Skip to main content
Darurat RD Kongo: Doctors Without Borders bersiap melakukan respons skala besar terhadap wabah Ebola Selengkapnya
    Darurat

    Gaza: Surat terbuka Doctors Without Borders kepada pemerintah Uni Eropa

    MSF red line stunt

    Doctors Without Borders membentuk garis merah di jantung kota Jenewa — sebuah aksi simbolis yang menekankan an prinsip yang tidak dapat dinegosiasikan dalam aksi kemanusiaan: Bantuan tidak boleh dimiliterisasi.

    Dengan latar belakang Jenewa Internasional, aksi ini bertujuan untuk mengingatkan tentang meningkatnya instrumentalisasi bantuan kemanusiaan di Gaza, di mana akses ditolak, bantuan dimiliterisasi, dan prinsip dasar Hukum Humaniter Internasional yang kini sedang terkikis. Swiss, 2025. © MSF

    Yang Terhormat Presiden Komisi Uni Eropa, Yang Terhormat Presiden Dewan Uni Eropa, Yang Terhormat Presiden Parlemen Uni Eropa, Yang Terhormat Para Pemimpin Uni Eropa,

    Perang di Gaza telah dibiarkan berlangsung dan menjadi salah satu perang paling mengerikan, mematikan, dan brutal yang pernah dilancarkan  terhadap suatu bangsa. Rumah-rumah, rumah sakit, pasar, jaringan air, jalan, dan jaringan listrik di Gaza telah dihancurkan oleh pasukan Israel—bukan karena kelalaian, melainkan secara sengaja. Apa yang kita saksikan adalah penghancuran terencana terhadap sistem-sistem yang menopang kehidupan. Ini adalah pembersihan etnis, dibungkus dengan retorika keamanan, namun dijalankan dengan mengabaikan sepenuhnya Hukum Humaniter Internasional dan Hak Asasi Manusia . 

    Kejahatan yang terjadi setiap hari di Gaza tidak berlangsung dalam kegelapan. Ia terjadi di hadapan mata dunia. Kekejamannya terang-terangan. 

    Selama lebih dari 20 bulan, otoritas dan pasukan Israel telah melakukan aksi-aksi kekerasan terhadap warga Palestina di Gaza. Setiap hari, tim Doctors Without Borders/Médecins Sans Frontières (MSF) menyaksikan pola-pola yang sesuai dengan definisi genosida melalui tindakan-tindakan terencana oleh pasukan Israel—termasuk pembunuhan massal, penghancuran infrastruktur sipil penting, dan blokade yang mencegah akses terhadap makanan, air, obat-obatan, serta bantuan kemanusiaan penting lainnya. Israel secara sistematis menghancurkan kondisi-kondisi yang diperlukan bagi kehidupan rakyat Palestina.

    Survei mortalitas retrospektif yang dilakukan Doctors Without Borders bersama divisi epidemiologi kami, Epicentre, menunjukkan bahwa hampir dua persen staf Doctors Without Borders di Gaza dan anggota keluarga mereka telah meninggal sejak 7 Oktober 2023. Tiga perempat dari mereka meninggal akibat luka-luka perang. Angka ini sejalan dengan data Kementerian Kesehatan Gaza yang menyebutkan 55.000 orang tewas di seluruh Gaza hingga 4 Juni tahun ini. Dalam survei Doctors Without Borders, 40 persen dari korban luka-luka yang meninggal dunia berusia di bawah sepuluh tahun. Pengabaian terhadap nyawa warga sipil ini menegaskan bahwa perang yang dijalankan Israel di Gaza menyasar seluruh rakyat Palestina.

    Pada 11 Juni, klinik Al Mawasi yang didukung Doctors Without Borders menerima 32 korban luka, termasuk tiga orang yang meninggal saat tiba. Mereka tertembak dalam perjalanan menuju lokasi distribusi makanan yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF). 

    Ini bukanlah insiden tunggal. 

