Skip to main content
Darurat RD Kongo: Doctors Without Borders bersiap melakukan respons skala besar terhadap wabah Ebola Selengkapnya
    A woman walks through Daba Naira camp for internally displaced people in Tawila

    "Ada sesuatu yang ingin kusampaikan..."

    Bertahan di tengah krisis kekerasan seksual di Darfur

    Laporan ini mendokumentasikan kekerasan seksual yang meluas dan sistematis di sepanjang jalan, ladang, dan kamp pengungsian—baik di zona konflik akut maupun di wilayah yang jauh dari garis depan.

    Perempuan di Darfur, Sudan, menuntut perlindungan, perawatan, dan keadilan seiring berlanjutnya kekerasan seksual

    Kekerasan seksual telah menjadi ciri khas konflik di Sudan. Skala kehancuran yang menimpa warga sipil di Darfur sulit untuk dibayangkan, namun hal ini terjadi dalam sejarah panjang siklus kekerasan dan kekejaman yang berulang. Dalam konteks saat ini, dampak kekerasan seksual sangatlah mendalam. Meninggalkan luka batin yang harus ditanggung oleh individu, keluarga, dan komunitas selama puluhan tahun. Para penyintas sering kali terpaksa memikul beban trauma yang sangat berat dalam keheningan dan isolasi, di tengah lingkungan yang menawarkan sedikit perlindungan dan hampir tidak ada pertanggungjawaban hukum.

    Kesaksian mengenai kekerasan seksual di Darfur paling sering muncul selama pertempuran sengit, seringkali dilakukan berdasarkan garis etnis sebagai bentuk hukuman kolektif—bagian dari pola kekejaman yang lebih luas terhadap warga sipil. Namun, di bawah bayang-bayang konflik yang berkepanjangan, perempuan dan anak perempuan terus menghadapi kekerasan seksual sebagai kenyataan rutin yang tak terelakkan bahkan setelah pertempuran mereda: di jalanan, pasar, ladang, rumah mereka, hingga selama masa pengungsian. Persistensi ini mencerminkan lingkungan yang dibentuk oleh konflik bertahun-tahun dengan ketimpangan gender sistemik yang mengakar, yang pada akhirnya memicu impunitas bagi para pelaku yang bertindak tanpa rasa takut akan konsekuensi.

    Terlepas dari skala dan tingkat keparahan krisis ini, sangat sedikit inisiatif yang ada untuk melindungi penyintas, mendukung pemulihan mereka, atau mencegah penyalahgunaan lebih lanjut. Sistem kemanusiaan telah gagal secara mendasar dalam merespons atau memenuhi kebutuhan para penyintas. Pelaku bersenjata dari kalangan non-sipil terus melakukan pelecehan, sementara para penyintas dibiarkan tanpa perlindungan, keadilan, maupun dukungan yang berarti. Namun, meski menghadapi risiko besar dan hambatan yang luar biasa, banyak penyintas yang berani melangkah maju untuk mencari perawatan medis dan membagikan kisah mereka—sebuah bukti ketangguhan mereka dalam konteks yang dirancang untuk membungkam mereka.

    cover report of surviving the sexual violence crisis in darfur

    Laporan ini menyajikan dokumentasi paling komprehensif mengenai kekerasan seksual dalam perang Sudan, dengan testimoni penyintas dan data dari program medis Doctors Without Borders yang menyoroti pola pelecehan yang sistematis dan meluas secara jelas.

    Dukung kerja kami

    Dengan bantuan Anda, kami dapat terus memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh mereka dan orang-orang rentan lainnya yang terjebak dalam krisis.