Skip to main content
Darurat RD Kongo: Doctors Without Borders bersiap melakukan respons skala besar terhadap wabah Ebola Selengkapnya

    Myanmar: Serangan udara hancurkan rumah sakit di Mrauk-U, Negara Bagian Rakhine

    Doctors Without Borders flag. © iAko M. Randrianarivelo/Mira Photo

    “Sangat sulit mengungkapkan betapa marahnya Doctors Without Borders atas serangan terhadap salah satu dari sedikit fasilitas medis yang masih berfungsi di wilayah tersebut. Pemboman fasilitas kesehatan dan tewasnya pasien di ranjang mereka tidak dapat dianggap sebagai kerusakan tidak langsung di zona konflik. Rumah sakit harus tetap menjadi tempat aman bagi pasien untuk menerima perawatan medis,” ujar Paul Brockmann, Manajer Operasi Doctors Without Borders untuk Myanmar, Bangladesh, dan Malaysia.

    “Kami berduka atas meninggalnya para pasien di rumah sakit yang telah kami dukung selama bertahun-tahun, dan kami menyatakan solidaritas kepada rekan-rekan yang telah bekerja bersama kami. Penghancuran salah satu dari sedikit rumah sakit yang masih beroperasi di Rakhine Tengah akan semakin menyulitkan akses terhadap layanan kesehatan, termasuk layanan yang menyelamatkan nyawa, bagi warga sipil yang terjebak dalam konflik.” 

    Pemboman fasilitas kesehatan dan tewasnya pasien di ranjang mereka tidak dapat dianggap sebagai kerusakan tidak langsung di zona konflik. Rumah sakit harus tetap menjadi tempat aman bagi pasien untuk menerima perawatan medis.
    Paul Brockmann, Manajer Operasi

    “Di Rakhine, akses terhadap layanan kesehatan telah menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir akibat konflik yang terus berlangsung. Banyak fasilitas medis telah rusak, dan banyak tenaga medis terpaksa mengungsi karena kekerasan yang terus berlanjut. Pola yang sama terlihat di berbagai wilayah Myanmar—negara ini menempati peringkat keempat dalam serangan terhadap layanan kesehatan pada tahun 2024”.

    “Sebagai organisasi kemanusiaan medis internasional dan netral, kami mendesak semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk mematuhi prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional. Warga sipil dan fasilitas medis harus dilindungi tanpa pengecualian di tengah meningkatnya kekerasan,” tambah Brockmann.

    Doctors Without Borders di Rakhine

    Doctors Without Borders mulai bekerja di Rakhine pada 1994 dan mulai memberikan dukungan kepada rumah sakit di Mrauk-U pada 2021, dengan fokus pada layanan kesehatan primer, kesehatan seksual dan reproduksi, kesehatan mental, rujukan darurat, serta pengobatan penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi. Pada 2024, Doctors Without Borders terpaksa menghentikan sebagian besar operasinya di Rakhine akibat eskalasi konflik, dan saat ini hanya beroperasi secara terbatas di Sittwe.


    Berlangganan buletin elektronik kami

    Dapatkan kabar cerita dan berita terbaru kami, atau baca tentang staf dan pasien kami.


    Categories