    Tiga hari sebelumnya, tim kami di Rumah Sakit Nasser menerima 40 pasien, sebagian besar mengalami luka tembak. Rumah sakit ini merupakan fasilitas rujukan utama bagi ribuan pasien di Gaza bagian selatan dan kini nyaris tidak mampu beroperasi akibat perintah evakuasi berulang serta pembatasan pergerakan bagi staf dan pasien. Organisasi kemanusiaan telah mendirikan rumah sakit darurat untuk mengisi kekosongan, tetapi sama sekali tidak dapat menggantikan rumah sakit reguler. Dalam beberapa minggu terakhir, tim Doctors Without Borders telah merawat lebih dari 500 pasien yang membutuhkan perawatan medis di rumah sakit tersebut, sekaligus membantu staf medis setempat dalam menangani gelombang korban massal yang terus berdatangan akibat serangan bom dan serangan berulang lainnya. 

    Gaza Humanitarian Foundation (GHF) mulai menjalankan aktivitasnya pada 27 Mei sebagai bagian dari rencana Amerika Serikat-Israel untuk memanipulasi bantuan. Sejak saat itu, ratusan warga Palestina telah dirawat di rumah sakit, dan puluhan lainnya tewas setelah ditembak di lokasi distribusi bantuan saat sedang menunggu untuk menerima kebutuhan dasar demi bertahan hidup. Seorang rekan kami di Gaza menyaksikan bahwa sebagian orang kembali dari lokasi distribusi membawa kantong tepung; yang lainnya membawa kain kafan. 

    Bantuan kemanusiaan telah dijadikan senjata. Bantuan digunakan sebagai alat untuk mendorong pengungsian paksa, mencapai tujuan militer, atau diblokir sepenuhnya. Padahal bantuan bukanlah alat tawar-menawar— bantuan adalah tali penyelamat. Menolaknya sama dengan menjatuhkan hukuman kolektif, yang merupakan kejahatan perang.

    Bantuan kemanusiaan telah dijadikan senjata. Bantuan digunakan sebagai alat untuk mendorong pengungsian paksa, mencapai tujuan militer, atau diblokir sepenuhnya. Padahal bantuan bukanlah alat tawar-menawar— bantuan adalah tali penyelamat. Menolaknya sama dengan menjatuhkan hukuman kolektif, yang merupakan kejahatan perang.
    People line up to buy food in Gaza

    Orang-orang mengantre untuk membeli makanan di Gaza. Blokade total telah menghentikan semua masuknya makanan ke Jalur Gaza. Palestina, 2023 © MSF.

    Sejak Oktober 2023, layanan kesehatan di Gaza terus menjadi sasaran serangan. Staf Doctors Without Borders dan para pasien terpaksa meninggalkan setidaknya 18 fasilitas kesehatan, serta mengalami lebih dari 50 insiden kekerasan—termasuk serangan udara terhadap rumah sakit, tembakan meriam tank ke tempat perlindungan yang telah disepakati, serangan darat terhadap pusat medis, dan serangan terhadap konvoi medis.  Sebelas rekan kami tewas. Kami tidak sendirian dalam mengalami hal ini; serangan-serangan ini terjadi terhadap seluruh aspek kemanusiaan.  Ini mencerminkan pengabaian sistematis terhadap Hukum Humaniter Internasional (International Humanitarian Law/IHL), termasuk Resolusi Dewan Keamanan PBB 2286 mengenai perlindungan misi medis.

    Doctors Without Borders, seperti banyak organisasi kemanusiaan lainnya, telah berulang kali menyerukan gencatan senjata segera dan tanpa syarat, akses kemanusiaan yang tidak terhalang, serta penghormatan terhadap IHL—termasuk terhadap fasilitas dan personel medis—oleh semua pihak, termasuk Hamas. Namun, serangan militer terhadap rakyat yang terkepung terus berlanjut dan semakin brutal dari hari ke hari

    Uni Eropa dan pemerintah-pemerintah anggotanya memiliki sarana politik, ekonomi, dan diplomatik yang mampu memberikan tekanan nyata kepada Israel untuk menghentikan agresi dan membuka perbatasan Gaza agar bantuan kemanusiaan dapat masuk tanpa hambatan. Ini bukanlah konsep teoretis; sarana-sarana tersebut dapat dimobilisasi secara efektif untuk menegakkan hukum internasional dan melindungi warga sipil. 

