Yaman: Gigitan ular jadi ancaman mematikan di Provinsi Hajjah
Untuk memfasilitasi akses layanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak perang dan pengungsian, Doctors Without Borders telah mendukung Rumah Sakit Abs sejak tahun 2015. Yaman, 2023 © Jinane Saad/MSF
Sanaa, Yaman, 8 Juni 2026 – Doctors Without Borders/Medecins Sans Frontieres (MSF) menyaksikan peningkatan kasus keracunan gigitan ular berbisa; penyakit tropis yang terabaikan, yang terus menyebabkan kematian dan penderitaan di Distrik Abs, Provinsi Hajjah, Yaman. Terlepas dari meningkatnya jumlah kasus ini, akses terhadap pengobatan yang efektif dan terjangkau tetap sangat terbatas, membuat warga harus menanggung risiko yang tinggi.
Gigitan ular sebagian besar terjadi di daerah pedesaan dan pertanian, dengan risiko tertinggi berlangsung selama musim panen, ketika keluarga menghabiskan waktu berjam-jam bekerja di luar. Banyak orang, termasuk perempuan, bekerja tanpa alas kaki atau tanpa pakaian pelindung minimal, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya interaksi berbahaya dengan ular. Selain itu, tidur beralas tanah pada malam hari, karena panas atau perumahan yang tidak memadai, juga semakin membuat warga terpapar terhadap risiko gigitan ular. Mereka menjadi rentan baik saat bekerja maupun saat beristirahat.
“Gigitan ular itu berbahaya terutama karena beberapa ular menyuntikkan bisa, yang dapat menyakiti tubuh secara serius,” kata Abdul Aziz, Koordinator Medis Doctors Without Borders di Yaman. “Bisa ular dapat merusak saraf, darah, otot, atau organ, yang menyebabkan masalah seperti kesulitan bernapas, pendarahan yang tidak terkontrol, atau pembengkakan parah. Bahkan jika gigitan tersebut tidak mengandung bisa, tetap dapat menyebabkan infeksi atau reaksi alergi.”
“Para penyintas gigitan ular pun kemungkinan akan menghadapi cedera fisik serius yang membutuhkan pembedahan, termasuk kehilangan jaringan atau anggota tubuh, serta dampak kesehatan mental yang sering diabaikan seperti kecemasan, depresi, dan stres pasca-trauma,” kata Aziz.
Di Rumah Sakit Abs, yang didukung oleh Doctors Without Borders, banyak pasien datang setelah menempuh perjalanan jauh dari desa-desa terpencil. Kami memberikan perawatan gratis kepada warga yang digigit ular, dan pada tahun 2025 saja, kami telah merawat 671 kasus gigitan ular, yang merupakan peningkatan 83 persen dibandingkan dengan 367 kasus pada tahun 2024. Pada kuartal pertama tahun 2026, kami merawat 137 kasus gigitan ular di Yaman Utara.
Snake venom can damage nerves, blood, muscles, or organs, leading to problems like breathing difficulty, uncontrolled bleeding, or severe swelling. Even when a bite is not venomous, it can still cause infection or allergic reactions.Abdul Aziz, Doctors Without Borders Medical Coordinator in Yemen
Pintu masuk ke Rumah Sakit Abs di Provinsi Hajjah. Yaman, Agustus 2022. © Jinane Saad/MSF
Di Yaman, bahaya gigitan ular menjadi jauh lebih besar karena sistem perawatan kesehatan hampir runtuh setelah bertahun-tahun konflik. Banyak rumah sakit dan klinik kekurangan antivenom, staf terlatih, listrik, dan perlengkapan medis dasar. Banyak warga tinggal di daerah pedesaan atau daerah gurun tempat ular berbisa umum ditemukan, dan mencapai perawatan medis dari kawasan tersebut dapat memakan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Situasi tidak aman yang berkelanjutan, jalan yang rusak, dan adanya pos pemeriksaan semakin menunda perawatan, mengubah gigitan yang seharusnya dapat disembuhkan menjadi gigitan yang mematikan.
Kemiskinan dan kurangnya kesadaran tentang pengobatan memperburuk situasi. Banyak keluarga tidak mampu membeli antivenom atau untuk transportasi ke rumah sakit. Mereka menjadi bergantung pada pengobatan tradisional yang memakan waktu, padahal dalam kasus semacam ini waktu sangat berharga. Akibatnya, gigitan ular di Yaman bukan hanya masalah kesehatan tetapi juga krisis kemanusiaan—orang meninggal bukan karena pengobatan tidak ada, tetapi karena pengobatan tersebut sebagian besar berada di luar jangkauan.
Meskipun antivenom dapat ditemukan di beberapa apotek swasta dan fasilitas kesehatan, harganya yang tinggi membuatnya tidak terjangkau bagi sebagian besar keluarga di Abs dan sekitarnya. Pengobatan semakin rumit karena dibutuhkan berbagai jenis antivenom untuk spesies ular yang berbeda, sehingga perawatan yang tepat waktu dan efektif menjadi lebih kompleks dan mahal. Akibatnya, banyak orang yang digigit ular berbisa mengalami penundaan atau tidak dapat mengakses pengobatan yang menyelamatkan jiwa. Tidak terjangkaunya pengobatan yang dibutuhkan inilah yang menyebabkan kematian atau kecacatan jangka panjang. Hal-hal yang sebenarnya dapat dicegah.
Organisasi kemanusiaan perlu melakukan tindakan segera untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan antivenom bagi mereka yang berisiko. Memperkuat rantai pasokan, meningkatkan stok di fasilitas kesehatan pedesaan, dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pengobatan tepat waktu dapat menyelamatkan banyak nyawa. Tanpa tindakan mendesak, keluarga di Abs dan warga di daerah sekitarnya akan tetap berisiko mengalami penderitaan dan kematian yang tidak perlu akibat gigitan ular.
Dukung pekerjaan kemanusiaan kami
Bantu kami menyediakan perawatan medis penyelamat nyawa selama keadaan darurat dengan berdonasi hari ini.