif dan mengoptimalkan penggunaan dosis yang tersedia.

    Fakta tentang kolera

    Apa itu kolera?

    Kolera adalah infeksi akut pada usus halus yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae. Seseorang dapat terinfeksi ketika menelan makanan atau air yang terkontaminasi bakteri tersebut.  Penyebab umum meliputi:

    • Pasokan air yang berasal dari perusahaan air minum.
    • Es yang dibuat dari air yang berasal dari perusahaan air minum.
    • Makanan dan minuman yang dijual oleh pedagang kaki lima.
    • Ikan dan makanan laut mentah atau setengah matang yang ditangkap di perairan yang terkontaminasi limbah.

    Ketika seseorang mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi, bakteri tersebut melepaskan toksin di usus yang menyebabkan diare parah.

    Wabah dapat menyebar dengan cepat di komunitas padat penduduk dan permukiman yang sempit ketika akses terhadap air bersih, pembuangan limbah, dan fasilitas sanitasi yang layak tidak memadai. Akibat pengungsian penduduk, kerusakan infrastruktur, atau kurangnya layanan publik, kolera menjadi risiko serius pascabencana alam atau selama konflik. Situasi ini dapat menjadi semakin buruk selama musim hujan, ketika rumah dan toilet terendam banjir serta air yang terkontaminasi mengendap di genangan air.

    Kolera menjadi penyakit global pada abad ke-19 ketika menyebar dari sumber asalnya di Delta Gangga, India. Enam pandemi berikutnya menewaskan jutaan orang di seluruh benua.Pada tahun 1961, pandemi ketujuh dimulai di Asia Selatan, kemudian menyebar ke Afrika pada tahun 1971, dan mencapai Amerika pada tahun 1991. Saat ini, kolera bersifat endemik di banyak negara.

    Apa saja gejala kolera?

    Gejala kolera dapat muncul dalam hitungan jam hingga lima hari setelah seseorang terinfeksi. Infeksi ini sering kali ringan atau bahkan tanpa gejala, tetapi dalam beberapa kasus dapat menjadi parah dan mengancam nyawa.

    Kolera ditandai dengan munculnya diare berair yang tiba-tiba dan parah, sering kali disertai muntah.

    Pasien dapat dengan cepat mengalami dehidrasi, ditandai dengan rasa haus yang hebat dan lidah kering. Gejala lain meliputi detak jantung cepat, tekanan darah rendah, kram otot, serta hilangnya elastisitas kulit.

    Pada anak-anak, kolera dapat menyebabkan demam, kelelahan, dan kejang akibat dehidrasi berat. Penyakit ini biasanya berlangsung antara dua hingga tujuh hari.

    Kehilangan cairan secara cepat dari usus dapat menyebabkan kematian dalam hitungan jam pada lebih dari 50 persen penderita jika tidak segera diobati. 

    Namun, dengan pengobatan modern yang tepat, angka kematian dapat ditekan menjadi kurang dari 1 persen pada pasien yang mendapatkan perawatan.

    Bagaimana cara mengobati kolera?

    Kolera umumnya mudah diobati. Penderita dengan gejala ringan hingga sedang biasanya dapat sembuh melalui pemberian cairan dan larutan oralit, yang mudah diberikan dan efektif menggantikan cairan tubuh yang hilang. Penderita yang mengalami dehidrasi berat mungkin memerlukan perawatan di rumah sakit dengan pemberian cairan infus.

    Antibiotik seperti tetrasiklin yang diberikan pada hari pertama pengobatan dapat membantu memperpendek masa diare dan mengurangi jumlah cairan pengganti yang dibutuhkan. Selain itu, penting bagi pasien untuk mulai makan kembali sesegera mungkin untuk mencegah atau mengatasi malnutrisi.

    Tanpa pengobatan, tingkat kematian akibat kolera dapat mencapai 50 persen. Namun, dengan perawatan yang memadai, tingkat kematian dapat ditekan hingga di bawah 2 persen.

    Pencegahan

    Pasokan air yang aman dan bersih merupakan kunci utama dalam pencegahan kolera. 

    Banyak langkah efektif dapat dilakukan, seperti menambahkan kaporit pada pasokan air umum secara tepat, serta mendistribusikan tablet kaporit kepada rumah tangga disertai petunjuk penggunaannya. Jika desinfeksi kimia tidak tersedia, air dapat direbus sebelum dikonsumsi, meskipun hal ini sering kali sulit dilakukan, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah. 

    Pembuangan limbah manusia secara higienis juga menjadi langkah penting dalam mencegah penyebaran kolera. Ketersediaan toilet dapat secara signifikan mengurangi risiko infeksi di daerah yang belum memiliki sistem pembuangan limbah modern.

    Menjamin keamanan makanan merupakan langkah pengendalian penting lainnya.

