Palestina: Doctors Without Borders terpaksa hentikan aktivitas di tengah serangan Israel yang kian gencar di Kota Gaza
Staf Doctors Without Borders memuat truk berisi tempat tidur dan perlengkapan sebelum mengevakuasi klinik kami di Kota Gaza. Palestina, 2025 © MSF
Serangan Israel yang tiada henti di Kota Gaza telah memaksa Doctors Without Borders/Médecins Sans Frontières (MSF) menghentikan sebagian besar aktivitas medisnya di wilayah tersebut. Situasi keamanan semakin memburuk akibat serangan udara dan pergerakan tank yang mendekati fasilitas kesehatan kami hingga kurang dari satu kilometer. Intensitas serangan pasukan Israel menciptakan risiko yang mustahil ditoleransi staf Doctors Without Borders, sehingga kami terpaksa menghentikan layanan medis penyelamatan nyawa.
Kami tidak punya pilihan selain menghentikan aktivitas kami karena klinik kami dikepung pasukan Israel. Ini adalah keputusan terakhir yang kami inginkan, mengingat kebutuhan di Kota Gaza sangat besar, terutama bagi kelompok paling rentan—bayi di perawatan neonatal, pasien dengan luka parah, serta mereka yang menderita penyakit mengancam nyawa—yang tidak bisa bergerak dan kini berada dalam bahaya serius.Jacob Granger, Koordinator Darurat
Meski sebagian orang telah mengungsi ke selatan sesuai perintah evakuasi, ratusan ribu warga masih terjebak di Kota Gaza. Mereka tidak punya pilihan selain bertahan, atau menghadapi dilema mustahil: tetap tinggal di tengah operasi militer intensif dengan kondisi hukum dan ketertiban yang memburuk, atau meninggalkan rumah, harta benda, dan kenangan mereka menuju daerah lain di mana kondisi kemanusiaan semakin memburuk.
Pada saat yang sama, rumah sakit yang masih berfungsi di seluruh Jalur Gaza kewalahan menghadapi kekurangan tenaga medis, pasokan, dan bahan bakar. Pasien kerap tiba terlambat dalam kondisi kritis, memperburuk peluang mereka untuk selamat.
Staf Doctors Without Borders membawa perabotan dan perlengkapan medis melewati halaman belakang klinik kami di Kota Gaza selama evakuasi. Palestina, 2025. © MSF
Hanya dalam sepekan terakhir, meskipun serangan semakin gencar, klinik-klinik Doctors Without Borders di Kota Gaza masih sempat melakukan lebih dari 3.640 konsultasi dan merawat 1.655 pasien malnutrisi. Kami juga menangani pasien dengan luka trauma parah, luka bakar, serta perempuan hamil yang membutuhkan perawatan medis berkelanjutan. Angka ini mencerminkan skala kebutuhan medis yang sangat besar. Walaupun Doctors Without Borders menghentikan sebagian aktivitas di Kota Gaza, kami tetap berkomitmen mendukung layanan utama di fasilitas Kementerian Kesehatan, termasuk Rumah Sakit Al Helou dan Al Shifa, selama keduanya masih beroperasi.
Sementara itu, akses terhadap air bersih, makanan, tempat tinggal, dan layanan kesehatan semakin dibatasi. Warga Kota Gaza terus-menerus dibombardir tanpa henti. Mereka kelelahan, kehilangan harapan, dan terputus dari kebutuhan dasar untuk bertahan hidup.
Doctors Without Borders mendesak penghentian segera kekerasan serta tindakan konkret berskala besar untuk melindungi warga sipil. Otoritas Israel harus menjamin akses tanpa hambatan dan keamanan bagi organisasi kemanusiaan, sekaligus menciptakan kondisi yang memungkinkan penyediaan layanan medis dan bantuan kemanusiaan yang aman serta berkelanjutan—sesuatu yang jelas tidak terjadi saat ini.
Doctors Without Borders di Gaza selatan
Di Gaza bagian selatan, tim Doctors Without Borders masih melanjutkan layanan medis darurat. Di Khan Younis, Doctors Without Borders mendukung Rumah Sakit Nasser dan membuka tiga pusat kesehatan primer. Di Wilayah Tengah, Doctors Without Borders membantu departemen gawat darurat dan klinik perawatan luka di Rumah Sakit Al-Aqsa, serta beroperasi di dua rumah sakit lapangan di Deir Al-Balah.