Skip to main content
Darurat RD Kongo: Doctors Without Borders bersiap melakukan respons skala besar terhadap wabah Ebola Selengkapnya

    "Inflicting Harm and Denying Care" Mengungkap Eskalasi Kekerasan dan Hambatan terhadap Layanan Kesehatan di Tepi Barat

    Doctors Without Borders staff visit the camp weekly to meet the residents and make assessments on their mental health in the West Bank.

    Tim Doctors Without Borders mengunjungi sebuah kamp setiap minggu untuk bertemu dengan para penghuni dan melakukan penilaian terhadap kesehatan mental mereka. Palestina, September 2024. © Alexandre Marcou/MSF

    Secara keseluruhan, sedikitnya 870 warga Palestina telah terbunuh dan lebih dari 7.100 lainnya terluka antara Oktober 2023 dan Januari 2025 (Sumber: OCHA, 31 Desember 2024). Laporan Doctors Without Borders berjudul "Inflicting Harm and Denying Care" menyoroti bahwa eskalasi kekerasan ini tidak hanya mengancam nyawa, tetapi juga sangat menghambat akses terhadap layanan kesehatan. Kekerasan ini merupakan bagian dari pola penindasan sistemik oleh Israel, yang menurut Mahkamah Internasional (International Court of Justice – ICJ), termasuk dalam praktik segregasi rasial dan apartheid.

    Laporan ini mencakup periode satu tahun, dari Oktober 2023 hingga Oktober 2024, dan berisi wawancara mendalam dengan 38 pasien, personel Doctors Without Borders, paramedis, staf rumah sakit, serta sukarelawan yang didukung Doctors Without Borders. Mereka melaporkan serangan militer Israel yang berkepanjangan dan penuh kekerasan, serta pembatasan pergerakan yang semakin ketat—semuanya sangat menghambat akses terhadap layanan penting, terutama layanan kesehatan.  Situasi semakin memburuk sejak gencatan senjata di Gaza, memperparah kondisi kehidupan yang sudah mengerikan bagi banyak warga Palestina, yang kini menanggung dampak fisik dan psikologis yang luar biasa.

    "Banyak pasien warga Palestina meninggal karena tidak dapat mencapai rumah sakit," ujar Brice de le Vingne, koordinator darurat Doctors Without Borders. "Kami menyaksikan ambulans dihalangi oleh pasukan Israel di pos pemeriksaan saat membawa pasien dalam kondisi kritis, fasilitas medis dikepung dan diserbu selama operasi militer, serta petugas kesehatan mengalami kekerasan fisik saat berupaya menyelamatkan nyawa."

    Jumlah serangan terhadap personel dan fasilitas medis terus meningkat, sebagaimana dilaporkan kepada tim Doctors Without Borders. Serangan ini mencakup penyerangan terhadap rumah sakit, penghancuran lokasi medis darurat di kamp-kamp pengungsi, serta pelecehan, penahanan, cedera, dan pembunuhan terhadap responden pertama serta tenaga medis oleh pasukan Israel. 

    Antara Oktober 2023 dan Desember 2024, WHO mencatat 694 serangan terhadap layanan kesehatan di Tepi Barat, dengan rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang kerap dikepung oleh pasukan militer. Para tenaga medis menyatakan bahwa mereka bekerja dalam kondisi yang semakin tidak aman, sering menghadapi pelecehan, penahanan, cedera, hingga ancaman kematian.

    "Pasukan Israel mengepung titik stabilisasi [di Tubas], menutup kedua pintu masuknya, meskipun jelas bahwa ini adalah fasilitas medis. Mereka memerintahkan semua paramedis untuk keluar. Ada sekitar 22 paramedis di dalamnya." 

    "Tentara Israel kemudian menembaki bagian dalam dan luar gedung, menghancurkan persediaan serta titik stabilisasi," ujar seorang petugas medis dari Bulan Sabit Merah Palestina yang didukung oleh Doctors Without Borders.

    Dalam situasi darurat medis, pembatasan pergerakan dapat berakibat fatal. Akses terhadap layanan kesehatan semakin terhambat akibat penghalangan dan penargetan ambulans, serta eskalasi serangan militer yang brutal. Serangan-serangan ini tidak hanya menyebabkan cedera dan kematian, tetapi juga menghancurkan infrastruktur sipil yang vital, termasuk jalan raya, fasilitas kesehatan, jaringan pipa air, dan sistem kelistrikan—terutama di kamp-kamp pengungsian Tulkarem dan Jenin. Di daerah terpencil dan pinggiran kota seperti Jenin dan Nablus, situasi semakin mengkhawatirkan. Pasien dengan kondisi kronis, seperti mereka yang membutuhkan perawatan dialisis rutin, terpaksa tetap tinggal di rumah karena hambatan yang tidak dapat diatasi untuk menjangkau layanan medis.

    Selain serangan militer yang terus berlanjut, kekerasan dari pemukim Israel serta ekspansi permukiman yang semakin luas semakin memperburuk kondisi. Banyak warga Palestina kini hidup dalam ketakutan untuk bergerak melintasi Tepi Barat OCHA mencatat sebanyak 1.500 serangan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina antara Oktober 2023 dan 2024.

    Sebagai negara pendudukan, Israel memiliki kewajiban hukum internasional untuk menjamin akses terhadap layanan kesehatan dan melindungi tenaga medis. Namun, sistem perawatan kesehatan di Tepi Barat terus berada di bawah tekanan berat dan dipaksa beroperasi dalam kondisi darurat yang berkepanjangan. 

    Doctors Without Borders menyerukan kepada Israel untuk menghentikan kekerasan terhadap petugas kesehatan, pasien, serta fasilitas medis, dan agar tidak lagi menghalangi tenaga medis dalam menjalankan tugas penyelamatan nyawa.

    Categories