    Selama wabah kolera, seluruh makanan—termasuk sisa makanan—harus dimasak dengan baik hingga suhu inti mencapai 70°C (158°F) dan dikonsumsi sebelum menjadi dingin. Makanan yang disimpan perlu ditutup rapat untuk mencegah kontaminasi, dan kebersihan tangan harus dijaga dengan mencuci tangan setiap kali setelah buang air besar dan sebelum menyiapkan makanan. Makanan yang dijual oleh pedagang kaki lima sering kali menjadi sumber infeksi, sehingga wisatawan yang berkunjung ke daerah endemik kolera disarankan untuk menghindarinya.

    Vaksin juga telah dikembangkan untuk melawan kolera. Vaksin ini memberikan perlindungan selama enam bulan hingga tiga tahun, tergantung pada jenis vaksin dan jumlah dosis yang diberikan. 

    Meskipun vaksin oral terbukti efektif dalam mencegah kolera selama wabah, penerapan strategi dua dosis masih menghadapi kendala logistik, terutama dalam situasi darurat. Namun, berdasarkan pengalaman lapangan dan bukti ilmiah, Doctors Without Borders menilai bahwa strategi vaksin kolera oral satu dosis tidak hanya aman dan mudah diterapkan, tetapi juga efektif dalam mencegah atau mengurangi penularan penyakit selama epidemi.

    Mengapa wabah kolera semakin meluas?

    Pada tahun 2024, setidaknya 60 negara mengalami wabah kolera atau penyakit serupa kolera. Namun, kondisi ini bukanlah satu wabah besar yang menyebar secara global, melainkan serangkaian wabah yang terjadi di berbagai negara dengan penyebab lokal yang berbeda-beda. Dalam banyak kasus, lonjakan wabah kolera disebabkan oleh kondisi spesifik di tiap wilayah. Faktor risiko utama telah lama diketahui, yakni terbatasnya akses terhadap air minum bersih dan buruknya sistem pengelolaan limbah. 

    Krisis politik dan/atau militer yang berkepanjangan: Krisis semacam ini sering menyebabkan terganggunya pemeliharaan infrastruktur air minum dan limbah. Situasi ini kini terjadi di beberapa negara seperti Haiti, Somalia, dan Suriah. 

    Bencana alam: Perubahan iklim berperan besar dalam memperburuk situasi. Kekeringan yang panjang dapat mengurangi ketersediaan air minum yang aman, memaksa masyarakat menggunakan sumber air yang tidak layak. Sebaliknya, banjir dapat mencemari sumber air bersih dengan bakteri penyebab kolera. Pada tahun 2022, negara-negara seperti Somalia, Kenya, dan Ethiopia mengalami kekeringan parah, sementara Sudan Selatan dan Nigeria dilanda banjir besar yang memperburuk risiko penyebaran penyakit. 

    Pengungsi dan kondisi hidup yang tidak layak: Pengungsi sering kali terpaksa tinggal di tempat-tempat dengan fasilitas air bersih dan sanitasi yang sangat terbatas. Pemerintah atau otoritas setempat juga kerap tidak memiliki sumber daya untuk membangun infrastruktur air dan limbah yang memadai di kamp pengungsi. Akibatnya, wabah kolera mudah menyebar. Tahun ini, wabah tercatat terjadi di kamp pengungsi di Lebanon, Somalia, dan Nigeria.

    Tantangan dalam penanganan kolera saat ini

    Kolera sebenarnya merupakan penyakit yang mudah diobati. Sebagian besar pasien dapat pulih dengan pemberian larutan oralit, sementara pasien dengan dehidrasi berat membutuhkan cairan infus. Jika mendapatkan pengobatan tepat waktu, lebih dari 99 persen pasien dapat diselamatkan. Pencegahan juga dapat dilakukan melalui penyediaan air bersih, pengelolaan limbah yang benar, serta vaksinasi. 

    Namun, terdapat berbagai tantangan logistik dalam penanganan dan pencegahan kolera. Pendirian pusat perawatan kolera membutuhkan banyak pasokan medis dan sumber daya manusia, sementara proyek air dan sanitasi memerlukan dukungan infrastruktur yang kuat. Di daerah yang tidak aman atau sulit dijangkau, hal ini menjadi tantangan besar. Tahun ini, jumlah wabah kolera yang tinggi memperburuk keadaan. Dunia saat ini menghadapi kekurangan vaksin kolera, serta pasokan penting lainnya seperti cairan infus.

    Selain itu, di beberapa negara, pemerintah enggan mengumumkan wabah kolera secara resmi, sering kali karena alasan politik. Kondisi ini menghambat penyebaran informasi penting kepada masyarakat tentang langkah-langkah pencegahan, serta menghalangi pelaksanaan vaksinasi kolera.

    Haiti: MSF responds to a resurgence of cholera cases in collaboration with the authorities.

    Maukah Anda mendukung respons kami?

    Anda dapat membantu pekerjaan kami di seluruh dunia.