Kiribati: Respons Bersama Sektor Kemanusiaan, Swasta, dan Publik terhadap Pengelolaan Limbah Layanan Kesehatan
Sebuah klinik di pulau terpencil dengan bangunan semen satu lantai yang juga menjadi tempat staf medis Doctors Without Borders bekerja. Doctors Without Border mendukung perawat dan bidan setempat dengan pelatihan dan perawatan pasien. Tanpa air mengalir atau toilet, pengelolaan limbah tetap menjadi salah satu tantangan kesehatan utama. Kiribati, 2025 © Pratistha Koirala/MSF
Wilayah daratan Kiribati yang terbatas, terfragmentasi (terpencar-pencar), dan berupa dataran rendah menciptakan kendala yang rumit bagi pengelolaan limbah layanan kesehatan. Lahan yang cocok tergolong langka, hanya ada sedikit pilihan aman untuk pengolahan, penyimpanan, pembuangan, atau isolasi jangka panjang limbah medis berbahaya - terutama dengan cara yang penanganan sampah yang memastikan agar tetap terpisah dari masyarakat, sumber air, dan ekosistem pesisir yang rapuh.
Dengan pilihan pembuangan yang terbatas, sebagian besar limbah yang masuk ke Kiribati akan tetap berada di sana. Seiring berjalannya waktu, akumulasi dan pembuangan limbah medis, khususnya di Rumah Sakit Pusat Tungaru di Tarawa, telah memberikan tekanan besar pada sistem yang ada saat ini.
Kiribati adalah sebuah negara kepulauan kecil di Pasifik tengah, yang terdiri dari 33 pulau karang dataran rendah berbentuk cincin (disebut sebagai ‘atol’). Total luas daratannya hanya sekitar 800 kilometer persegi—sedikit lebih besar dari Singapura—tetapi wilayah daratan tersebut tersebar di sekitar 3,5 juta kilometer persegi lautan. Sebagian besar wilayah negara ini hanya berada beberapa meter di atas permukaan laut, menyebabkan masyarakat dan infrastrukturnya rentan terhadap lonjakan pasang surut, banjir pesisir, erosi, dan tekanan terkait iklim lainnya.
Ketika limbah medis tidak dikelola secara efektif, hal itu dapat menimbulkan konsekuensi negatif bagi masyarakat, berkontribusi pada kerusakan lingkungan termasuk kontaminasi tanah, polutan udara beracun, dan gangguan ekosistem.Peter Clausen, Kepala Misi Doctors Without Borders di Kiribati
Proyek Pengelolaan Limbah Layanan Kesehatan Kiribati ini merepresentasikan pendekatan lintas sektor yang terintegrasi, yang mempertemukan keahlian teknis pemerintah, kemanusiaan, dan sektor swasta untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat dan lingkungan yang kompleks. Proyek ini dirancang tidak hanya untuk merespons kebutuhan mendesak Kiribati, tetapi juga untuk menawarkan model praktis yang dapat direplikasi bagi negara-negara kepulauan lain yang menghadapi tantangan serupa.
"Negara-negara seperti Kiribati memikul beban yang tidak proporsional akibat tekanan limbah dan iklim yang berasal dari luar perbatasan mereka. Kami tidak sedang menyelesaikan masalah global itu. Apa yang kami lakukan adalah membangun sistem pengelolaan limbah yang berfungsi, patuh aturan, dan dirancang untuk bertahan lama," kata Sebastian Frisch, salah satu pendiri BlackForest Solutions.
Dengan memperkuat sistem pengelolaan limbah layanan kesehatan, inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi risiko bagi kesehatan manusia, melindungi lingkungan pulau yang rapuh, serta mendukung sistem pengelolaan limbah layanan kesehatan yang patuh hukum dan berkelanjutan bagi masyarakat Kiribati.
Insinerator dan tempat sampah (kuning) yang didukung oleh berbagai organisasi internasional di sebuah rumah sakit di Tarawa. Pengelolaan limbah adalah masalah serius yang dihadapi negara kepulauan ini dan menjadi salah satu perhatian utama pemerintah Kiribati. Kiribati, 2025 © Pratistha Koirala/MSF
Tantangan ini Tidak Hanya Terjadi di Kiribati
Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) telah mengidentifikasi bahwa Negara-Negara Berkembang Kepulauan Kecil (Small Island Developing States atau SIDS) di seluruh Pasifik menghadapi kendala yang sama: keterbatasan lahan, kerentanan iklim, dan infrastruktur limbah yang tidak sebanding dengan pertumbuhan kebutuhan.
Pemerintah Kiribati, dalam kemitraan dengan Doctors Without Borders dan didukung oleh BFS, kini memberikan respons langsung terhadap tantangan ini: sebuah proyek pengelolaan limbah layanan kesehatan yang komprehensif di rumah sakit rujukan nasional negara tersebut.
Inisiatif ini bertujuan untuk membangun sistem yang berkelanjutan, patuh hukum, dan efektif yang selaras dengan standar internasional, termasuk Konvensi Basel tentang limbah berbahaya.
Proyek ini terdiri dari tiga fase:
- Pemindahan limbah medis berbahaya sisa masa lalu secara aman melalui proses yang disebut Pengiriman Lintas Batas (TFS) di bawah Konvensi Basel—perjanjian internasional yang mengatur pergerakan limbah berbahaya lintas batas—untuk pengolahan dan pembuangan yang patuh hukum di luar negeri.
- Perbaikan infrastruktur dan praktik operasional di Rumah Sakit Pusat Tungaru, termasuk peningkatan pemilahan limbah, pembaruan proses insinerasi, dan pelatihan bagi petugas kesehatan setempat dengan tujuan mengembangkan sistem pengelolaan limbah sirkular jangka panjang.
- Perancangan dan penerapan sistem Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (Extended Producer Responsibility atau EPR) guna menyediakan mekanisme pembiayaan yang berkelanjutan untuk pengelolaan limbah layanan kesehatan yang berkelanjutan.
Tentang proyek
Doctors Without Borders, dalam kemitraan dengan pakar pengelolaan limbah internasional Black Forest Solutions (BFS), dan Pemerintah Kiribati, menjalankan proyek pengelolaan limbah layanan kesehatan di Kiribati untuk memperkuat praktik limbah yang aman dan berkelanjutan serta melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Selain itu, Doctors Without Borders juga menjalankan proyek layanan kesehatan yang sensitif terhadap iklim di Kiribati dalam kemitraan dengan Kementerian Kesehatan dan Layanan Medis, guna menangani penyakit tidak menular (khususnya pada perempuan dan anak-anak), serta meningkatkan akses jangka panjang ke air bersih untuk mendukung kebutuhan kesehatan masyarakat.