    Uni Eropa dan banyak pemimpinnya baru-baru ini menyatakan kecaman terhadap Israel. Namun, pernyataan-pernyataan tersebut terdengar hampa karena tidak diiringi dengan tindakan nyata yang diperlukan untuk menghentikan pembantaian. Lebih dari itu, mereka secara munafik tetap memasok senjata kepada Israel, senjata yang digunakan untuk membunuh, membakar, atau menyebabkan luka permanen pada orang-orang yang akhirnya dirawat di rumah sakit kami. Ini harus dihentikan.

    Tidak ada lagi ruang untuk keraguan dan standar ganda yang tidak manusiawi. Kata-kata dan tindakan Anda sedang diuji—ini adalah ujian atas kredibilitas dan kepemimpinan Anda. Momen ini akan menentukan warisan Anda, dan menjawab pertanyaan apakah hukum yang dirancang untuk melindungi warga sipil dalam perang masih memiliki arti apa pun. Diperlukan keberanian politik, tanggung jawab hukum, dan komitmen moral. Skala penderitaan di Gaza menuntut lebih dari sekadar retorika kosong. 

    Setiap penundaan, setiap sikap ambigu, dan setiap kebijakan yang membiarkan mesin kehancuran terus beroperasi tanpa konsekuensi adalah bentuk keterlibatan. 

    Kami mendesak Uni Eropa dan 27 negara anggotanya untuk bertindak tegas dan segera menggunakan seluruh pengaruh yang mereka miliki terhadap Israel guna:

    MENCABUT BLOKADE

    Memblokir bantuan penyelamat nyawa bukanlah tindakan keamanan yang sah—itu adalah kejahatan perang. Klaim mengenai penyalahgunaan bantuan tidak dapat dijadikan pembenaran untuk menahan bantuan bagi lebih dari dua juta jiwa. Ini adalah bentuk hukuman kolektif. Setiap penundaan berarti ada nyawa yang melayang. 

    MELINDUNGI TINDAKAN KEMANUSIAAN

    Menolak segala mekanisme yang memanipulasi bantuan atau menjadikan bantuan kemanusiaan sebagai alat tawar-menawar. Distribusi bantuan harus sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan kemanusiaan. Kebijakan yang menundukkan bantuan kepada strategi militer bukan hanya sinis, tetapi juga mematikan. 

    MELAKUKAN TINDAKAN, BUKAN HANYA KATA-KATA

    Banyak pemerintah Eropa telah mengecam kekejaman luar biasa yang dilakukan Israel di Gaza. Namun, mereka tetap memasok senjata yang digunakan untuk membunuh para pasien dan rekan kerja kami. Pemerintah harus mengakhiri keterlibatan mereka dalam kampanye pembersihan etnis ini.

    MEMPERCEPAT EVAKUASI MEDIS

    Saat ini, sekitar 13.000 orang—termasuk lebih dari 4.500 anak-anak—masih membutuhkan evakuasi medis darurat , dengan jaminan hak untuk kembali. Namun, meskipun ada kebutuhan mendesak dan kapasitas yang dimiliki Uni Eropa, hanya beberapa ratus pasien yang sejauh ini diterima oleh negara-negara anggotanya. Negara-negara anggota harus berbuat lebih banyak untuk membuktikan bahwa solidaritas bukan sekedar janji.

    Anda dapat dan harus bertindak sekarang. 

    Hormat kami,

    Dr. Christos Christou, Presiden Internasional Doctors Without Borders
    Christopher Lockyear, Sekretaris Jenderal Doctors Without Borders Internasional


     

    Categories