Doctors Without Borders Menangani Krisis di Republik Demokratik Kongo (RDK)
Kabar Terbaru
Gelombang korban luka terus berdatangan ke Rumah Sakit Kyeshero di Goma, Republik Demokratik Kongo (RDK). Tim Doctors Without Borders bekerja tanpa henti merawat mereka yang terluka akibat bentrokan bersenjata dan kekacauan yang melanda kota dalam beberapa hari terakhir. Kami mendesak akses kemanusiaan agar para korban dapat menerima perawatan medis yang mereka butuhkan.
Apa yang Perlu Diketahui tentang Konflik Bersenjata di Kivu Utara dan Kivu Selatan?
Bentrokan antara kelompok-kelompok bersenjata dan sekutunya di Republik Demokratik Kongo (RDK) telah berlangsung sejak akhir 2021. Namun, sejak Desember 2024, konflik di provinsi Kivu Utara, bagian timur RDK, semakin meningkat, terutama antara kelompok bersenjata M23/Aliansi Fleuve Congo (AFC) dan tentara Kongo yang didukung oleh pasukan sekutu.
Ketegangan ini kini meluas ke provinsi Kivu Selatan, mendekati wilayah permukiman penduduk sipil. Bahkan, garis depan pertempuran telah mencapai Goma, ibu kota Kivu Utara. Akibatnya, sekitar 650.000 orang mengungsi ke kamp-kamp darurat, bergabung dengan sekitar 2 juta penduduk lainnya yang sudah berada di wilayah tersebut.
Bagaimana Krisis di Republik Demokratik Kongo Berdampak pada Masyarakat?
Konflik yang berkecamuk telah memaksa ratusan ribu orang mengungsi, semakin memperburuk krisis kemanusiaan dan kesehatan di bagian timur Republik Demokratik Kongo (RDK). Menurut PBB, sejak Januari, ratusan ribu orang telah kehilangan tempat tinggal.
Puluhan ribu pengungsi kini menuju lokasi pengungsian di sekitar Goma. Di sana, lebih dari 650.000 orang bertahan hidup tanpa tempat tinggal yang layak serta mengalami kekurangan makanan, air bersih, dan layanan kesehatan. Kondisi ini juga meningkatkan risiko wabah penyakit, seperti kolera, akibat buruknya sanitasi.
Doctors Without Borders juga mencatat tingginya kasus kekerasan seksual. Laporan We Are Calling for Help menunjukkan bahwa pada 2023, sebanyak 91% korban kekerasan seksual yang menerima perawatan dari Doctors Without Borders di RDK berasal dari provinsi Kivu Utara, pusat bentrokan antara kelompok bersenjata dan sekutunya sejak akhir 2021.
Dampak pertempuran ini terhadap penduduk sipil sangat besar. Selain korban luka dan tewas, kami menerima laporan yang sangat menyedihkan dari kamp-kamp pengungsian yang tidak dapat diakses lagi oleh tim kami. Di lokasi pengungsian Kanyaruchinya, pusat kesehatan yang kami dukung masih beroperasi, tetapi tim kami menyaksikan dua anak meninggal minggu ini karena mereka tidak bisa dipindahkan ke rumah sakit mana pun.Stephan Goetghebuer, Kepala Program
Peta proyek rutin dan darurat Doctors Without Borders di Kivu Utara dan Selatan, DRC.
Apa Tanggapan Doctors Without Borders terhadap Krisis Ini?
Meskipun konflik masih berlangsung, tim Doctors Without Borders terus memberikan bantuan medis melalui proyek reguler maupun tanggap darurat di Republik Demokratik Kongo (RDK).
Pada tahap ini, prioritas kami di Kivu Utara dan Kivu Selatan adalah merawat korban luka serta mencegah wabah kolera, yang menjadi ancaman akibat keterbatasan akses air bersih, buruknya sanitasi, dan gelombang pengungsian. Tim kami telah menjalankan berbagai upaya, antara lain:
- Mendukung rumah sakit dalam merawat korban luka.
- Mengumpulkan dan mendistribusikan kantong darah ke rumah sakit yang kekurangan pasokan.
- Kembali ke beberapa lokasi pengungsian untuk membantu pusat-pusat kesehatan setempat.
- Memperluas atau membangun kembali unit perawatan kolera dan klinik khusus bagi penyintas kekerasan seksual.
- Menyediakan makanan, air, dan bahan bakar untuk stasiun pompa air.
- Memperbaiki sanitasi dengan mengosongkan jamban serta memasang fasilitas cuci tangan.
Tim Doctors Without Borders terus memantau situasi dan mencari cara untuk meningkatkan upaya darurat kami dalam menanggapi kebutuhan kemanusiaan, mengingat dampaknya yang sangat besar terhadap masyarakat.