Skip to main content
Darurat RD Kongo: Doctors Without Borders Perkuat Respons untuk Tangani Wabah Penyakit Ebola yang Terus Menyebar Selengkapnya

    Serangan drone di perbatasan Chad–Sudan: Doctors Without Borders merawat 116 korban luka dalam satu bulan

    Hospital compound Tine

    Orang-orang berjalan di sekitar kompleks rumah sakit di Tiné. Chad, Maret 2026. © MSF

    Sejak awal Mei, sebanyak 116 orang yang terluka akibat serangan tersebut telah dirawat di Rumah Sakit Tiné. Antara 17 hingga 26 Mei saja, 69 pasien luka diterima di rumah sakit tersebut. Pada 24 Mei, sebuah serangan menghantam kafetaria yang ramai di pasar Tina, mengakibatkan 35 korban luka tiba di rumah sakit dalam satu hari. Tiga orang dinyatakan meninggal saat tiba di rumah sakit, sementara beberapa lainnya dilaporkan meninggal di lokasi kejadian. Perempuan dan anak-anak termasuk di antara para korban.

    “Kami menerima pasien setelah perjalanan berjam-jam, sering kali dalam kondisi yang sangat sulit dan kritis,” kata Issiaka Abdou, Kepala Misi Doctors Without Borders di Chad. “Cedera yang kami tangani sering kali sangat parah, termasuk luka bakar serius, trauma akibat ledakan, dan berbagai cedera multipel. Baru-baru ini kami merawat seorang anak dengan luka bakar berat di wajah, lengan, dan kaki. Setiap keterlambatan dalam evakuasi mengurangi peluang bertahan hidup bagi pasien yang mengalami luka paling kritis.”

    Pergeseran yang mengkhawatirkan pada profil pasien

    Tim medis Doctors Without Borders juga mengamati perubahan yang mengkhawatirkan pada profil pasien yang mereka terima.

    “Dalam beberapa hari terakhir, kami melihat semakin banyak perempuan dan anak-anak di antara korban luka,” ujar Issiaka Abdou. “Pada 26 Mei, seluruh pasien yang kami terima setelah serangan drone adalah warga sipil. Ini menunjukkan betapa rentannya masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan ini terhadap kekerasan.”

     

    Wilayah perbatasan antara Chad dan Sudan terdampak berat oleh konflik di Darfur, perpindahan penduduk, dan terbatasnya akses terhadap layanan dasar, termasuk layanan kesehatan. Serangan yang terus berulang semakin memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah sangat kritis.

     

    “Fasilitas kesehatan di wilayah ini beroperasi dalam lingkungan yang sangat menantang, dengan kebutuhan yang tinggi dan sumber daya yang terbatas,” kata Cissé Boucari Hamadoum, Koordinator Proyek Doctors Without Borders di Tiné. “Meskipun menghadapi berbagai keterbatasan tersebut, tim kami terus memberikan perawatan medis darurat dan menangani lonjakan pasien luka bekerja sama dengan otoritas kesehatan Chad.”

    Aktivitas Doctors Without Borders

    Doctors Without Borders memberikan perawatan medis kepada pasien di Rumah Sakit Tiné dan, bila diperlukan, mengatur rujukan ke fasilitas kesehatan lain, termasuk ke Abéché, untuk kasus-kasus yang paling parah.

    Warga sipil seharusnya tidak pernah menjadi pihak yang menanggung dampak konflik. Sangat penting untuk memastikan masyarakat terlindungi dan korban luka dapat mengakses layanan medis dengan cepat dan aman. Sejak perang di Sudan dimulai pada April 2023, lebih dari 900.000 pengungsi Sudan telah mencari perlindungan di wilayah timur Chad. Sebagai respons terhadap krisis ini, Doctors Without Borders telah memperluas kegiatannya di Provinsi Sila, Wadi Fira, dan Ouaddaï.

     

    Di wilayah timur Chad, tim Doctors Without Borders bekerja di Adré, Ouré Cassoni, Iridimi, Touloum, dan Aboutengué, serta di desa-desa sekitarnya di Provinsi Ouaddaï, dan di Tiné, Provinsi Wadi Fira. Tim menyediakan layanan medis darurat dan mendukung fasilitas kesehatan yang melayani baik komunitas pengungsi maupun masyarakat setempat.


    Dukung pekerjaan kemanusiaan kami

    Bantu kami menyediakan perawatan medis penyelamat nyawa selama keadaan darurat dengan berdonasi hari ini.


    Categories