Sudan Selatan: Doctors Without Borders menangguhkan kegiatan di dua kabupaten setelah penculikan staf
Mobil-mobil Doctors Without Borders mengangkut pasokan dan tim dalam perjalanan menuju klinik keliling di Kabupaten Morobo, Khatulistiwa Tengah. Sudan Selatan, 2023 © Manon Massiat/MSF.
Doctors Without Borders/Médecins Sans Frontières (MSF) telah menangguhkan semua kegiatan operasional di Kabupaten Yei River dan Morobo di Sudan Selatan menyusul insiden penculikan seorang stafnya yang terjadi hanya empat hari setelah penculikan staf kementerian kesehatan.
Doctors Without Borders telah menangguhkan semua kegiatan operasional di Kabupaten Yei River dan Morobo, Negara Bagian Khatulistiwa Tengah, Sudan Selatan, selama minimal enam minggu. Penangguhan ini dilakukan menyusul insiden penculikan seorang stafnya. Insiden ini terjadi hanya empat hari setelah penculikan staf kementerian kesehatan dari ambulans Doctors Without Borders di lokasi dan jalan yang sama.
Insiden ini terjadi saat staf Doctors Without Borders sedang mengevakuasi stafnya dari Morobo ke Yei karena kondisi keamanan yang memburuk. Konvoi empat kendaraan mereka dihentikan oleh pria bersenjata. Pria bersenjata itu memerintahkan ketua tim konvoi untuk keluar dari kendaraan dan membawanya ke semak-semak. Sementara itu, kendaraan dan staf lainnya diizinkan melanjutkan perjalanan ke Yei. Beruntung, rekan mereka dibebaskan beberapa jam kemudian.
Dr. Ferdinand Atte, Kepala Misi Doctors Without Borders di Sudan Selatan, menyatakan, "Kami sangat marah dengan serangan yang ditargetkan ini. Serangan terhadap pekerja kemanusiaan, yang melayani masyarakat paling rentan, harus dihentikan." Ia menambahkan, "Meskipun kami sangat berkomitmen untuk memberikan perawatan, kami tidak dapat membiarkan staf kami bekerja di lingkungan yang tidak aman."
Penculikan ini merupakan bagian dari tren kekerasan yang mengkhawatirkan terhadap petugas kesehatan dan pekerja bantuan di dua kabupaten ini. Hanya dalam tiga bulan, telah terjadi beberapa insiden kekerasan yang menargetkan pekerja bantuan dan fasilitas kesehatan di Morobo. Insiden-insiden tersebut termasuk penculikan, pembakaran, penjarahan rumah sakit secara brutal, dan perusakan infrastruktur medis. Dari insiden tersebut, tujuh di antaranya melibatkan penculikan pekerja bantuan.
Kami sangat marah dengan serangan yang ditargetkan ini. Serangan terhadap pekerja kemanusiaan, yang melayani masyarakat paling rentan, harus dihentikan. Meskipun kami sangat berkomitmen untuk memberikan perawatan, kami tidak dapat membiarkan staf kami bekerja di lingkungan yang tidak aman.Dr. Ferdinand Atte, Kepala Misi
"Kami menuntut pertanggungjawaban dan jaminan konkret dari pihak berwenang dan semua pihak yang terlibat dalam konflik, termasuk kelompok bersenjata di Kabupaten Morobo dan Yei River," tambah Dr. Ferdinand. "Sangat penting untuk memastikan akses yang aman dan tidak terhalang bagi masyarakat yang membutuhkan. Kami juga meminta perlindungan bagi warga sipil dan infrastruktur sipil, termasuk petugas kesehatan, pasien, dan fasilitas medis, sebelum kami dapat mempertimbangkan untuk melanjutkan kegiatan kami."
Penduduk di Kabupaten Yei River dan Morobo tinggal di daerah terpencil dan sulit dijangkau. Mereka sering kali terputus dari layanan penting akibat infrastruktur yang terbatas dan konflik bersenjata. Oleh karena itu, mereka sangat bergantung pada organisasi kemanusiaan sepert Doctors Without Borders untuk mendapatkan layanan penting.
Ini adalah kedua kalinya Doctors Without Borders terpaksa mengurangi penyediaan layanan medis di daerah tersebut dalam waktu kurang dari tiga bulan. Pada bulan Mei, mereka sudah mengurangi kegiatan karena meningkatnya ketidakamanan di Morobo. Kekerasan yang tidak henti-hentinya di kabupaten tersebut juga memaksa mereka menangguhkan semua kegiatan di kamp-kamp pengungsi internal. Kini, Doctors Without Borders kembali mengambil keputusan sulit untuk menangguhkan semua kegiatan di kedua kabupaten tersebut hingga pemberitahuan lebih lanjut. Situasi ini menambah daftar proyek dan fasilitas kesehatan yang harus ditutup Doctors Without Borders tahun ini akibat berbagai serangan.
"Doctors Without Borders adalah salah satu dari sedikit organisasi medis yang memberikan dukungan kepada berbagai fasilitas kesehatan di daerah ini. Ketika serangan semacam itu terjadi, masyarakat setempat lah yang paling menderita karena akses mereka ke layanan kesehatan penting jadi sangat terganggu," tambah Dr. Ferdinand.
Di Kabupaten Yei River dan Morobo, Doctors Without Borders menyediakan layanan kesehatan primer dengan mendukung empat fasilitas milik Kementerian Kesehatan. Layanan yang ditawarkan meliputi konsultasi rawat jalan, vaksinasi rutin, dan perawatan kesehatan ibu dan anak. Selain itu, Doctors Without Borders juga mengadakan klinik keliling dan mendukung layanan kesehatan berbasis masyarakat melalui program Boma Health Initiative. Antara Januari dan Juni 2025, mereka telah melakukan 14.500 konsultasi rawat jalan, 1.192 konsultasi antenatal, dan membantu 438 persalinan.
Serangan terhadap layanan kesehatan di Sudan Selatan pada tahun 2025
Sejak awal tahun, Doctors Without Borders telah menyaksikan peningkatan serangan yang mengkhawatirkan terhadap petugas dan fasilitas kesehatan di Sudan Selatan.
- Pada bulan Januari, dua perahu Doctors Without Borders yang ditandai dengan jelas diserang saat melakukan perjalanan dari Nasir ke Ulang di negara bagian Upper Nile. Pria bersenjata tak dikenal melepaskan tembakan, memaksa staf di dalamnya melompat ke sungai dan berenang ke desa terdekat untuk menyelamatkan diri. Satu anggota staf menderita luka saat melarikan diri dan harus menerima perawatan medis.
- Pada 14 April 2025, rumah sakit Doctors Without Borders di Ulang dijarah secara kejam oleh pria bersenjata di siang bolong. Mereka menghancurkan properti serta mengancam pasien dan staf. Serangan ini menyebabkan rumah sakit dan layanan penjangkauannya ditutup total. Sebagai satu-satunya rumah sakit yang berfungsi di kabupaten tersebut, penutupannya membawa konsekuensi buruk bagi penduduk. Lebih dari 150.000 orang kini tidak memiliki akses ke perawatan medis yang menyelamatkan jiwa.
- Pada 3 Mei, rumah sakit Doctors Without Borders di Old Fangak, negara bagian Jonglei, dibom oleh dua helikopter tempur. Serangan ini menghancurkan apotek dan sumber daya medis vital, sehingga layanan medis di fasilitas tersebut tidak bisa lagi diberikan. Helikopter juga menembaki masyarakat, menewaskan setidaknya tujuh orang dan melukai 27 lainnya, termasuk empat staf Doctors Without Borders.